Sat, 13 Apr 2024
Ceritakanaja / Mar 15, 2023

Menyesal Berharap Segera Dewasa

Saat kecil dulu, kalian pasti pernah bertanya. Kapan aku akan jadi dewasa? Kapan aku akan seperti kakak-kakak di seberang jalan itu. Menjadi anak kecil memang begitu merepotkan, sehingga kami berharap segera tumbuh besar. 

Kami harus sekolah, mengaji dan belajar. Baru main sebentar, sudah dipanggil ibu disuruh tidur siang. Malam harinya, kami ingin tidur awal. Ibu mengingatkan untuk mengerjakan pr karena besok pagi langsung dikumpulkan. 

Bila tidak mengerjakan, akan mendapatkan hukuman. Kami masih belia saat itu, tapi hukuman bagi kami tak kalah mengerikannya. Pipi aku dicubit dan diangkat ke udara sampai memerah bahkan beberapa dari kami berkaca-kaca. 

Kami pernah disuruh untuk hormat pada bendera jam dua belas siang dan nyaris pingsan karena kepanasan. Kami juga dimarahi karena tak menangis saat dikasih tahu, guru yang satu itu membandingkan kami dengan adik kelas yang memang cengeng anaknya. 

Sedangkan cengeng dan bersikap dewasa itu sudah lain lagi perkaranya. Lagi pula kami hanyalah anak-anak. Kami sewajarnya penuh akan keceriaan.

Rupanya, menjadi dewasa juga merepotkan. Pelajaran sekolah makin sulit. Mencari pekerjaan apalagi. Ibu dan ayah kita makin banyak bicara. Kapan kita akan mendapatkan kerja? Kapan kemudian kita akan mengembalikan jerih payah mereka selama ini. 

Kita terbiasa menghindari masalah, kita terbiasa kabur. Kita tak pernah tahu jika masalah itu justru membuat kita belajar dan mengingat tentang hidup. Kita berangsur kehilangan teman dan hanya berteman dengan beberapa orang teman saja. 

Anehnya, kita tidak merasa kesepian. Meski menyukai kesendirian, justru kita menganggapnya sebagai kedamaian. Teman-teman kita juga telah menikah. Dulu, kita menyukai seseorang, tapi kita tak dapat memilikinya. Kita akan banyak menghabiskan waktu tanpa pacaran. 

Orang-orang mulai cemas pada hubungan asmara kita, tapi kita berhak atas hal ini. Ini adalah hidup kita.

Ah, andai kita bisa kembali ke masa kecil dahulu, tak akan kita memburu waktu yang jelas akan terjadi sementara yang berlalu itu tak dapat terulang.

 

Penulis: Aris Setiyanto, menyukai aespa. Puisinya termuat di koran Merapi, Kedaulatan Rakyat dll. Dapat dihubungi melalui Insagram aris.nohara

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.