Di Antara Riuh dan Sunyi
Pagi itu, udara di kota kecil Sukamaju terasa lebih segar dari biasanya. Di pelataran SD Negeri Pelita Harapan, anak-anak berlarian menyambut hari pertama sekolah setelah liburan panjang. Suara tawa, sapaan riang, dan langkah kecil yang berlarian menciptakan suasana yang penuh semangat.
Namun, di tengah keramaian itu, seorang anak laki-laki tampak berdiri canggung di samping ibunya, memeluk erat tas ranselnya yang sedikit lebih besar dari tubuh mungilnya. Namanya Daehan, siswa baru yang akan bergabung di kelas 5A.
Tak seperti anak-anak lain, Daehan memiliki tantangan dalam mengolah rangsangan dari sekitarnya, membuatnya lebih peka terhadap suara bising dan keramaian.
Kepindahannya ke sekolah ini bukan tanpa alasan SD Negeri Pelita Harapan kini menjalankan program pembelajaran inklusif yang berfokus pada pendampingan setiap anak sesuai dengan keunikan dan cara belajarnya, agar mereka dapat tumbuh dan belajar bersama dalam lingkungan yang saling menghargai.
Bu Cahya, wali kelas 5A menyambut Daehan dengan senyum hangat. “Selamat datang, Daehan. Kami semua senang kamu ada di sini,” ucapnya lembut, sambil mengelus punggung Daehan untuk menenangkannya. Sementara itu, para siswa di kelas 5A mulai memperhatikan kedatangan teman baru mereka.
Beberapa tampak bingung, sebagian lain hanya diam, belum memahami sepenuhnya mengapa Daehan tampak berbeda. Di sinilah kisah dimulai kisah tentang penerimaan, perbedaan, dan bagaimana sebuah sekolah kecil belajar menjadi rumah bagi semua anak.
Di dalam kelas 5A, suasana belum benar-benar tenang. Beberapa anak masih sibuk membicarakan liburan mereka, ada yang berseru soal pantai, ada pula yang bangga memamerkan gigi ompong barunya. Di pojok kelas, Bu Cahya menuntun Daehan ke bangku kosong di deretan kedua, tepat di samping seorang anak perempuan berkepang dua bernama Laras.
"Laras, bolehkah Daehan duduk di sebelahmu?" tanya Bu Cahya lembut.
Laras mengangguk cepat. Ia tak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil pada Daehan. Senyum yang sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Daehan tidak sesesak tadi. Ia mengangguk pelan, lalu duduk sambil terus menggenggam tali tasnya.
Hari itu, pelajaran pertama dimulai dengan sesi perkenalan. Satu per satu siswa berdiri, menyebut nama, hobi, dan cita-cita mereka. Ketika tiba giliran Daehan, Bu Cahya melangkah maju dan duduk di sampingnya.
"Kalau kamu belum siap bicara, tidak apa-apa. Aku bisa bantu," bisik Bu Cahya.
Daehan menatap gurunya dengan mata lebar. Ia menggigit bibir, lalu perlahan menggeleng. Namun tangannya meraih secarik kertas dari saku dan menyerahkannya pada Bu Cahya. Di atasnya tertulis dengan huruf rapi: "Namaku Daehan. Aku suka menggambar. Aku ingin menjadi pembuat buku bergambar."
Bu Cahya membacakannya keras-keras dengan nada riang. "Wah, luar biasa. Daehan suka menggambar dan ingin jadi ilustrator buku! Siapa tahu nanti kalian bisa punya buku bergambar hasil karya teman kalian sendiri."
Beberapa anak menoleh dan mulai tampak tertarik. Laras mencolek Daehan pelan. "Aku juga suka gambar. Nanti kita bisa gambar bareng, ya?"
Daehan tidak langsung menjawab, tapi untuk pertama kalinya pagi itu, ujung bibirnya terangkat sedikit.
Waktu berjalan lambat di hari pertama. Bagi Daehan, setiap bel berbunyi adalah tantangan. Suara logam nyaring yang bergema di seluruh sekolah membuatnya menutup telinga erat-erat. Beberapa anak menatap, tapi Bu Cahya dengan sigap memberikan penjelasan. Ia telah menyusun strategi dengan guru BK Daehan diberi headphone peredam suara dan akses ke sudut tenang di perpustakaan jika ia merasa kewalahan.
Namun, tak semua anak langsung memahami.
"Waktu bel tadi, kenapa dia tutup kuping, Bu?" tanya seorang anak laki-laki bernama Bima saat istirahat.
Bu Cahya tersenyum dan mengajak seluruh kelas berkumpul di pojok bacaan.
"Anak-anak, kalian tahu tidak, setiap orang punya cara berbeda untuk merasakan dunia. Ada yang suka keramaian, ada juga yang merasa pusing kalau terlalu bising. Itu bukan salah siapa-siapa. Tubuh kita unik. Nah, Daehan adalah teman kita yang punya telinga sangat peka terhadap suara keras. Makanya, dia perlu bantuan supaya bisa tetap nyaman belajar di sini."
Anak-anak saling pandang, lalu Laras mengangkat tangan. “Kayak kucing ya,lalu tersenyum. Ia memang suka kucing.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Bu Cahya. “Dan tugas kita, sebagai teman, adalah menciptakan lingkungan yang nyaman. Supaya semua bisa tumbuh bersama, meskipun berbeda.”
Hari-hari berikutnya Daehan mulai berani menunjukkan sisi dirinya. Ia masih belum banyak bicara, tapi karyanya berbicara dengan lantang. Di papan belakang kelas, ia menggambar seekor gajah kecil yang berdiri di tengah kerumunan burung yang ramai berkicau. Di atasnya tertulis: Kadang, diam bukan berarti tak mendengar. Hanya butuh Bu. Kalau ada suara keras, langsung lari.”
Beberapa anak tertawa kecil. Tapi Daehan, yang semula menunduk, justru
waktu untuk mengerti suara dunia.
Bu Cahya menempelkannya di papan pajangan kelas dengan bangga. “Ini karya Daehan. Bagus, ya?”
Anak-anak mengangguk. Bahkan Bima yang tadinya sering bertanya heran tentang Daehan, kini mulai mendekat dan menawarkan pensil warnanya saat Daehan kehabisan.
Namun, tak semua hari berjalan mulus.
Suatu siang, saat jam olahraga, peluit Pak Anton yang mendadak ditiup keras membuat Daehan terkejut dan menjatuhkan bola. Ia menutup telinga dan berlari ke tepi lapangan. Beberapa anak tampak kebingungan, sebagian mulai berbisik-bisik.
“Kenapa sih dia aneh banget?”
“Main aja susah…”
Laras, yang melihat itu, menghampiri Daehan yang duduk berjongkok di bawah pohon. Ia tak berkata apa-apa, hanya duduk di samping temannya. Setelah beberapa saat, ia mengeluarkan pensil kecil dari saku dan menggambar lingkaran-lingkaran di tanah.
“Ini bola,” katanya lirih. “Yang ini, lingkaran pelindung. Kalau kamu di dalam sini, suara nggak masuk.”
Daehan mengangguk. Matanya basah, tapi ia tertawa kecil.
Perlahan, anak-anak mulai belajar. Belajar bahwa tidak semua tawa harus keras. Bahwa menyapa bisa lewat gambar, lewat pelukan diam, atau bahkan duduk bersama tanpa kata. Daehan pun belajar, bahwa tidak semua suara harus menakutkan. Ada suara-suara yang hangat seperti bisikan teman, nyanyian pelan saat mewarnai, atau suara Bu Cahya saat membaca cerita.
Pada akhir bulan, sekolah mengadakan Pekan Ekspresi. Setiap kelas menampilkan pertunjukan atau karya seni. Kelas 5A memutuskan untuk membuat sebuah pameran cerita bergambar. Semua anak membuat cerita masing-masing, dan Daehan menjadi ilustrator utama.
Ia menggambar tokoh-tokoh kecil dengan emosi yang kuat satu anak kecil duduk di tengah pasar yang bising, satu lagi bermain di taman sunyi ditemani seekor kucing besar.
Di tengah ruangan, terpajang karya kolaboratif kelas: sebuah cerita berjudul Di Antara Riuh dan Sunyi, yang ditulis bersama oleh semua siswa 5A. Tentang seorang anak yang datang dari dunia yang sunyi, lalu perlahan menemukan bahwa suara tidak selalu berarti bising kadang, suara adalah cara dunia menyapa.
Hari itu, Daehan berdiri di samping karyanya. Ia mengenakan headphone-nya, tapi kali ini bukan karena takut. Hanya sebagai bagian dari dirinya, seperti anak lain yang membawa botol minum atau memakai kacamata. Seorang ayah pengunjung pameran berjongkok melihat gambar-gambar Daehan.
“Kamu yang gambar ini?”
Daehan mengangguk pelan.
“Bagus sekali. Kamu akan jadi ilustrator hebat suatu hari nanti.”
Daehan menoleh ke arah Bu Cahya, yang berdiri di ujung ruangan sambil tersenyum bangga. Di sampingnya, Laras melambai pelan.
Untuk pertama kalinya, Daehan mengangkat tangan, melambaikan balasan kecil. Tidak takut. Tidak ragu.
Karena di sekolah kecil bernama Pelita Harapan, ia menemukan bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal. Tapi tempat di mana suara dan keheningan bisa hidup berdampingan. Tempat di mana perbedaan bukan penghalang, tapi pintu menuju pengertian. Dan di antara riuh dan sunyi, Daehan akhirnya menemukan ruangnya sendiri.
Penulis: Wulan Kurnia Wiyahya, mahasiswa asal Ponorogo.