Mon, 24 Jun 2024
Cerpen / Oct 19, 2021

Lukisan Hidup

Wanita muda itu tersenyum puas, tidak ada penyesalan di matanya, bahkan di lubuk hatinya yang paling dalam setelah ia melakukan semuanya, setelah ia menceritakan kenyataan yang sesungguhnya mengenai keluarga, mengenai masa lalu pahit antara ia dan ibunya. Hari ini kunjungan pertama saat peristiwa itu, garis polisi pun juga masih terpasang disana. Sebuah kisah yang orang-orang tak mungkin akan percaya jika dipikir secara logika.

#flashback on

Seminggu yang lalu.....

"Ehh sumpah loh aku tadi berpapasan sama Reyhan di depan gerbang, dan dia senyum sama aku" Ucap Lela pada Ika malam itu.

"Kamu beruntung banget sih bisa liat dia, diberi senyuman pula" balas Ika.

"Iya, senyumannya bikin hatiku meleleh ika" dengan semangat Lela berucap.

Perbincangan malam itu mengenai ketampanan Reyhan, mahasiswa organisatoris yang jadi idaman para mahasiswi di seantero fakultas pertanian. Hingga tengah malam pun mereka masih berbincang, menggosipkan apa saja yang bisa digosipkan, maklumlah perempuan.

"Aku pulang dulu, udah jam 1 tuh, besok ada kuliah pagi kan" ucap Lela pamit pada sahabatnya.

Mereka berdua adalah sahabat sejak semester 1, persahabatan mereka terjalin sejak Ika tinggal di rumah kost milik ibu dari Lela, keduanya beda jurusan namun setiap ke kampus mereka sering bersama. 

Keesokan harinya Lela terbangun sangat pagi, lebih pagi dari biasanya, bahkan mendahului alarmnya yang ia setel pukul 7. Lela kaget akibat mimpi aneh yang ia lihat sebelumnya, menyebabkan ia terbangun dengan tergesa-gesa dan lebih awal saking buruknya mimpi tersebut.

Akibat dari mimpi itu, hari-harinya di kampus menjadi terganggu, interaksi sosial dengan teman-temannya pun tidak seperti biasanya, seakan ada yang hilang dari dirinya, namun ketika ada yang menanyakan keadaannya dia cuma menjawab dengan senyum dan berkata tidak apa-apa.

Tiba-tiba ada praktek tambahan hari itu, diluar dari jadwal praktek yang telah ada, membuat semua mahasiswa menggerutu. Namun dengan keterpaksaan tentunya semua mahasiswa mengikuti jadwal praktek tersebut. Praktek di lapangan itu selesai tepat saat adzan maghrib berkumandang di mushollah kampus, semua mahasiswa berbondong-bondong untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing, namun ada pula yang singgah untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah.

Mereka mungkin berpendapat bahwa shalat lah yang utama, tubuh yang lelah akan terobati ketika kita bersujud kepada Allah yang telah memberi kita kehidupan dan kekuatan untuk mengarungi dunianya.

Lela kembali ke rumahnya. Membuka pintu kamar dan langsung berbaring di kasur kesayangannya akibat sudah terlalu lelah, dia tertidur disana. Pada pertengahan tidurnya yang lelap ia bermimpi. Lagi-lagi mimpi aneh dan menyeramkan. Dia melihat ada sosok aneh menyerupai sosok wanita yang sekarat. Wanita tersebut dalam keadaan terduduk merintih kesakitan dan meminta tolong.

"Tolong aku, tolong aku". Kata si sosok wanita itu.

Kemudian di dalam mimpi tersebut Lela melihat sosok itu dikejar oleh bayangan hitam yang juga menyerupai wanita dengan rambut panjang dan baju yang mewah. Wanita yang kesakitan dan meminta tolong ini berlari sekuat tenaga dan semampunya untuk menghindari kejaran sosok yang lainnya.

Sampai ke arah hutan kejar-mengejar ini terjadi. Namun karena si wanita yang kesakitan ini sudah tidak bisa lagi berlari dengan kencang akibat luka di kaki dan kepalanya dia tersungkur tak sadarkan diri ditengah hutan.

Lela terbangun dalam keadaan menangis. Ia merasa ketakutan yang amat mendalam akibat mimpi itu. Air matanya tanpa ia sadari  keluar membasahi pipinya. Dia mencoba menenangkan diri, meminum segelas air bening dan menghela napas panjang. 

Lela yang biasanya pergi ke kamar Ika untuk sekedar berbincang tentang Reyhan. Namun malam itu Ika tidak mendapati celotehan Lela dikamarnya. Ika merasa kesepian, ia hampa dan bosan berada di kamar sendirian. Untuk mengusir kebosanannya itu dia membaca buku-buku yang belum lama ia beli dari toko buku. Ia membaca buku novel, ia amat menyukai membaca novel fiksi.

Beberapa bab telah ia baca, sulit baginya menuntaskan satu novel dalam beberapa hari saja tentunya karena kesibukan kuliah menyebabkan ia cepat lelah pada malam hari. Ia menutup novel yang telah dibacanya, menaruh ke tempatnya semula. Dan saat itu pula kekosongan kembali melanda dirinya, matanya berkeliling ruangan, menerawang setiap sisi dan sudut kamarnya. Dan petualangan matanya berhenti pada lukisan indah yang ada didepannya.

Tergambar seorang gadis memakai gaun merah pada lukisan itu, duduk pada kursi sofa yang kontras dengan warna gaun yang ia kenakan. Di samping lukisan itu ada sebuah lukisan yang ukuran bingkainya lebih besar dari lukisan potret diri perempuan itu. Berbeda dengan lukisan disampingnya, lukisan ini menggambarkan suasana lebih horror, cukup abstrak lukisan tersebut. 

"Lukisan apa ini?" Gumam Ika dalam hati.

Dia hanya menerka, menjawab sendiri pertanyaannya.

"Mungkin lukisan Hutan yang didalamnya ada makhluk-makhluk jahat." Batinnya menjawab seakan ada orang yang memberitahukan lukisan apa yang ada di dinding itu. 

Ika berdiri menggerakkan badannya menggapai lukisan potret diri seorang wanita itu, ia makin penasaran akan dua lukisan aneh tersebut. Kemudian suara dari luar terdengar mengucap salam, mengetuk pintu tiga kali, meminta izin untuk masuk. Rupanya Lela, ia langsung saja masuk ke kamar sahabatnya itu. Dengan cepat ia sudah berada diatas kasur, nafasnya terengah-engah akibat naik tangga ke lantai dua sambil berlari.

"Eh Lela, ada apa?" Tanya Ika.

"Gak kok, cuma mau menemani kamu yang kesepian di kost, lagian aku gak ganggu kan?" Jawab Lela dan dia malah balik bertanya, takut mengganggu aktivitas sahabatnya.

"Iyya nih sepi banget, ya maklumlah jomblo" 

"Hahaha, kamu kalo ngomong jujur banget sih Ka." 

Lela memperhatikan sekitar, matanya tertuju pada lukisan yang ada di tangan Ika. 

"Hmm, itu lukisan kamu?" Ucap Lela.

"Bukan kok, mana mungkin aku yang melukis ini, aku gak punya bakat melukis."Jawab Ika.

"Lantas itu lukisan siapa?"

" Nah itu dia, aku juga penasaran dengan lukisan ini, seperti ada nyawa tersendiri dari kedua lukisan ini."

"Nyawa bagaimana? Apakah lukisan itu seram?"

"Gak sih tapi aneh aja lukisan ini ada di kamarku padahal sebelumnya kan tidak ada."

"Bener juga, hmm mungkin mamaku yang menaruhnya di kamarmu, sebagai hiasan dinding kamarmu."

" Bisa jadi mamamu yang menaruhnya disini, mungkin ini lukisannya."

"Tapi seingatku mama tidak pernah melukis".

Keduanya terdiam, sudah ada sedikit titik terang mengenai asal-usul lukisan misterius itu. Besok Ika akan menemui ibu kos untuk menanyakannya. 

"Kamu mau cerita apa?" Ucap Ika.

"Ha?? Cerita gimana maksudnya?" Balas Lela terheran.

"Haha kamu kesini pasti mau cerita pengalaman seru mu, ada apa lagi tentang si Reyhan itu?"

"Ahh gak kok, bukan tentang dia, ini tentang aku yang tadi mimpi buruk." 

"Mimpi buruk bagaimana?" Tanya Ika penasaran ingin mendengar cerita temannya itu.

Lela tidak menjawab. Ia memaku bagaikan patung, awalnya ia ingin bercerita kepada Ika namun saat ini entah kenapa ia mengurungkan niatnya. 

Ika bersiap-siap untuk pergi kuliah, namun sebelum ia meninggalkan rumah kost itu ia harus mencari tahu asal-usul lukisan misterius itu. Setelah ia selesai mempersiapkan diri, membereskan kamar dan mengunci kosnya ia lalu bertemu dengan bu Ningsih, mamanya Lela sekaligus pemilik rumah kost tersebut.

Tak perlu waktu lama menemukan ibu setengah baya itu di pagi hari sebab selalu saja ada sampah dari dedaunan yang jatuh di halaman rumah yang sudah menjadi kebiasaan bu Ningsih untuk membersihkannya.

"Mmm permisi bu, saya mau bertanya." Kata Ika menyela pekerjaan bu Ningsih.

"Iya ada apa mbak Ika." Jawab bu Ningsih penasaran.

"Ada lukisan aneh di kamar saya, dan sebelumnya lukisan tersebut tidak berada di situ, saya baru kemarin melihatnya, padahal saya sudah satu semester di kosan ibu." Terang Ika.

"Owh lukisan itu, saya memang yang menaruhnya disitu, di kamar kamu. Maaf menaruhnya di sana kalo memang kamu tidak suka silahkan buang saja".

"Bukan tidak suka sih bu, saya suka lukisannya. Terimakasih bu sudah menaruhnya di kamar saya, saya pamit pergi kuliah dulu." Kata Ika mengakhiri percakapan dengan bu Ningsih.

Sekembalinya dari kuliah sore harinya lukisan itu sudah tidak berada di tempatnya. Ika dibuat pangling dengan menghilangnya dua lukisan itu. Dia berlari menuju kamar Lela dan bertemu dengannya. Lela pun terkejut dengan penuturan Ika mengenai hilangnya lukisan itu. Dimana lukisan itu berada menjadi tanda tanya besar di kepala mereka berdua. 

Perasaan Ika makin campur aduk, antara takut dan penasaran. Dengan firasat yang ia miliki dia mencoba mencari tahu sendiri. Ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan Lela sendiri di kamarnya. Menuju ruang dapur dan mencari keberadaan Bu Ningsih terlebih dahulu. Tidak sampai di ruang dapur langkahnya terhenti saat melihat ada tubuh yang tergeletak di depan televisi di ruang tamu. Seorang mayat perempuan, memakai daster bertubuh agak gempal, perawakannya seperti bu Ningsih! 

Dengan wajah ketakutan dan tubuh yang gemetar Ika mendekati wanita tersebut. Ika mendekat ke bagian wajah wanita itu untuk memastikan siapa identitasnya. Dan benar saja wanita itu adalah bu Ningsih. Ditemukan tidak bernyawa lagi di ruang tamu rumahnya sendiri. 

 
Penulis: Muhammad Firman, seorang freshgraduate yang kebanyakan gabut, penulis cerpen ini telah menerbitkan satu buku berjudul "BACA BUKU INI SAAT ENGKAU GABUT" bisa dicek pada akun instagramnya @mhmd_frmn15
 

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.