Fri, 29 Aug 2025
Cerpen / Yessi Alma'wa / Aug 28, 2025

Penolakan yang Menyakiti Diri Sendiri

Di bawah langit yang sama, banyak perempuan yang mempertanyakan, apakah benar sebuah kebahagiaan seorang perempuan teletak pada laki-laki yang dicintainya? Pertanyaan itu juga membisik dalam hatiku. Begitu ia pergi. Selesai lulus S1, tanpa pikir panjang kucemplungkan diri lanjut mengejar S2 hingga S3.

Entah apa yang kuinginkan, tak ada keinginan seperti ini dahulu. Aku pikir memilih takdir sebagai seorang dosen membuatku memiliki kesibukan yang tiada hentinya. Aku ingin tenggelam dalam tumpukan jurnal dan deretan nama mahasiswa lalu mengubur kenangan itu dalam-dalam.

***

Malam nanti ulang tahunku. Sebelumnya ketika ulang tahun aku begitu excited merayakannya. Perayaan kecil dari memasak hidangan kesukaan hingga menonton film romance Jepang yang membuai. Tetapi tahun ini tidak begitu, ada sedikit harap yang tak kumengerti. 

Sepuluh bulan yang lalu aku bertemu dengannya, serupa hembusan angin segar di tengah gurun. Seorang laki-laki, rekan dosen baru di kampusku. Namanya begitu mencuri perhatian, mengingatkanku pada judul film lawas “Arie Hanggara” Usianya enam tahun lebih muda, tepatnya 33 tahun. Sebuah jurang usia yang tak terlampau jauh, tetapi menganga lebar di benakku. 

***

“Suka makan di sini juga, bu?” suara itu membuyar lamunanku. Arie berdiri di belakang. “Bolehkan saya ikut bergabung?” tambahnya. 

Pertanyaan sederhana, namun telak membuatku tersedak. Tanpa ia sadari, tangannya menyentuh bahuku, menepuk-nepuk dengan ringan, lalu ia menyodorkan segelas air putih miliknya. Tawa kecil meluncur begitu saja dari bibirku. 

Arie seolah menangkap kegugupanku, lalu meminta maaf dan ikut tertawa. Sejak hari itu, tanpa kusadari, kami semakin dekat. Pagi-pagi kami berdua selalu berbagi meja di kantin kampus. Sorenya, sapaan hangat bersamaan melewati koridor berdampingan hingga ke parkiran. 

Kedekatan kami berdua semakin jauh, sampai di mana mobilku masuk bengkel dan berujung berangkat bersama dengan mobil Arie. Ketika kami pergi, Arie menyuruhku membaca maps, kami berdua tak tahu tempat acara itu. Getaran gugup langsung saja menyelimutiku.

Sialnya, karena kegugupanku itu, membuat kami tersesat. Kami terjebak dalam kemacetan yang mengular. Arie tiba-tiba meminta maaf atas ketidakpiawaiannya menyetir. 

Lelaki ini, dengan segala perkataannya, selalu mampu menggetarkan hatiku. Padahal akulah yang salah karena tak bisa membaca maps. Namun, ia yang justru meminta maaf. Senyumku begitu saja mengembang. 

Ia juga begitu perhatian. Waktu kami makan bersama di restoran. Kami tak banyak bicara, hanya senyum yang sering bertukar. Tetapi waktu Arie berbincang dengan dosen lain dan aku sibuk memotong paha ayam bakar yang empuk dengan garpu, tangannya tiba-tiba bergerak, secepat kilat, meletakkan pisau kecil untuk membantuku memotong ayam. Entah dari mana ia mendapatkannya. 

Kemudian perjalanan pulang Arie membuka percakapan, suaranya pelan, "Aku ingin sekali makan bersama seseorang di warung-warung kaki lima, berbicara hal-hal tak penting dan konyol. Aku belum pernah melakukannya sampai sekarang."

Aku mengerti maksudnya, hanya bisa tersenyum, menyembunyikan perasaanku sebenarnya. 

***

Malam ini di ulang tahunku yang ke-39 tahun, aku memilih berdiam diri di apartemen, tak keluar merayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ponselku bergetar tepat pukul sepuluh malam. Arie mengirimiku sebuah pesan.

 “Maaf mengganggu malam-malam begini. Besok ada waktu? Tanggal merah berjejer empat hari. Sesekali nikmati tanpa memikirkan kerjaan dulu.” Kata-katanya meresap, menghujam kesadaranku.

Tiba-tiba, teleponku berdering. Aku terkejut, bingung harus menjawab atau menolaknya. Akhirnya, keberanian membujukku untuk mengangkat panggilan itu.

“Hallo, maaf menelpon. saya pikir tadi tidak akan dijawab.” Suaranya terdengar lembut di seberang sana. 

“Tidak pak, ada hal yang ingin bapak bicarakan, ya?” 

“Tidak usah panggil bapak lagi, panggil Arie, kita tidak sedang berada di kampus lagi, Bu Ratna.” 

Aku melanjutkan dengan langkah ke teras apartemen, duduk di kursi rotan, memandang bulan yang semakin benderang, dan melanjutkan percakapan kami. 

“Iya, kalau begitu, bapak juga harus memanggil saya Ratna, bukan Bu Ratna lagi, bagaimana?” 

“Saya dari dulu juga pengen manggil Ratna, tapi takut Bu Ratna marah sama saya.” 

Tawa kecilku pecah, lepas begitu saja. 

 “Saya izin mau mengajak kamu, Ratna.” 

"Mengajakku?" tanyaku. 

Sesudah telpon itu, berputar-putar di benakku, apa yang sesungguhnya ada di hatinya tentangku. Apakah kami hanya sekadar rekan kerja, ataukah ia merasakan gejolak yang sama denganku? Perasaanku terhadap Arie tak bisa aku bohongi, tapi aku enggan mengaku pada diri sendiri bahwa aku telah mencintainya. 

Mengapa cinta datang begitu lambat, membiarkan banyak duka merajai?  Mengapa sosok Arie tak datang 17 tahun yang lalu? Perasaan ini tak bisa ku sangkal terus-menerus. Aku jatuh cinta lagi. Aku ingin menggenggam tangannya, menatap kedua matanya dan dengan sedikit malu, mengakui bahwa aku mencintainya. Namun, itu semua hanya khayalanku, tak akan pernah berani aku ungkapkan.

Bagaimana jika Arie juga memiliki perasaan yang sama terhadapku? Tapi itu tidak mungkin. Aku tak ingin menghancurkan perasaannya, jika ia mengetahui tentang aku sebenarnya. Pikiran-pikiran itu membingungkan, pikiran itu semakin lama semakin ranum dan kabur bersama air mata, hingga akhirnya membuatku terlelap dalam kegelapan. 

***

“Bagaimana Ratna kamu senang?” 

Esok harinya, Arie membawaku ke sebuah tempat, Kepulauan Seribu. Hampir 17 tahun tak pernah kupijak lagi. Arie menarik tanganku dan membawa ke bibir pantai. Perasaan sesak langsung menusuk sembilu tajam. 

Dengan senyum dan wajahnya yang penuh ketenangan. Aku tak berkata apa-apa, hanya menatap. Mataku berembun pagi. Spontan, semua hal menyakitkan kembali terbayang di mataku ketika kulihat birunya lautan, seolah lautan itu adalah cerminan dukaku selama ini. 

"Ratna, ada yang ingin saya ungkapkan padamu," ucap Arie.  

Perkataan Arie sejenak kembali membuatku sadar. “Tunggu, Arie. Jangan kamu katakan” dengan pelan perkataan itu terlontar dariku dan tak kulanjutkan.

Aku menoleh padanya, dan ia menatapku penuh keingintahuan, atas ucapanku barusan. 

***

“Lautnya begitu biru”, ucapku. 

 “Jangan matikan telponnya, aku ingin dengar banyak tentang laut di sana dari kamu”, ucap Wira.  

Wira. Ia telah merenggut segalanya dariku bak badai yang meluluh lantakkan. Ia memilih pergi begitu saja, dari pada meluangkan satu menit untuk berbicara. Aku begitu mencintainya. Sewaktu kami masih menjadi mahasiswa.

Sampai aku tahu kebenaran yang tak bisa ditepis. Sejak awal aku tahu Wira tak pernah mencintaiku. Aku memaksanya, membujuknya dengan kenyamanan, seolah-olah Wira mengira bahwa perasaan nyamannya denganku adalah sebuah cinta. 

Di belakangku, Wira kudapati beberapa kali berselingkuh dengan teman kuliahnya. Tapi karena begitu mencintainya, aku selalu memaafkannya. Aku merasa akulah yang salah atas tindakan perselingkuhan Wira, aku menganggap diriku kurang memberinya perhatian, waktu hingga kebahagiaannya. Akhirnya, kami terjerumus ke hubungan terlarang. Meski tak ingin, karena cinta, aku rela menyerahkan kehormatanku padanya. 

Aku pikir dengan hal itu Wira akan mencintaiku, tapi aku salah. Ia semakin semena-mena. Apa yang telah kuberikan tak mampu mengubah Wira. 

Ia kembali berselingkuh, bahkan berkali-kali menghilang, lalu kembali seolah tak terjadi apa-apa. Dan suatu hari aku hamil. Wira tak mau bertanggung jawab. Ia kembali pergi begitu saja. Aku berusaha menerima semuanya, namun pikiran tentang keberadaan Wira membuat janin itu tak bertahan lama, seperti bunga yang layu sebelum mekar. Aku keguguran. 

Sejak semua itu bahkan 17 tahun setelah kepergiannya, jauh di dalam lubuk hatiku aku masih mencintainya sampai hari ini. Tapi, seberapa banyak pun aku ingin kembali dan mengubah Wira untuk mencintaiku, hal itu tak akan pernah mengubahnya. Aku terus menunggunya sampai kini, meyakini suatu hari ia mencariku, kembali dan menjelaskan semuanya.

 

***

Dalam-dalam kutatap wajah Arie, tak mungkin aku menceritakan semua itu. Ia bahkan masih memasang wajah meminta jawaban, seolah menuntut sebuah pengakuan. Tapi aku putuskan memalingkan wajah, meninggalkan pantai dan Arie, meninggalkan semua pertanyaannya yang menggantung. 

Semenjak itu, aku memutuskan tidak ingin berhubungan dengan Arie lagi.  Dan Arie seolah paham dengan jarak yang tiba-tiba kuciptakan, tanpa bertanya apa alasannya.

 

***

 
Penulis: Yessi Alma’wa, merupakan alumnus Sastra Indonesia, Universitas Jambi. Beberapa tulisannya telah dimuat di platform online hingga cetak. Kini sibuk merenungi eksistensinya sebagai pengajar atau cuma lagi mikirin, “Aku ini siapa, sih?” Jika ingin menyapa bisa mampir di Instagram @sii_almawa.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.