MBG dan Biopolitik Pendidikan: Ketika Pendidikan direduksi Menjadi Urusan Perut
Dalam Setiap rezim, ada satu godaan
yang terus berulang yaitu keyakinan bahwa persoalan kompleks dapat diselesaikan
dengan intervensi sederhana. Di dunia pendidikan, godaan itu kerap menjelma menjadi deretan angka seperti jumlah
siswa, tingkat partisipasi, persentase keterjangkauan dan belakangan, jumlah
perut yang terisi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dalam logika
semacam ini, dengan janji mulia bahwa anak yang kenyang dan dengan asupan gizi yang
baik akan belajar lebih optimal. Pernyataan ini terdengar masuk akal, nyaris
tak terbantahkan. Namun justru di sanalah problemnya.
Pendidikan perlahan dipahami
sebagai urusan input–output berupa gizi masuk, prestasi naik, bantuan turun,
masalah dianggap selesai. MBG tampil sebagai solusi instan, menjadikannya sebuah
intervensi biologis yang diharapkan berdampak pedagogis.
Padahal, persoalannya
bukan sekadar apakah anak membutuhkan makanan; itu sudah jelas dan tak perlu
diperdebatkan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang sedang kita
bayangkan tentang pendidikan, tentang anak, dan tentang peran negara, ketika
makanan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam kebijakan terutama di lingkup
pendidikan?
Dalam perspektif Amartya Sen dan Martha
Nussbaum terkait pendekatan kapabilitas (Capability Approach),
pembangunan sejati bukan soal distribusi bantuan semata, melainkan perluasan
kapabilitas manusia—kemampuan berpikir, memilih, dan hidup bermartabat.
Jika
pendidikan hanya diperlakukan sebagai proyek pemenuhan kebutuhan dasar tanpa
membangun kebebasan intelektual dan kualitas pengalaman belajar, maka yang
tumbuh bukan manusia merdeka, melainkan generasi yang bergantung pada
intervensi negara.
Secara moral, memang Program Makan
Bergizi Gratis hampir mustahil ditolak. Siapa yang tega menentang upaya negara
memberi makan anak sekolah? Namun dalam kebijakan publik, niat baik tidak
selalu sejalan dengan desain yang tepat.
Justru karena ia tampak luhur, MBG
jarang dibaca secara kritis. Padahal program ini bukan sekadar urusan gizi; ia
adalah cermin cara negara memahami pendidikan dan memosisikan anak dalam proyek
pembangunan.
Dasar logikanya, anak yang kenyang
akan belajar lebih baik. Memang pernyataan ini terdengar rasional, tetapi
sekaligus menyederhanakan persoalan pendidikan yang jauh lebih kompleks.
Pendidikan direduksi menjadi soal biologis, urusan perut.
Sementara persoalan
struktural lain dibiarkan saja seperti kesejahteraan guru yang memperihatinkan,
relasi pedagogis yang miskin makna, kurikulum yang kerap terlepas dari realitas
hidup, hingga krisis tujuan belajar itu sendiri. Dalam paradigma semacam ini,
keberhasilan pendidikan diukur dari kuantitas intervensi, bukan kualitas
pengalaman belajar.
Berapa juta anak menerima makanan, berapa sekolah
terlayani, berapa besar anggaran terserap. Semuanya tampil seperti angka-angka
yang menenangkan secara politis, namun miskin refleksi pedagogis. Hingga kita-pun
lupa bertanya, apakah sekolah masih menjadi ruang pendidikan, atau telah
bergeser menjadi sekadar titik distribusi kebijakan sosial?
Kuantitas yang Menenangkan dan Kualitas
yang Menggelisahkan
Dalam era modern, pendidikan kerap
diposisikan sebagai kunci utama peningkatan kualitas hidup masyarakat. Namun di
Indonesia, pembangunan pendidikan masih terjebak dalam dilema lama: memperluas
akses atau memperdalam mutu.
Pertanyaan ini kembali mengemuka ketika Program
Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan sebagai simbol komitmen negara membangun
generasi emas. Di balik niat mulianya, MBG merepresentasikan cara berpikir
teknokratis dengan keyakinan bahwa persoalan kompleks dapat diurai melalui satu
intervensi yang sederhana, terukur, dan cepat dilaporkan.
Memberi makan bergizi
gratis kepada siswa diasumsikan otomatis melahirkan generasi berkualitas,
meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar. Rasional, tetapi sekaligus
mereduksi pendidikan menjadi hubungan sebab-akibat yang sempit.
Ivan Illich dalam Tools for
Conviviality (1973) menyatakan bahwa modernitas gemar mengubah persoalan
manusia menjadi proyek teknis. Dalam logika ini, sekolah diperlakukan seperti
mesin produksi: masukan diperbaiki, keluaran diharapkan meningkat.
MBG pun
berfungsi sebagai “perbaikan input biologis” agar output akademik naik. Namun
pendidikan, sebagaimana ditegaskan Paulo Freire tentang banking concept
(1970) bahwa bukanlah proses menabung ke
dalam diri siswa yang dianggap kosong.
Kaitannya dalam hal ini, bukan sekadar
proses transfer energi tubuh yang kenyang menjadi nilai rapor yang tinggi. Ia
adalah ruang pembentukan kesadaran kritis, dialog, dan pemanusiaan. Ketika
negara terlalu fokus pada aspek fisik, makna pendidikan sebagai praksis
kebebasan perlahan tergerus.
Kualitas pendidikan tidak hanya
tentang memberikan makan bergizi gratis, tapi juga tentang memiliki guru yang
sejahtera dan termotivasi, kurikulum yang relevan, dan metode belajar yang
efektif. Program tersebut mungkin dapat membantu meningkatkan gizi siswa, tapi
apa gunanya jika mereka tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas? dalam
hal ini MBG layak dibaca lebih kritis.
Program ini nyaris tak menyisakan ruang
untuk bertanya, apakah persoalan pendidikan memang bermula dari perut anak,
atau justru dari cara negara memahami belajar, guru, dan sekolah itu sendiri?
Ketika makanan diposisikan sebagai solusi utama, pendidikan perlahan direduksi
dari proses kultural dan etis menjadi urusan biologis semata.
Dalam konteks yang lebih luas, pada
praktik MBG mencerminkan paradigma kuantitas yang telah lama mendominasi
kebijakan pendidikan kita. Lebih menonjolkan capaian statistik, di mana keberhasilan
diukur dari cakupan berapa juta anak menerima manfaat, berapa persen sekolah
terlayani, seberapa cepat anggaran terserap.
Angka-angka tersebut menjadi
simbol keberhasilan politik yang mudah dipamerkan, mudah diklaim, dan mudah
dirayakan secara politis. Pierre Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai
dominasi kapital simbolik, di mana sesuatu yang tampak objektif justru menutupi
relasi kekuasaan yang lebih dalam.
Statistik memberi ilusi kemajuan, sementara
kualitas relasi belajar, kesejahteraan guru, dan iklim intelektual sekolah kurang
perhatian. Ini bukan berarti program tersebut tak penting. Namun pertanyaan
yang patut diajukan adalah tentang arah prioritas.
Apakah tujuannya sekadar
memperluas jangkauan layanan, atau benar-benar memperdalam mutu pendidikan yang
diterima? dan apakah kuantitas intervensi benar-benar berbanding lurus dengan
kualitas pendidikan?
Di sinilah ketimpangan itu tampak
jelas. Negara begitu sigap mengintervensi perut anak, tetapi lamban membenahi
ekosistem belajar, kesejahteraan guru, kurikulum yang kerap kehilangan
relevansi, kebebasan pedagogis yang sempit, hingga minimnya ruang refleksi
kritis di sekolah.
MBG seolah menyampaikan pesan implisit bahwa masalah
pendidikan dianggap bermula dari tubuh anak, bukan dari struktur pendidikan itu
sendiri. Padahal sejarah pendidikan menunjukkan sebaliknya. Kualitas belajar
tumbuh dari relasi kepercayaan—antara guru dan murid, sekolah dan
komunitas—bukan semata dari asupan kalori.
Anak yang kenyang, tetapi belajar
dalam sistem yang menekan, mekanistik, dan miskin makna, tetap berisiko tumbuh
sebagai subjek yang terasing dari pengetahuan. Mengisi perut anak memang
penting. Tetapi masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kenyang
anak-anak dan gizinya terpenuhi, melainkan oleh seberapa berkualitas pendidikan
yang mereka terima.
Makan Siang, Kekuasaan, dan Tubuh
yang Diatur
Sejarah menunjukkan bahwa program
makan sekolah tidak pernah netral. Di Amerika Serikat semenjak tahun 1946 misalnya,
program makan siang sekolah nasional sejak awal berkaitan erat dengan strategi
kekuasaan, politik pertanian, penyerapan surplus pangan, dan kepentingan
industri.
Program makan siang nasional di sana lahir bukan hanya untuk anak,
tetapi juga untuk menyerap surplus komoditas, menstabilkan harga hasil tani,
dan di masa tertentu mengamankan kepentingan industri pangan. Makanan di
sekolah bukan sekadar urusan gizi, tetapi juga arena tarik-menarik kekuasaan.
Ketika logika ini direplikasi tanpa refleksi, anak berisiko direduksi menjadi
obyek kebijakan biopolitik di mana tubuh yang harus diatur, diukur, dan
dikendalikan.
Ini sejalan dengan kritik Henry Giroux dalam The Terror of
Neoliberalism (2004) tentang neoliberalisasi pendidikan, di mana sekolah
semakin diperlakukan sebagai instrumen kebijakan sosial, bukan ruang
pembentukan warga kritis. Negara hadir sebagai penyedia bantuan, tetapi absen
sebagai penjamin kualitas relasi pedagogis.
Di titik ini, kritik Michel
Foucault tentang biopolitik (1970-an) menemukan relevansinya. Negara
modern mengelola populasi melalui tubuh. Apa yang dimakan, kapan dimakan,
berapa porsinya, dan oleh siapa diputuskan.
Makan bergizi gratis dengan standar
menu terpusat dan logika distribusi massal, berisiko jatuh pada praktik serupa.
Anak direduksi menjadi obyek kebijakan gizi, angka dalam tabel nutrisi alih-alih
subyek pendidikan yang memiliki hak untuk memahami, memilih, dan memaknai
pangan.
Tragedi keracunan makanan di
sekolah yang kerap dianggap “insiden teknis” sejatinya adalah gejala dari
paradigma ini, seharusnya dibaca lebih serius. Ia bukan sekedar kegagalan dapur
atau distribusi, melainkan tanda bahwa negara masih memandang anak sebagai
perut yang harus diisi, bukan subyek yang berhak atas pengalaman pangan yang
aman, bermartabat, dan bermakna.
Ketika makanan diproduksi secara massal,
diputuskan jauh dari konteks lokal, dan diperlakukan sebagai komoditas
distribusi, maka relasi etis antara anak, makanan, dan komunitas terputus. Yang
tersisa hanyalah logistik, bukan pedagogi.
Dari Makan di Sekolah ke Pangan
Sekolah
Perbedaan antara makan di
sekolah dan pangan sekolah bukan soal istilah, melainkan soal cara
pandang. Makan di sekolah adalah logika karitatif: negara memberi, anak
menerima. Ia lahir dari situasi krisis kelaparan, kemiskinan ekstrem dan
bekerja dengan asumsi minimal, asal perut terisi, asal anak tidak lapar. Pangan
sekolah, sebaliknya, adalah paradigma transformatif.
Ia melihat sekolah sebagai
ekosistem hidup: tempat anak belajar tentang gizi, lingkungan, budaya, dan
relasi sosial. Dalam paradigma ini, dapur sekolah bukan sekadar ruang produksi,
tetapi ruang pendidikan; petani lokal bukan pemasok anonim, tetapi mitra
pembelajaran; makanan bukan sekadar zat, tetapi makna.
Pangan sekolah merupakan lompatan
paradigma dalam membangun ekosistem terkait edukasi gizi, keterlibatan petani
lokal, dapur sekolah sebagai ruang belajar, dan anak sebagai partisipasi aktif.
Negara-negara maju misalnya, telah menunjukkan bahwa lompatan ini mungkin
dilakukan. Pendekatan ini bukan sekedar utopia, melaintkan pilihan kebijakan
yang realistis dan berkelanjutan.
Ketika pangan sekolah dihubungkan
dengan petani lokal, pendidikan rasa, dan kesadaran ekologis, makanan berhenti
menjadi instrumen kontrol, dan berubah menjadi medium emansipasi. Anak tidak
hanya kenyang, tetapi paham: dari mana makanan berasal, siapa yang menanamnya,
dan bagaimana pilihan makan terkait dengan masa depan bersama.
Dalam konteks ini, MBG justru
berjalan mundur. Dengan standar menu terpusat dan tata kelola birokratis,
anak-anak diposisikan sebagai angka dalam tabel gizi. Tidak ada ruang bagi
mereka untuk memahami dari mana makanan berasal, apa makna pangan sehat, atau
bagaimana makanan terkait dengan lingkungan dan budaya lokal. Pendidikan rasa,
kesadaran ekologis, dan tanggung jawab sosial hilang di balik logistik massal.
Pendidikan Bukan Soal Perut Saja
Permasalahan mendasar MBG bukan
pada niatnya, melainkan pada reduksi filosofis yang dikandungnya. Pendidikan
direduksi menjadi urusan kesiapan biologis, seolah masalah belajar selesai
begitu anak tidak lapar. hal ini mengabaikan satu hal penting bahwa pendidikan
adalah proses kultural dan etis, bukan sekadar fisiologis.
John Dewey dalam My Pedagogic Creed
(1897) menegaskan bahwa pendidikan adalah pengalaman hidup itu sendiri, bukan
sekadar persiapan teknis untuk masa depan. Dalam terang pemikiran ini, anak
yang kenyang tetapi belajar dalam sistem yang menekan kreativitas dan mematikan
rasa ingin tahu tetap akan tumbuh dalam keterasingan intelektual.
Tubuhnya
mungkin kuat, tetapi kesadarannya rapuh. Dalam hal ini, Pengalaman makan pun,
jika diperlakukan dengan benar, bisa menjadi pengalaman edukatif yang kaya.
Namun ketika makanan hanya dibagikan, bukan dimaknai, pengalaman itu menjadi
hampa. Anak belajar patuh, bukan paham untuk menerima dan bukan untuk menalar.
Kritik MBG bukan berarti menolak
peran negara dalam menjamin gizi anak. Justru sebaliknya, kritik berangkat dari
keinginan agar kepedulian negara tidak berhenti pada solusi abad ke-20 untuk
masalah abad ke-21. Berhenti sejenak untuk merancang ulang bukan tanda
kelemahan, melainkan keberanian politik dan intelektual.
Jika negara sungguh
ingin memajukan, harus beralih dari sekedar makan di sekolah menuju sistem
pangan sekolah. Dalam hal ini, pergeseran paradigma sangat dibutuhkan, dari
distribusi ke partisipasi, dari kuantitas ke kualitas, dari mengisi perut menuju
pembentukan manusia.
Sebab pendidikan yang memuliakan anak tidak cukup dengan
mengisi perutnya, tidak sekedar dari kalori semata. Ia harus menghidupkan
pikirannya, membentuk kepekaannya, dan menghormati martabatnya sebagai subyek
yang sedang belajar menjadi manusia.
Mengisi perut anak memang penting,
tetapi masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kenyang generasinya,
melainkan oleh seberapa dalam mereka diajak berpikir, memahami, dan memaknai
hidup bersama dan seberapa serius negara membangun pendidikan sebagai ruang
pemanusiaan.
Jika negara sungguh ingin hadir menghasilkan generasi emas,
biarlah ia hadir bukan hanya sebagai penyedia makanan, tetapi sebagai penjaga
makna, dari perut ke pikiran, dari nutrisi ke pendidikan, dari kebijakan ke
kebijaksanaan.
Di sanalah masa depan pendidikan dan kemanusiaan dipertaruhkan.
Tapi harapan tersebut menjadi sulit, selama kebijakan masih terjebak pada
logika kuantitas yang menenangkan, kualitas akan terus menjadi kegelisahan yang
tertunda penyelesaiannya.
Penulis: Galang Mario, mahasiswa passarjana Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.