Mereka Takut Kita Pintar
Pendidikan merupakan pintu kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik. Pendidikan sebagai lokomotif kecerdasan untuk kemajuan negara.
Pada ruang kehidupan masyarakat akan mengalami perubahan apabila menyadari pentingnya pendidikan sebagai pondasi aspek kehidupan. Pendidikan membantu masyarakat untuk merubah nasib daerahnya yang awalnya tidak mampu lalu menjadi mampu dengan ilmu-ilmu.
Pendidikan mampu mempertahankan keadaan untuk kenyamanan dan memberikan dampak pada perubahan. Pada suatu negeri terdapat golongan masyarakat yang mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi, seperti universitas dan terdapat golongan masyarakat tidak mampu menjangkau pendidikan bahkan jenjang TK bagi anak-anak.
Hadirnya golongan masyarakat yang terdidik dan tidak terdidik dilandaskan kemampuan keuangan dalam mengakses pendidikan.
Terdapat perbandingan antara kata “ideal” dan “realitanya” bahwa idealnya masyarakat mampu mengakses pendidikan hingga jenjang tertinggi dengan negara membiayai pendidikan, akan tetapi realitanya bahwa terdapat masyarakat tidak mampu mengakses pendidikan karena biaya pendidikan yang tinggi.
Pelaksanaan pendidikan juga masih terdapat beberapa permasalahan, seperti siswa SMA yang tidak mampu berhitung dan mengeja bacaan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang melangit, tapi masih terdapat permasalahan yang fatal seperti pengajaran calistung.
Pendidikan mampu mempertahankan keadaan, hal ini yang dimaksud adalah di suatu negeri orang-orang yang terdidik yang memiliki jabatan cenderung tidak memprioritaskan pendidikan serta fokus ke hal yang lain.
Terdapat suatu premis bahwa “mereka tidak memprioritaskan pendidikan untuk mempertahankan status quo”. Premis ini berkaitan dengan pendidikan memberikan dampak pada perubahan sehingga terdapat hubungan antara pendidikan mampu mempertahankan keadaan dengan pendidikan memberikan dampak pada perubahan.
Orang-orang terdidik yang menjabat di pemerintahan cenderung fokus pada pembangunan, makanan anak-anak, dana negara yang dilindungi satu lembaga, dan lain-lain. Sementara hal fundamental untuk kemajuan negara adalah pendidikan.
Orang-orang di pemerintahan mendapatkan privilege kemewahan terkhusus pada tahta, dan harta. Pada tahta menunjukkan bahwa kekuasaan dapat kewenangan untuk melakukan sesuatu dan memiliki pengaruh untuk mempengaruhi pihak yang lain untuk mengikutinya.
Oleh karena itu, program kerja yang diinginkan oleh pihak kekuasaan yang tertinggi diikuti pihak bawahannya. Orientasi program kerja pada pemerintahan menunjukkan pendidikan sebagai orientasi sekunder.
Pada harta bahwa orang-orang terdidik yang memiliki jabatan mengalami peningkatan jumlah pendapatan, oleh karena itu orang-orang yang terdidik yang masuk dalam pemerintahan dengan visi misi “Melakukan perubahan dari dalam” dikalahkan dengan privilege kemewahan.
Pendidikan sebagai senjata merubah keadaan. Pada masa lampau, ketika Inggris menjajah India yang disebut imperialisme setengah liberal (penjajah memberikan kekuasaan yang sangat terbatas kepada petinggi yang dijajah). India melakukan perjuangan politik kepada Ingris sehingga dapat mendirikan perindustrian besar, pertanian besar, dan perdagangan internasional.
Inggris memberikan pendidikan kepada india dari jenjang bawah hingga jenjang tertinggi (universitas). Hadirnya pendidikan di India melahirkan tokoh-tokoh, seperti Mahatma Gandhi, Das, Tagore, Dr. C. Bose. dan Dr. Naye serta dalam waktu yang singkat pendidikan di India melahirkan golongan-golongan terpelajar.
Alhasil timbul gerakan-gerakan perlawanan kepada inggris (penjajah), seperti gerakan boikot barang-barang inggris ke india dan mengekspor kapas ke inggris. Perlawanan India memenangkan pertarungan bahwa pabrik tenun dikelola oleh orang India serta menghadirkan Undang-Undang Perdagangan untuk melindungi kapas dari India.
Cerita penjajahan Inggris terhadap India menunjukkan bahwa pendidikan mampu merubah nasib suatu bangsa dengan lahirnya tokoh-tokoh pemimpin gerakan yang mampu mengusik golongan-golongan yang menindas.
Dalam artian, secara sadar dengan pendidikan bahwa kita menyadari banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dan kebijakan-kebijakan yang hanya yang mementingkan golongannya sendiri. Kesadaran ini sebagai senjata untuk mengusik pikiran Pejabat Pemerintah.
“Mereka Takut Kita Pintar karena akan mengusik kemewahan yang telah diperjuangkan”
Penulis: Fatwa.