Paradoks Mencintai dan Membenci Media Sosial
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Matahari mungkin belum
sepenuhnya menyapa jendela kamar, dan kesadaran kita belum terkumpul seratus
persen. Namun, ada satu refleks motorik yang hampir dimiliki oleh mayoritas
manusia modern saat ini: tangan kanan meraba-raba meja nakas, mencari benda
pipih bercahaya, dan membuka kunci layar.
Sebelum kita membasuh muka atau menyapa orang di rumah, kita
sudah lebih dulu menyapa algoritma. Kita mengecek notifikasi Instagram, melihat
keributan terbaru di X (Twitter), atau sekadar scrolling tanpa tujuan di
TikTok.
Ini adalah ritual pagi abad ke-21. Sebuah ritual yang
menandai dimulainya hubungan "benci tapi rindu" kita dengan media
sosial.
Kita hidup di era dimana media sosial telah bermetamorfosis
menjadi entitas yang membingungkan. Ia bukan lagi sekadar aplikasi tambahan di
ponsel pintar kita; ia telah menjadi perpanjangan dari sistem saraf kita
sendiri.
Namun, dibalik kemudahan konektivitas itu, tersimpan sebuah
paradoks besar yang pelan-pelan menggerogoti kewarasan kita. Kita sadar bahwa
tempat itu beracun, tapi kita juga sadar bahwa kita tidak bisa benar-benar
meninggalkannya. Kita terjebak dalam sebuah labirin digital dimana pintu
keluarnya terkunci oleh kebutuhan ekonomi dan tekanan sosial.
Sisi Gelap: Ketika "Sosial" Membuat Kita
Asosial
Mari kita bicara jujur tentang apa yang media sosial lakukan
pada otak kita. Di satu sisi, platform-platform ini dirancang oleh
insinyur-insinyur jenius di Silicon Valley dengan satu tujuan utama: mencuri
atensi kita selama mungkin. Mereka memanipulasi dopamin di otak kita,
memberikan hadiah-hadiah kecil berupa likes, komentar, dan views yang
membuat kita ketagihan.
Namun, efek samping dari kecanduan ini sangat nyata dan
destruktif. Media sosial telah menjadi etalase raksasa di mana semua orang
memajang "versi terbaik" dari hidup mereka yang sudah dikurasi. Kita
melihat teman SMA yang baru saja liburan ke Eropa, rekan kerja yang
dipromosikan jabatannya, atau influencer yang kulitnya tampak tanpa pori-pori.
Secara sadar, kita tahu itu hanya highlight reel. Kita tahu
ada filter, ada angle kamera, dan ada realita yang disembunyikan. Namun, secara
bawah sadar, otak purba kita tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan.
Inilah akar dari epidemik rasa insecure massal. Kita
membandingkan "belakang panggung" kehidupan kita yang berantakan,
penuh cucian kotor dan tagihan menumpuk, dengan "panggung utama"
orang lain yang berkilauan. Akibatnya? Rasa tidak cukup. Rasa tertinggal.
Depresi terselubung yang datang dari perasaan bahwa hidup orang lain jauh lebih
progresif daripada hidup kita sendiri.
Belum lagi masalah produktivitas. Berapa kali kita berniat
membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan WhatsApp penting, tapi berakhir
terjebak dalam lubang hitam Reels atau Shorts selama satu jam? Kemampuan kita
untuk fokus (deep work) telah dihancurkan oleh konten berdurasi 15 detik. Pola
pikir kita berubah menjadi instan; kita menginginkan gratifikasi segera. Kita
menjadi tidak sabaran, mudah bosan, dan kehilangan kemampuan untuk menikmati
momen hening.
Bahkan perilaku kita pun berubah. Kita mulai menilai momen
berharga berdasarkan seberapa "Instagramable" momen tersebut. Makanan
tidak lagi dinikmati rasanya dulu, tapi estetikanya. Konser musik tidak
lagi dinikmati suaranya, tapi seberapa bagus footage yang bisa kita rekam untuk
Story. Kita hadir secara fisik, tapi absen secara mental. Kita menjadi zombie
yang lapar akan validasi maya.
Sisi Tak Terelakkan: Kenapa Kita Tidak Bisa "Log
Out" Selamanya?
Jika media sosial begitu buruk bagi kesehatan mental,
mengapa kita tidak menghapusnya saja? Mengapa tidak kembali ke era SMS dan
telepon rumah? Di sinilah letak paradoks utamanya. Jawabannya sederhana namun
menyakitkan: Kita tidak bisa.
Masyarakat kita telah merestrukturisasi dirinya sendiri di
sekitar pilar-pilar digital ini. Menghapus media sosial di tahun 2024 bukan
sekadar "detoks digital"; itu adalah bunuh diri sosial dan
profesional.
Pertama, mari lihat dari sisi pekerjaan. Di banyak industri,
media sosial bukan lagi opsi, melainkan kewajiban. Seorang desainer grafis
butuh Instagram atau Behance sebagai portofolio. Seorang jurnalis butuh Twitter
untuk memantau berita real-time. Seorang pemilik UMKM butuh TikTok Shop untuk
menjangkau pasar.
Bahkan untuk profesi korporat biasa, LinkedIn adalah
"kartu nama" wajib. Absen dari platform ini seringkali diterjemahkan
sebagai tidak kompeten, tidak up-to-date, atau lebih parah lagi: tidak eksis.
Saya punya teman yang mencoba menghapus WhatsApp demi
ketenangan batin. Hasilnya? Dia ketinggalan informasi rapat, dianggap sombong
oleh klien, dan akhirnya dikucilkan dari pergaulan kantor karena semua lelucon
dan rencana makan siang dibahas di grup.
Tuntutan pekerjaan memaksa kita untuk tetap "online".
Bos kita mengirim revisi lewat WhatsApp, klien menghubungi lewat DM Instagram.
Batas antara ruang pribadi dan ruang kerja menjadi kabur, dan media sosial
adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.
Kedua, normalisasi masyarakat. Hari ini, pertanyaan
"Apa nama Instagram-mu?" sama lumrahnya dengan "Siapa
namamu?". Media sosial telah menjadi KTP kedua. Ketika kita bertemu orang
baru, kita memvalidasi eksistensi mereka dengan mengecek jejak digitalnya. Jika
seseorang tidak memiliki jejak digital sama sekali, kita justru menaruh curiga.
Apakah dia orang jahat? Apakah dia buronan? Atau apakah dia
aneh? Masyarakat telah menormalisasi pembagian privasi sebagai bentuk
partisipasi sosial. Tidak mengunggah momen penting dianggap tidak merayakannya.
Ketiga, fungsi integralnya yang tak terbantahkan. Kita harus
mengakui, seburuk apapun dampaknya, media sosial adalah alat yang sangat
powerful. Ia mendemokratisasi informasi. Kita bisa belajar memasak, belajar
investasi, hingga belajar bahasa asing secara gratis dari konten kreator.
Ia menjadi ruang bagi gerakan sosial untuk tumbuh (ingat
bagaimana kasus ketidakadilan sering viral dulu baru ditangani aparat?). Ia
menghubungkan keluarga yang terpisah benua.
Bagi mereka yang introvert atau yang tinggal di lingkungan
terisolasi, media sosial adalah jendela dunia. Ia memberikan rasa memiliki
(sense of belonging) pada komunitas-komunitas niche yang tidak bisa ditemukan
di dunia nyata. Seorang pecinta buku langka di pelosok desa bisa berdiskusi
dengan profesor sastra di ibu kota berkat Twitter.
Jadi, kita berada dalam posisi tawar yang lemah. Kita
membenci kecemasan yang ditimbulkannya, tapi kita membutuhkan utilitas
yang ditawarkannya.
Menari di Antara Dua Kutub
Situasi ini menciptakan sebuah disonansi kognitif yang
melelahkan. Kita mengeluh tentang betapa toxic-nya netizen, tapi kita sendiri
ikut berkomentar. Kita mengeluh tentang hilangnya privasi, tapi kita sendiri
memposting lokasi kita berada.
Media sosial telah menjadi seperti gula bagi masyarakat
modern. Kita tahu konsumsi berlebihan akan menyebabkan diabetes (dalam hal ini,
penyakit mental), tapi gula sudah tercampur dalam hampir semua makanan yang
kita konsumsi sehari-hari, Menghindarinya sepenuhnya berarti kita tidak bisa
makan "menu" yang sama dengan orang lain.
Lantas, apa yang terjadi pada jiwa manusia yang hidup dalam
paradoks ini?
Kita menjadi makhluk yang ambivalen. Kita belajar untuk
memakai topeng digital yang tebal. Kita belajar memilah mana emosi yang
"layak tayang" dan mana yang harus dipendam sendiri. Kita menjadi
sangat rentan namun di saat yang sama harus terlihat sangat kuat.
Paradoks ini juga menciptakan standar ganda dalam moralitas
kita. Kita memaki orang yang melakukan flexing, padahal dalam hati kecil kita
ingin memiliki apa yang mereka pamerkan. Kita menyerukan "kesehatan
mental" di Bio profil kita, tapi jari kita dengan ringan mengetik komentar
jahat pada akun selebriti yang melakukan kesalahan sepele.
Media sosial memperbesar sifat-sifat dasar manusia baik yang
mulia maupun yang buruk dan memantulkannya kembali ke wajah kita dengan
resolusi tinggi. Ia bukan sekadar alat; ia adalah cermin retak yang mendistorsi
persepsi kita tentang realitas.
Kesimpulan: Berdamai dengan Monster di Saku Kita
Pada akhirnya, esai ini tidak bertujuan untuk memberikan
solusi instan, karena memang tidak ada obat ajaib untuk fenomena sosiologis
sebesar ini. Kita tidak bisa serta merta membakar ladang digital ini hanya
karena banyak ilalang yang tumbuh di sana, sebab padi yang kita makan juga
tumbuh di tanah yang sama.
Kita harus menerima kenyataan pahit bahwa media sosial
adalah bagian integral dari evolusi masyarakat kita saat ini. Ia adalah pasar,
alun-alun kota, kantor berita, dan panggung hiburan yang digabung menjadi satu
aplikasi. Menolak keberadaannya adalah menolak realitas zaman.
Namun, menyadari paradoks ini adalah langkah awal yang
penting. Kita perlu sadar bahwa rasa lelah, rasa insecure, dan rasa cemas itu
valid. Itu bukan tanda kelemahan kita, melainkan respons alami otak manusia
yang belum berevolusi cukup cepat untuk menangani banjir informasi digital.
Mungkin, kuncinya bukan pada "meninggalkan"
(karena itu nyaris mustahil bagi banyak orang), melainkan pada
"mengendalikan". Kita perlu belajar menjadi tuan, bukan budak dari
algoritma. Kita perlu membangun batasan yang tegas: kapan harus bekerja, kapan
harus bersosialisasi secara maya, dan kapan harus meletakkan ponsel itu,
melihat ke luar jendela, dan menyadari bahwa dunia nyata dengan segala
ketidaksempurnaan dan keheningannya masih jauh lebih indah daripada piksel
manapun di layar kaca.
Media sosial mungkin adalah paradoks terbesar abad ini:
racun yang sekaligus menjadi penawarnya, penjara yang sekaligus menjadi
jendela. Dan tugas kita, sebagai manusia yang terjebak di antaranya, adalah
mencari celah untuk tetap bernafas lega di tengah hiruk-pikuk notifikasi yang
tak pernah tidur.
Penulis: Jovi Fernando Setiawan, di waktu luang-nya
suka untuk menulis sastra dan bermusik, setelah lulus dari SMA Negeri 02
Ungaran dia bekerja di Alfamart dengan jabatan terakhir sebagai Assistance
Chief Of Store selama 3 tahun, namun memutuskan resign di karenakan masalah
kesehatan dan sekarang bekerja di 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep sebagai pemandu
wisata sambil menempuh pendidikan Bahasa Inggris (S1) di Universitas Terbuka.