Thu, 22 Jan 2026
Esai / Jovi Fernando Setiawan / Jan 12, 2026

Paradoks Mencintai dan Membenci Media Sosial

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Matahari mungkin belum sepenuhnya menyapa jendela kamar, dan kesadaran kita belum terkumpul seratus persen. Namun, ada satu refleks motorik yang hampir dimiliki oleh mayoritas manusia modern saat ini: tangan kanan meraba-raba meja nakas, mencari benda pipih bercahaya, dan membuka kunci layar.

Sebelum kita membasuh muka atau menyapa orang di rumah, kita sudah lebih dulu menyapa algoritma. Kita mengecek notifikasi Instagram, melihat keributan terbaru di X (Twitter), atau sekadar scrolling tanpa tujuan di TikTok.

Ini adalah ritual pagi abad ke-21. Sebuah ritual yang menandai dimulainya hubungan "benci tapi rindu" kita dengan media sosial.

Kita hidup di era dimana media sosial telah bermetamorfosis menjadi entitas yang membingungkan. Ia bukan lagi sekadar aplikasi tambahan di ponsel pintar kita; ia telah menjadi perpanjangan dari sistem saraf kita sendiri.

Namun, dibalik kemudahan konektivitas itu, tersimpan sebuah paradoks besar yang pelan-pelan menggerogoti kewarasan kita. Kita sadar bahwa tempat itu beracun, tapi kita juga sadar bahwa kita tidak bisa benar-benar meninggalkannya. Kita terjebak dalam sebuah labirin digital dimana pintu keluarnya terkunci oleh kebutuhan ekonomi dan tekanan sosial.

Sisi Gelap: Ketika "Sosial" Membuat Kita Asosial

Mari kita bicara jujur tentang apa yang media sosial lakukan pada otak kita. Di satu sisi, platform-platform ini dirancang oleh insinyur-insinyur jenius di Silicon Valley dengan satu tujuan utama: mencuri atensi kita selama mungkin. Mereka memanipulasi dopamin di otak kita, memberikan hadiah-hadiah kecil berupa likes, komentar, dan views yang membuat kita ketagihan.

Namun, efek samping dari kecanduan ini sangat nyata dan destruktif. Media sosial telah menjadi etalase raksasa di mana semua orang memajang "versi terbaik" dari hidup mereka yang sudah dikurasi. Kita melihat teman SMA yang baru saja liburan ke Eropa, rekan kerja yang dipromosikan jabatannya, atau influencer yang kulitnya tampak tanpa pori-pori.

Secara sadar, kita tahu itu hanya highlight reel. Kita tahu ada filter, ada angle kamera, dan ada realita yang disembunyikan. Namun, secara bawah sadar, otak purba kita tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan.

Inilah akar dari epidemik rasa insecure massal. Kita membandingkan "belakang panggung" kehidupan kita yang berantakan, penuh cucian kotor dan tagihan menumpuk, dengan "panggung utama" orang lain yang berkilauan. Akibatnya? Rasa tidak cukup. Rasa tertinggal. Depresi terselubung yang datang dari perasaan bahwa hidup orang lain jauh lebih progresif daripada hidup kita sendiri.

Belum lagi masalah produktivitas. Berapa kali kita berniat membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan WhatsApp penting, tapi berakhir terjebak dalam lubang hitam Reels atau Shorts selama satu jam? Kemampuan kita untuk fokus (deep work) telah dihancurkan oleh konten berdurasi 15 detik. Pola pikir kita berubah menjadi instan; kita menginginkan gratifikasi segera. Kita menjadi tidak sabaran, mudah bosan, dan kehilangan kemampuan untuk menikmati momen hening.

Bahkan perilaku kita pun berubah. Kita mulai menilai momen berharga berdasarkan seberapa "Instagramable" momen tersebut. Makanan tidak lagi dinikmati rasanya dulu, tapi estetikanya. Konser musik tidak lagi dinikmati suaranya, tapi seberapa bagus footage yang bisa kita rekam untuk Story. Kita hadir secara fisik, tapi absen secara mental. Kita menjadi zombie yang lapar akan validasi maya.

Sisi Tak Terelakkan: Kenapa Kita Tidak Bisa "Log Out" Selamanya?

Jika media sosial begitu buruk bagi kesehatan mental, mengapa kita tidak menghapusnya saja? Mengapa tidak kembali ke era SMS dan telepon rumah? Di sinilah letak paradoks utamanya. Jawabannya sederhana namun menyakitkan: Kita tidak bisa.

Masyarakat kita telah merestrukturisasi dirinya sendiri di sekitar pilar-pilar digital ini. Menghapus media sosial di tahun 2024 bukan sekadar "detoks digital"; itu adalah bunuh diri sosial dan profesional.

Pertama, mari lihat dari sisi pekerjaan. Di banyak industri, media sosial bukan lagi opsi, melainkan kewajiban. Seorang desainer grafis butuh Instagram atau Behance sebagai portofolio. Seorang jurnalis butuh Twitter untuk memantau berita real-time. Seorang pemilik UMKM butuh TikTok Shop untuk menjangkau pasar.

Bahkan untuk profesi korporat biasa, LinkedIn adalah "kartu nama" wajib. Absen dari platform ini seringkali diterjemahkan sebagai tidak kompeten, tidak up-to-date, atau lebih parah lagi: tidak eksis.

Saya punya teman yang mencoba menghapus WhatsApp demi ketenangan batin. Hasilnya? Dia ketinggalan informasi rapat, dianggap sombong oleh klien, dan akhirnya dikucilkan dari pergaulan kantor karena semua lelucon dan rencana makan siang dibahas di grup.

Tuntutan pekerjaan memaksa kita untuk tetap "online". Bos kita mengirim revisi lewat WhatsApp, klien menghubungi lewat DM Instagram. Batas antara ruang pribadi dan ruang kerja menjadi kabur, dan media sosial adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.

Kedua, normalisasi masyarakat. Hari ini, pertanyaan "Apa nama Instagram-mu?" sama lumrahnya dengan "Siapa namamu?". Media sosial telah menjadi KTP kedua. Ketika kita bertemu orang baru, kita memvalidasi eksistensi mereka dengan mengecek jejak digitalnya. Jika seseorang tidak memiliki jejak digital sama sekali, kita justru menaruh curiga.

Apakah dia orang jahat? Apakah dia buronan? Atau apakah dia aneh? Masyarakat telah menormalisasi pembagian privasi sebagai bentuk partisipasi sosial. Tidak mengunggah momen penting dianggap tidak merayakannya.

Ketiga, fungsi integralnya yang tak terbantahkan. Kita harus mengakui, seburuk apapun dampaknya, media sosial adalah alat yang sangat powerful. Ia mendemokratisasi informasi. Kita bisa belajar memasak, belajar investasi, hingga belajar bahasa asing secara gratis dari konten kreator.

Ia menjadi ruang bagi gerakan sosial untuk tumbuh (ingat bagaimana kasus ketidakadilan sering viral dulu baru ditangani aparat?). Ia menghubungkan keluarga yang terpisah benua.

Bagi mereka yang introvert atau yang tinggal di lingkungan terisolasi, media sosial adalah jendela dunia. Ia memberikan rasa memiliki (sense of belonging) pada komunitas-komunitas niche yang tidak bisa ditemukan di dunia nyata. Seorang pecinta buku langka di pelosok desa bisa berdiskusi dengan profesor sastra di ibu kota berkat Twitter.

Jadi, kita berada dalam posisi tawar yang lemah. Kita membenci kecemasan yang ditimbulkannya, tapi kita membutuhkan utilitas yang ditawarkannya.

Menari di Antara Dua Kutub

Situasi ini menciptakan sebuah disonansi kognitif yang melelahkan. Kita mengeluh tentang betapa toxic-nya netizen, tapi kita sendiri ikut berkomentar. Kita mengeluh tentang hilangnya privasi, tapi kita sendiri memposting lokasi kita berada.

Media sosial telah menjadi seperti gula bagi masyarakat modern. Kita tahu konsumsi berlebihan akan menyebabkan diabetes (dalam hal ini, penyakit mental), tapi gula sudah tercampur dalam hampir semua makanan yang kita konsumsi sehari-hari, Menghindarinya sepenuhnya berarti kita tidak bisa makan "menu" yang sama dengan orang lain.

Lantas, apa yang terjadi pada jiwa manusia yang hidup dalam paradoks ini?

Kita menjadi makhluk yang ambivalen. Kita belajar untuk memakai topeng digital yang tebal. Kita belajar memilah mana emosi yang "layak tayang" dan mana yang harus dipendam sendiri. Kita menjadi sangat rentan namun di saat yang sama harus terlihat sangat kuat.

Paradoks ini juga menciptakan standar ganda dalam moralitas kita. Kita memaki orang yang melakukan flexing, padahal dalam hati kecil kita ingin memiliki apa yang mereka pamerkan. Kita menyerukan "kesehatan mental" di Bio profil kita, tapi jari kita dengan ringan mengetik komentar jahat pada akun selebriti yang melakukan kesalahan sepele.

Media sosial memperbesar sifat-sifat dasar manusia baik yang mulia maupun yang buruk dan memantulkannya kembali ke wajah kita dengan resolusi tinggi. Ia bukan sekadar alat; ia adalah cermin retak yang mendistorsi persepsi kita tentang realitas.

Kesimpulan: Berdamai dengan Monster di Saku Kita

Pada akhirnya, esai ini tidak bertujuan untuk memberikan solusi instan, karena memang tidak ada obat ajaib untuk fenomena sosiologis sebesar ini. Kita tidak bisa serta merta membakar ladang digital ini hanya karena banyak ilalang yang tumbuh di sana, sebab padi yang kita makan juga tumbuh di tanah yang sama.

Kita harus menerima kenyataan pahit bahwa media sosial adalah bagian integral dari evolusi masyarakat kita saat ini. Ia adalah pasar, alun-alun kota, kantor berita, dan panggung hiburan yang digabung menjadi satu aplikasi. Menolak keberadaannya adalah menolak realitas zaman.

Namun, menyadari paradoks ini adalah langkah awal yang penting. Kita perlu sadar bahwa rasa lelah, rasa insecure, dan rasa cemas itu valid. Itu bukan tanda kelemahan kita, melainkan respons alami otak manusia yang belum berevolusi cukup cepat untuk menangani banjir informasi digital.

Mungkin, kuncinya bukan pada "meninggalkan" (karena itu nyaris mustahil bagi banyak orang), melainkan pada "mengendalikan". Kita perlu belajar menjadi tuan, bukan budak dari algoritma. Kita perlu membangun batasan yang tegas: kapan harus bekerja, kapan harus bersosialisasi secara maya, dan kapan harus meletakkan ponsel itu, melihat ke luar jendela, dan menyadari bahwa dunia nyata dengan segala ketidaksempurnaan dan keheningannya masih jauh lebih indah daripada piksel manapun di layar kaca.

Media sosial mungkin adalah paradoks terbesar abad ini: racun yang sekaligus menjadi penawarnya, penjara yang sekaligus menjadi jendela. Dan tugas kita, sebagai manusia yang terjebak di antaranya, adalah mencari celah untuk tetap bernafas lega di tengah hiruk-pikuk notifikasi yang tak pernah tidur.



Penulis: Jovi Fernando Setiawan, di waktu luang-nya suka untuk menulis sastra dan bermusik, setelah lulus dari SMA Negeri 02 Ungaran dia bekerja di Alfamart dengan jabatan terakhir sebagai Assistance Chief Of Store selama 3 tahun, namun memutuskan resign di karenakan masalah kesehatan dan sekarang bekerja di 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep sebagai pemandu wisata sambil menempuh pendidikan Bahasa Inggris (S1) di Universitas Terbuka.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.