Ruang Kelas Kosong
Ruang Kelas Kosong
Aku menuliskan namamu di papan tulis,
kapurnya berderit seperti gigi gelisah.
Kau masuk, menatapku,
dan semua rumus terhapus sendiri.
Tinggal garis-garis acak,
seperti anak kecil menggambar rumah.
Mungkin cinta memang bukan pelajaran,
tapi semacam mainan yang membandel,
tetap hidup di sudut kepala
meski guru sudah pulang.
*
Arsitektur Tubuhmu
Aku menggambar tubuhmu dengan jangka dan penggaris,
sudutnya presisi, garisnya nyaris sempurna.
Tapi setiap kali kusentuh,
rumah itu runtuh seperti gedung tanpa pondasi.
Kau adalah blueprint yang kubakar
di tengah malam,
menjadi abu biru,
menjadi debu di paru-paruku.
Aku batuk—
ternyata cinta adalah reruntuhan
yang tetap ingin kutinggali.
*
Langit Berasap
Kau mencintaiku di tengah kabut asap.
Kita batuk bersama,
mencari oksigen di saku jaket.
Ciuman terasa getir,
seperti bara tersisa di puntung hutan.
Apakah cinta masih cinta
jika paru-paru kita
adalah harga yang dibakar?
*
Hutan yang Gugur di Dadaku
Aku mencintaimu seperti pohon terakhir,
kering, rapuh, menunggu kapak.
Setiap pelukanmu terdengar
seperti ranting patah.
Dan kita tahu,
cinta yang ditebang terlalu cepat
tak akan pernah tumbuh lagi.
*
Badai di Atas Ranjang
Seprai kita bergulung seperti ombak,
angin kencang merobek tirai.
Kau berbisik, "ini hanya cinta,"
tapi aku tahu:
kita sedang tidur di mata topan
yang akan menelan seluruh kota.
(Yogyakarta, 2025)
Penulis: Salman Alade, lahir di Gorontalo, kini menetap di Yogyakarta sebagai mahasiswa doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa. Menulis puisi, cerpen, esai, opini, dan buku cerita anak sebagai cara memahami bahasa, realitas, dan ingatan. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga aktif meneliti literasi anak melalui buku cerita. Karyanya tersebar di berbagai media, antara lain Omong-Omong Media, Besok Libur, Metafor.Id, Langgam Pustaka, dan Rubrik Persepsi Gorontalo.