Mon, 12 Oct 2026
Puisi / Sarah Meutia / Oct 12, 2026

Sebelum Laut Menghafal Namaku

Sebelum Laut Menghafal Namaku

Aku pernah berdiri

di ambang laut

dengan sepotong nama

yang hampir karam di mulutku.

 

Ombak datang

membawa bahasa purba,

mengucapkan sesuatu

yang tak mampu diterjemahkan

oleh siapa pun selain kesunyian.

 

Di kejauhan,

matahari menumpahkan darahnya

ke permukaan air.

 

Senja pun menjadi luka

yang terlalu indah

untuk disebut kehilangan.

 

Aku bertanya kepada laut:

ke mana perginya

segala yang pernah kita cintai?

 

Ia tidak menjawab.

Hanya gelombang

yang berulang-ulang datang,

kemudian pergi,

seolah mengajarkan satu perkara:

 

bahwa tak ada yang benar-benar tinggal

di dunia ini.

Bahkan karang

yang tampak abadi

suatu hari akan menjadi pasir.

 

Maka sebelum laut

menghafal namaku,

sebelum angin menghapus jejakku,

izinkan aku menjadi sebentar saja

menjadi sebuah kenangan

yang pernah berarti

bagi seseorang.


*


Arsip Hujan 

Di lipatan senja yang kehilangan warna,

hujan menyimpan nama-nama

yang tak sempat dipanggil pulang.

Ia jatuh—bukan sebagai air,

melainkan serpih kenangan

dari langit yang pernah mengenal doa.

           

Pada jendela yang berembun,

aku membaca aksara yang tak selesai:

tentang sebuah musim

yang gugur sebelum waktunya,

tentang daun-daun

yang memilih menjadi tanah

daripada terus menggantungkan harapan

pada ranting yang rapuh.

 

Malam mengarsipkan semuanya

dengan tinta yang tak kasatmata.

Tangis, kehilangan,

dan sepasang mata

yang terlalu lama menunggu.

 

Kelak, ketika hujan berhenti,

barangkali tak ada lagi yang tersisa

kecuali aroma tanah

dan kesunyian yang perlahan mengering.

 

Namun langit akan selalu tahu:

pernah ada seseorang

yang menitipkan seluruh rindunya

kepada hujan,

lalu membiarkannya jatuh

tanpa alamat.

 

*


Di Rahim Senyap

Di rahim senyap

aku dilahirkan kembali

sebagai gema

dari sesuatu yang telah lama tiada.

 

Tak ada lonceng,

tak ada cahaya yang menyambut—

hanya malam

dengan tangan-tangannya yang panjang

mengusap dahi bumi.

 

Aku belajar bahwa sunyi

bukanlah ketiadaan.

Ia adalah ruang

tempat segala yang patah

menyusun dirinya sendiri.

 

Di sana,

aku menemukan namaku

terukir pada tulang waktu:

sebuah aksara tua

yang nyaris dilupakan angin.

 

Barangkali hidup

memang demikian—

seperti burung yang kehilangan langit,

namun tetap mengepak

meski cakrawala

telah lama menutup pintunya.

 

Dan bila esok tak membawa fajar,

biarlah aku tinggal

sebagai nyala kecil

di antara reruntuhan malam:

 

tak cukup untuk menerangi dunia,

namun cukup

untuk membuktikan

bahwa gelap pun

pernah dikalahkan.


*

 

Perempuan Yang Menjahit Fajar

Setiap malam

ia duduk di tepi jendela,

menjahit sisa-sisa cahaya

pada kain gelap milik langit.

 

Jarumnya terbuat dari kesabaran,

benangnya dari doa-doa

yang tak pernah sampai kepada siapa pun.

 

Ia menjahit satu demi satu

retakan pada cakrawala,

sebab ia tahu

fajar tak selalu datang

dengan sendirinya.

 

Kadang,

pagi harus diperjuangkan

oleh seseorang

yang diam-diam

telah kehilangan seluruh malamnya.

 

Tangannya terluka.

Matanya lelah.

Namun ia tetap menjahit.

 

Sebab di balik tirai yang tertutup,

ada dunia

yang sedang menunggu cahaya.

 

Dan ketika matahari akhirnya terbit,

tak seorang pun mengetahui

bahwa warna keemasan itu

lahir dari luka

yang disembunyikan sepasang tangan.

 

Ia hanya tersenyum.

 

Kemudian kembali menutup jendela,

menyimpan jarum dan benang,

seolah fajar yang baru saja lahir

bukanlah hasil dari perjuangannya.

 

Begitulah ia mencintai dunia:

 

dengan menjadi cahaya

tanpa pernah meminta

namanya disebut

oleh pagi.

 

*


Perpustakaan Yang Tidak Pernah Tidur 

Di dalam kepalaku

ada sebuah perpustakaan

yang tidak mengenal malam.

 

Rak-raknya dipenuhi

nama-nama yang pernah singgah,

tanggal-tanggal yang telah pudar,

dan percakapan

yang tak pernah selesai.

 

Ada buku tentang masa kanak-kanak

dengan halaman yang berbau tanah setelah hujan.

 

Ada buku tentang cinta

yang beberapa lembarnya

sengaja kucabik

agar luka tidak menemukan jalan pulang.

 

Ada pula sebuah buku tanpa judul

yang kusimpan paling tinggi.

 

Aku tak pernah berani membukanya.

Sebab di sana

barangkali tersimpan diriku

yang dahulu pernah percaya

bahwa segala sesuatu

akan tinggal selamanya.

 

Setiap malam,

perpustakaan itu menyalakan lampunya.

 

Kenangan berjalan di antara rak,

membuka pintu-pintu yang terkunci,

lalu membaca kembali

kehidupan yang kukira telah kulupakan.

 

Kini aku mengerti

melupakan bukanlah

menghapus sebuah buku.

 

Ia hanya berarti

berhenti membacanya

meski kita tahu

buku itu masih ada.


*


Jam Yang Berhenti di Rumah Tua 

Di sebuah rumah tua

sebuah jam berhenti

pada pukul tiga lewat tujuh belas.

 

Tak seorang pun tahu

mengapa jarumnya menolak bergerak.

Debu menutup wajahnya,

laba-laba menenun sunyi

di antara angka-angka.

 

Di bawahnya,

sebuah kursi kosong

masih menghadap jendela.

 

Seolah seseorang

baru saja pergi

dan akan kembali

sebelum matahari tenggelam.

 

Musim berganti.

Kayu lapuk.

Cat mengelupas.

Angin membawa daun-daun kering

ke ruang tamu.

 

Namun jam itu

tetap menjaga pukul yang sama.

 

Barangkali waktu

tidak benar-benar berhenti.

 

Barangkali hanya hati

yang menolak bergerak

dari sebuah peristiwa

yang telah lama berlalu.

 

Sebab ada kehilangan

yang tidak membutuhkan makam

untuk menjadi abadi.

 

Cukup sebuah rumah,

sebuah kursi,

dan sebuah jam

yang tak pernah sanggup

mengatakan:

sudah selesai.

 

*


Surat Yang Tak Pernah Sampai 


Ada sebuah surat

yang kutulis berkali-kali

namun tak pernah kukirim.

 

Bukan karena tak ada alamat,

melainkan karena aku takut

sebuah nama yang terlalu lama

kusimpan dalam dada

akan berubah menjadi asing

ketika sampai kepadamu.

 

Maka kusimpan surat itu

di antara buku-buku tua,

bersama bunga yang mengering

dan musim yang telah selesai.

 

Di dalamnya

ada begitu banyak kalimat

yang tak pernah menjadi suara:

 

tentang bagaimana matamu

pernah membuat pagi

terasa lebih panjang,

 

tentang bagaimana namamu

diam-diam tumbuh

di antara hari-hariku,

 

dan tentang betapa seringnya

aku hampir mengatakan—

 

namun selalu mengurungkannya

sebelum kata pertama

sempat menemukan udara.

 

Biarlah surat itu menjadi rahasia.

Sebab ada cinta

yang justru tetap indah

karena tidak pernah

meminta untuk dibaca.



Penulis: Sarah Meutia, merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Ia tertarik pada dunia bahasa dan sastra, terutama dalam menulis dan menuangkan ide melalui karya. Baginya, menulis menjadi salah satu cara untuk menyampaikan perasaan, pengalaman, dan pemikiran dalam bentuk yang sederhana tetapi tetap bermakna.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.