Sebelum Laut Menghafal Namaku
Sebelum Laut Menghafal Namaku
Aku pernah berdiri
di ambang laut
dengan sepotong nama
yang hampir karam di mulutku.
Ombak datang
membawa bahasa purba,
mengucapkan sesuatu
yang tak mampu diterjemahkan
oleh siapa pun selain kesunyian.
Di kejauhan,
matahari menumpahkan darahnya
ke permukaan air.
Senja pun menjadi luka
yang terlalu indah
untuk disebut kehilangan.
Aku bertanya kepada laut:
ke mana perginya
segala yang pernah kita cintai?
Ia tidak menjawab.
Hanya gelombang
yang berulang-ulang datang,
kemudian pergi,
seolah mengajarkan satu perkara:
bahwa tak ada yang benar-benar tinggal
di dunia ini.
Bahkan karang
yang tampak abadi
suatu hari akan menjadi pasir.
Maka sebelum laut
menghafal namaku,
sebelum angin menghapus jejakku,
izinkan aku menjadi sebentar saja
menjadi sebuah kenangan
yang pernah berarti
bagi seseorang.
*
Arsip Hujan
Di lipatan senja yang kehilangan warna,
hujan menyimpan nama-nama
yang tak sempat dipanggil pulang.
Ia jatuh—bukan sebagai air,
melainkan serpih kenangan
dari langit yang pernah mengenal doa.
Pada jendela yang berembun,
aku membaca aksara yang tak selesai:
tentang sebuah musim
yang gugur sebelum waktunya,
tentang daun-daun
yang memilih menjadi tanah
daripada terus menggantungkan harapan
pada ranting yang rapuh.
Malam mengarsipkan semuanya
dengan tinta yang tak kasatmata.
Tangis, kehilangan,
dan sepasang mata
yang terlalu lama menunggu.
Kelak, ketika hujan berhenti,
barangkali tak ada lagi yang tersisa
kecuali aroma tanah
dan kesunyian yang perlahan mengering.
Namun langit akan selalu tahu:
pernah ada seseorang
yang menitipkan seluruh rindunya
kepada hujan,
lalu membiarkannya jatuh
tanpa alamat.
*
Di Rahim Senyap
Di rahim senyap
aku dilahirkan kembali
sebagai gema
dari sesuatu yang telah lama tiada.
Tak ada lonceng,
tak ada cahaya yang menyambut—
hanya malam
dengan tangan-tangannya yang panjang
mengusap dahi bumi.
Aku belajar bahwa sunyi
bukanlah ketiadaan.
Ia adalah ruang
tempat segala yang patah
menyusun dirinya sendiri.
Di sana,
aku menemukan namaku
terukir pada tulang waktu:
sebuah aksara tua
yang nyaris dilupakan angin.
Barangkali hidup
memang demikian—
seperti burung yang kehilangan langit,
namun tetap mengepak
meski cakrawala
telah lama menutup pintunya.
Dan bila esok tak membawa fajar,
biarlah aku tinggal
sebagai nyala kecil
di antara reruntuhan malam:
tak cukup untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk membuktikan
bahwa gelap pun
pernah dikalahkan.
*
Perempuan Yang Menjahit Fajar
Setiap malam
ia duduk di tepi jendela,
menjahit sisa-sisa cahaya
pada kain gelap milik langit.
Jarumnya terbuat dari kesabaran,
benangnya dari doa-doa
yang tak pernah sampai kepada siapa pun.
Ia menjahit satu demi satu
retakan pada cakrawala,
sebab ia tahu
fajar tak selalu datang
dengan sendirinya.
Kadang,
pagi harus diperjuangkan
oleh seseorang
yang diam-diam
telah kehilangan seluruh malamnya.
Tangannya terluka.
Matanya lelah.
Namun ia tetap menjahit.
Sebab di balik tirai yang tertutup,
ada dunia
yang sedang menunggu cahaya.
Dan ketika matahari akhirnya terbit,
tak seorang pun mengetahui
bahwa warna keemasan itu
lahir dari luka
yang disembunyikan sepasang tangan.
Ia hanya tersenyum.
Kemudian kembali menutup jendela,
menyimpan jarum dan benang,
seolah fajar yang baru saja lahir
bukanlah hasil dari perjuangannya.
Begitulah ia mencintai dunia:
dengan menjadi cahaya
tanpa pernah meminta
namanya disebut
oleh pagi.
*
Perpustakaan Yang Tidak Pernah Tidur
Di dalam kepalaku
ada sebuah perpustakaan
yang tidak mengenal malam.
Rak-raknya dipenuhi
nama-nama yang pernah singgah,
tanggal-tanggal yang telah pudar,
dan percakapan
yang tak pernah selesai.
Ada buku tentang masa kanak-kanak
dengan halaman yang berbau tanah setelah hujan.
Ada buku tentang cinta
yang beberapa lembarnya
sengaja kucabik
agar luka tidak menemukan jalan pulang.
Ada pula sebuah buku tanpa judul
yang kusimpan paling tinggi.
Aku tak pernah berani membukanya.
Sebab di sana
barangkali tersimpan diriku
yang dahulu pernah percaya
bahwa segala sesuatu
akan tinggal selamanya.
Setiap malam,
perpustakaan itu menyalakan lampunya.
Kenangan berjalan di antara rak,
membuka pintu-pintu yang terkunci,
lalu membaca kembali
kehidupan yang kukira telah kulupakan.
Kini aku mengerti
melupakan bukanlah
menghapus sebuah buku.
Ia hanya berarti
berhenti membacanya
meski kita tahu
buku itu masih ada.
*
Jam Yang Berhenti di Rumah Tua
Di sebuah rumah tua
sebuah jam berhenti
pada pukul tiga lewat tujuh belas.
Tak seorang pun tahu
mengapa jarumnya menolak bergerak.
Debu menutup wajahnya,
laba-laba menenun sunyi
di antara angka-angka.
Di bawahnya,
sebuah kursi kosong
masih menghadap jendela.
Seolah seseorang
baru saja pergi
dan akan kembali
sebelum matahari tenggelam.
Musim berganti.
Kayu lapuk.
Cat mengelupas.
Angin membawa daun-daun kering
ke ruang tamu.
Namun jam itu
tetap menjaga pukul yang sama.
Barangkali waktu
tidak benar-benar berhenti.
Barangkali hanya hati
yang menolak bergerak
dari sebuah peristiwa
yang telah lama berlalu.
Sebab ada kehilangan
yang tidak membutuhkan makam
untuk menjadi abadi.
Cukup sebuah rumah,
sebuah kursi,
dan sebuah jam
yang tak pernah sanggup
mengatakan:
sudah selesai.
*
Surat Yang Tak Pernah Sampai
Ada sebuah surat
yang kutulis berkali-kali
namun tak pernah kukirim.
Bukan karena tak ada alamat,
melainkan karena aku takut
sebuah nama yang terlalu lama
kusimpan dalam dada
akan berubah menjadi asing
ketika sampai kepadamu.
Maka kusimpan surat itu
di antara buku-buku tua,
bersama bunga yang mengering
dan musim yang telah selesai.
Di dalamnya
ada begitu banyak kalimat
yang tak pernah menjadi suara:
tentang bagaimana matamu
pernah membuat pagi
terasa lebih panjang,
tentang bagaimana namamu
diam-diam tumbuh
di antara hari-hariku,
dan tentang betapa seringnya
aku hampir mengatakan—
namun selalu mengurungkannya
sebelum kata pertama
sempat menemukan udara.
Biarlah surat itu menjadi rahasia.
Sebab ada cinta
yang justru tetap indah
karena tidak pernah
meminta untuk dibaca.
Penulis: Sarah Meutia, merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Ia tertarik pada dunia bahasa dan sastra, terutama dalam menulis dan menuangkan ide melalui karya. Baginya, menulis menjadi salah satu cara untuk menyampaikan perasaan, pengalaman, dan pemikiran dalam bentuk yang sederhana tetapi tetap bermakna.