Sepulang Sore
Sepulang Sore
Berjalan beriringan,
dua langkah kecil, pelan sekali.
Takut di depan ada kerikil berserakan,
kita harus berhenti.
Padahal, sebagian kata belum sempat terucap.
Kita masih senang sekali
mendengar tawa kita sendiri
di antara riuh dan gemuruh cerita.
Sontak, ingin kubermukim
di kepalamu sehari saja,
sekadar menanyakan,
“Kamu makan sate dari tusuknya atau dipisah?”
Kita melangkah pelan sekali.
Daun-daun jatuh di tepi jalan.
Pada diam yang utuh —
melepas lelah, menyisakan tanya.
Sungguh, sore yang panjang.
Ingin menanyakan,
“Puncak kemarau kapan datang?”
*
Kopi Pertama
Paragraf ini dimulai
dari temu yang tak pernah bersuara,
tapi saling menceritakan.
Melewati musim, kota,
bahkan hidup yang berbeda.
Sampai aku lupa
mana sedetik, mana sebulan.
Dan entah sejak kapan
menunggu jadi lebih pelan—
terasa lebih lama,
selalu ingin diulang.
Kita menulis aksara,
membaca diksi-diksi indah
sebagai alasan untuk bertahan.
Dari kebetulan jatuh suka,
aku menemukan jawaban
bukan di kepala,
melainkan pada kopi pertama.
Hidupku bermekaran kembali,
belajar senang dan sadar,
seperti gelas kosong yang akhirnya terisi,
tak harus penuh sekali.
*
Halaman Tiga Jilid Dua
Membaca hidup seperti membaca waktu.
Ada yang singgah,
ada yang akhirnya berlabuh.
Perasaan beranjak mencari muara,
berkelana dengan senang hati,
mampir bersama secangkir teh melati.
Lalu kamu cerita harimu,
aku cerita kepalaku.
Perlahan berkelindan,
dengan logika yang akhirnya paham,
menyisakan tenang yang belum diberi nama.
Kita belajar menikmati teh melati,
meresapi bisik-bisik sanubari.
Jilid dua tidak harus tebal,
halaman tiga tidak harus panjang.
Penulis: Minhad Rahmaniyah.