Mon, 05 Oct 2026
Cerpen / Dwi Scativana Isnaeni / Oct 05, 2026

Ketika Lonceng Tak Lagi Berbunyi

"Tidak ada yang akan menulis nama kita di papan pelanggaran hari ini! Hari ini, kita urus tempat ini sendiri!"

Gani berseru parau, suaranya cempreng membelah keheningan lapangan upacara. Dengan kaos kaki warna-warni yang sengaja dipamerkan dan ujung kemeja dikeluarkan dari celana, ia berdiri tegak di atas podium pembina. Langkah sepatunya yang kotor meninggalkan jejak tanah basah di atas beton yang bersih.

Di sekeliling podium, lima ratus anak berseragam putih-abu-abu berdiri kaku seperti gerombolan domba yang kehilangan gembala. Gerbang besi SMA Garuda Mulia bergoyang pelan, berderit kaku ditiup angin Senin pagi yang membawa debu kering dari pekarangan. Tidak ada lonceng yang berdentang.

Pos satpam kosong, hanya menyisakan sebuah cangkir kopi dingin yang dikerumuni semut hitam dan selembar koran lama yang robek di lantai semen. Kabar tentang ruang tata usaha yang digembok akibat aksi mogok massal seluruh guru terkait sengketa uang tunjangan daerah sudah beredar lewat pesan singkat sejak subuh.

Bagi orang-orang necis di kantor dinas, lapangan yang penuh remaja tanpa pengawasan orang dewasa adalah tanda awal dari sebuah tawuran massal. Namun, bagi Gani dan sekelompok anak baris belakang, hari itu adalah hari kemerdekaan di mana angka-angka mati di papan tulis tidak lagi memiliki taring untuk mengecilkan harga diri mereka.

Kekacauan yang ditakuti orang kota tidak pernah datang melintasi pagar. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit leher, anak-anak itu bergerak dengan nalar mereka sendiri yang ganjil.

Rombongan anak yang biasanya tidur di kelas bergerak menuju bengkel mesin yang pengap oleh bau oli dingin. Mereka membedah mesin genset sekolah yang sudah mangkrak bertahun-tahun hingga tubuh mereka hitam oleh sisa jelaga karbon.

Menggunakan petunjuk dari gawai retak yang diletakkan di atas lantai semen, jemari mereka yang penuh noda hitam memilin ulang kabel dan membersihkan karburator, bertaruh dengan keringat demi menghidupkan kipas angin di aula yang sumpek.

Di ruang kesenian yang jendelanya pecah sebelah, sekelompok murid membuat lingkaran di atas lantai berdebu. Mereka merobek novel grafis asing, menerjemahkan kalimat-kalimatnya secara patungan dengan umpatan-umpatan lokal yang kasar namun tepat guna, tanpa perlu dipaksa mencatat teori majas kaku dari buku paket kementerian.

Bahkan di lapangan tengah, bola sepak ditendang dengan ritme yang berbeda. Mereka membuat bagan turnamen di atas tanah gembur menggunakan patahan ranting, menghitung probabilitas kemenangan dan sudut operan secara mandiri.

Satu bulan kemudian, ketika urusan uang tunjangan di kantor kabupaten mereda, rombongan guru dan kepala sekolah melangkah masuk melewati gerbang dengan wajah cemas dan napas memburu. Mereka sudah bersiap melihat kaca-kaca jendela yang hancur atau coretan kotor di dinding kelas.

Namun, langkah sepatu pantofel mereka mendadak mandek di selasar barat. Dari arah aula, deru mesin genset terdengar konstan dan halus, mengirimkan angin sejuk membelah lorong-lorong yang berdebu.

Di bawah pohon kamboja halaman tengah, sekelompok murid kelas XI sedang duduk melingkar sambil mendebat buku sosiologi dengan suara lantang tanpa ada satu pun perintah dari orang dewasa yang memegang rotan penggaris.

Kepala Sekolah tertegun, bibirnya bergetar kaku melihat ketertiban organik yang berjalan tanpa instruksinya. Namun, ia segera meredam rasa takjubnya, melangkah cepat menuju podium, lalu resmi meniup mikrofon pengeras suara yang baru menyala hingga memekikkan bunyi dengung yang nyaring.

"Perhatian seluruh murid! Masuk ke kelas masing-masing sekarang!" seru Kepala Sekolah kaku, suaranya bergaung memotong diskusi di bawah pohon kamboja. "Karena genset sudah berfungsi, besok pagi sekolah akan mengadakan ujian susulan sosiologi tertulis selama tiga jam penuh untuk mengganti waktu bulan lalu yang hilang. Seluruh kegiatan mandiri di lapangan dibatalkan dan nama-nama yang tidak berada di dalam kelas lima menit lagi akan dimasukkan ke dalam catatan pelanggaran berat."

Lima ratus anak itu seketika terdiam. Riuh rendah tawa murni yang sempat bertunas selama satu bulan langsung lumat, digantikan oleh derit kaku ratusan pasang sepatu yang kembali berjalan lambat menyusuri koridor menuju meja-meja kaku mereka yang pengap.

Gani tidak bergerak dari podium. Ia menatap Kepala Sekolah yang sedang sibuk menyeka keringat di lehernya menggunakan saputangan handuk kecil yang putih bersih.

"Pak," panggil Gani, suaranya cempreng memotong deru mesin genset yang sedang berputar halus di belakang aula.

Kepala Sekolah menengok dengan dahi berkerut tebal. "Apa lagi, Gani? Masuk kelas!"

"Kabel busi gensetnya sengaja saya pasang terbalik waktu membetulkannya kemarin, Pak. Kalau Bapak paksa menyalakan seluruh lampu aula lima menit lagi, mesinnya meledak," kata Gani datar.

Ia melompat turun dari undakan podium, merogoh tang potong karatan dari saku celana belakangnya, lalu berjalan santai melintasi lapangan menuju kantin, meninggalkan Kepala Sekolah yang seketika berteriak panik memanggil guru olahraga dan satpam.



Penulis: Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik". Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email : dwi.scativana23@gmail.com. Instagram : @scativana.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.