Sun, 12 Jul 2026
Esai / Heri Isnaini / Jul 12, 2026

Algoritma Tidak Pernah Mengajar Kesabaran

Beberapa waktu lalu saya meminta mahasiswa membaca satu artikel ilmiah sebelum perkuliahan dimulai. Artikel itu tidak terlalu panjang, hanya sekitar dua puluh halaman. Ketika diskusi berlangsung, sebagian mahasiswa mengaku belum selesai membacanya. Alasannya beragam, seperti terlalu panjang, sulit dipahami, dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Menariknya, pada hari yang sama mereka dapat menceritakan berbagai video yang sedang ramai di media sosial. Mereka hafal isi video berdurasi kurang dari satu menit, mengenali kreatornya, bahkan mengetahui percakapan yang sedang menjadi tren. Saya tidak sedang menyalahkan mereka. Saya justru bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya sedang berubah?”

Pertanyaan itu membawa saya pada satu kesadaran sederhana. Barangkali yang sedang mengalami perubahan bukan kemampuan membaca, melainkan kemampuan menunggu. Kita hidup di tengah teknologi yang dirancang untuk mempercepat hampir segala sesuatu. Informasi datang tanpa diminta, jawaban muncul hanya dalam hitungan detik, dan hiburan tersedia tanpa jeda. Dalam situasi seperti itu, kesabaran perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa asing. Padahal, hampir semua proses belajar selalu dimulai dari kesediaan untuk menunggu.

Ekonom sekaligus peraih Nobel, Herbert A. Simon, telah mengingatkan sejak 1971 bahwa kelimpahan informasi justru melahirkan kelangkaan perhatian. Ketika informasi tersedia tanpa batas, perhatian manusia menjadi sumber daya yang paling langka. Apa yang diperebutkan oleh berbagai platform digital bukan lagi sekadar pengguna, melainkan waktu dan fokus mereka. Hari ini gagasan Simon terasa semakin relevan. Kita tidak hanya hidup di tengah banjir informasi, tetapi juga dalam ekonomi perhatian (attention economy), ketika setiap aplikasi berlomba mempertahankan mata kita tetap menatap layar selama mungkin.

Di sinilah algoritma bekerja. Ia mempelajari apa yang kita sukai, menyajikan apa yang kemungkinan besar akan kita klik, lalu terus mengulang pola itu. Semakin lama kita bertahan, semakin berhasil sistem tersebut menjalankan fungsinya. Algoritma memang sangat cerdas menemukan apa yang menarik perhatian kita. Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkannya, yakni kesabaran.

Kesabaran justru lahir dari proses yang sering kali tidak menarik. Membaca satu bab buku, memahami teori yang rumit, menulis satu halaman demi satu halaman, mengulang eksperimen yang gagal, atau merevisi naskah berkali-kali adalah pekerjaan yang jarang memperoleh tepuk tangan. Tidak ada notifikasi yang muncul setiap kali seseorang berhasil menyelesaikan satu bab buku. Tidak ada jumlah tayangan yang meningkat ketika seorang mahasiswa menghabiskan sore hari membaca referensi di perpustakaan. Akan tetapi, justru di ruang-ruang sunyi seperti itulah pengetahuan bertumbuh.

Filsuf Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini sebagai masyarakat yang kehilangan perhatian mendalam (deep attention). Arus informasi yang datang bertubi-tubi membuat manusia semakin sulit bertahan pada satu objek dalam waktu yang lama. Kita berpindah dari satu video ke video berikutnya, dari satu berita ke berita lain, dari satu percakapan ke percakapan berikutnya, tanpa sempat memberi kesempatan kepada pikiran untuk mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi cara kita menggunakan media sosial, tetapi juga cara kita belajar. Laporan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) tentang pembelajaran di era digital menunjukkan bahwa teknologi membuka akses yang luar biasa terhadap informasi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko distraksi. Dengan kata lain, kita memiliki lebih banyak bahan untuk dipelajari, tetapi belum tentu memiliki perhatian yang cukup untuk memahaminya.

Sebagai dosen, saya merasakan perubahan itu secara perlahan. Mahasiswa hari ini memiliki akses terhadap ribuan artikel ilmiah, buku digital, video kuliah, hingga perangkat kecerdasan artifisial yang mampu membantu menjelaskan berbagai konsep. Namun, kelimpahan sumber belajar tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman belajar. Pengetahuan tetap memerlukan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yakni ketekunan.

Barangkali sebab itu saya selalu merasa sastra masih memiliki tempat yang penting di tengah zaman digital. Sastra mengajarkan ritme yang berbeda. Sebuah puisi tidak dapat dipahami hanya dengan sekali membaca. Novel yang baik tidak dapat diringkas menjadi beberapa kalimat tanpa kehilangan ruhnya. Cerita pendek yang kuat seringkali justru bekerja setelah halaman terakhir selesai dibaca. Sastra mengajarkan bahwa makna tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesediaan tinggal lebih lama bersama kata-kata.

Pengalaman serupa sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi pendidikan kita. Di pesantren, seorang santri belajar melalui sorogan dan bandongan. Prosesnya mungkin tampak lambat dibandingkan berbagai model pembelajaran modern. Namun, dibalik kelambatan itu terdapat latihan mendengarkan, mengulang, menghafal, mengoreksi, dan menghormati proses. Pendidikan tidak hanya memindahkan pengetahuan, tetapi juga membentuk watak. Salah satu watak yang dibangun adalah kesabaran.

Hari ini, kita sering berbicara tentang pentingnya inovasi pendidikan. Kita berdiskusi mengenai kecerdasan artifisial, pembelajaran adaptif, kelas digital, dan berbagai teknologi baru. Semua itu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, “Apakah teknologi yang kita gunakan juga mendidik karakter belajar?”

Teknologi mampu mempercepat pencarian informasi. Algoritma mampu menebak minat kita dengan tingkat akurasi yang mengagumkan. Kecerdasan artifisial mampu membantu menyusun ringkasan dalam hitungan detik. Akan tetapi, tidak satu pun di antaranya dapat menggantikan latihan membaca dengan tekun, berpikir dengan saksama, atau bersabar menghadapi persoalan yang rumit.

Pada akhirnya, pendidikan selalu berbicara tentang manusia. Dan manusia tidak dibentuk oleh apa yang serba cepat, melainkan oleh apa yang dikerjakan berulang-ulang dengan kesungguhan. Kita belajar berjalan sebelum berlari. Kita belajar mengeja sebelum menulis. Kita belajar memahami sebelum mengajarkan. Semua proses itu memerlukan waktu.

Sebab itu, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukanlah kekurangan informasi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengembalikan kemampuan memberi perhatian. Sebab, perhatian yang dipelihara akan melahirkan ketekunan. Ketekunan akan melahirkan pemahaman. Dan pemahaman yang mendalam pada akhirnya akan melahirkan kebijaksanaan.

Algoritma mungkin mampu menunjukkan apa yang ingin kita lihat. Namun, ia tidak pernah mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang sabar. Tugas itulah yang tetap harus dijalankan oleh keluarga, sekolah, kampus, buku, dan guru. Sebab, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kesabaran bukan lagi sekadar sikap. Ia telah menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling mendasar.

 


Penulis: Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.