Wed, 28 Feb 2024
Esai / Sep 20, 2022

Gerakan Pembangunan Humanisme Indonesia

Peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh cara berpikir setiap insani yang bermukim di dalamnya, mereka tidak saja bermukim dan menjadi penghuni untuk terus hidup. Lebih dari itu mereka membentuk tradisi kehidupan yang mereka percaya lalu membatin dalam urat syarafnya kemudian membentuk tata nilai kehidupan (kemanusiaan) yang kemudian itu menjadi suatu kebenaran. 

Kebenaran yang dijadikan sebagai sebuah kepercayaan akan memberikan motivasi untuk terus hidup. Melahirkan satu sirkulasi genetika sosial yang akan membangkitkan semangat hidup pada setiap insani yang meyakininya, semangat hidup tentu akan membentuk harapan-harapan untuk terus bergerak (berjuang) melampaui zaman dan hal demikianlah yang akan mentradisi dalam kehidupan ummat manusia membentuk watak kemanusiaan (Insan Kamil, manusia berintegritas, humanisme educational).

Peradaban kemanusiaan selalu dimulai dari/pada tiga Hal, katanya Yudi Latif dalam bukunya negara paripurna pertama Intelektual, orang yang berpikir melampaui zamannya dan mempunyai kemampuan intelektualitas yang tinggi itulah yang akan melakukan pembaharuan (mujaddin) lalu membentuk Semangat zaman yang dilahirkan dari perkembangan ilmu pengetahuan, membentuk watak sosial kemanusiaan lalu melahirkan manusia pejuang (Mujahidin). Itu akan menjadi cikal-bakal Humanisme educational, manusia yang akan menjadi suri keteladanan. 

Kedua manusia etika estetik, manusia Indonesia katanya Yudi Latif harus mempunyai etika sosial yang mempunyai tata nilai tertinggi. Tata Nilai akan membentuk kehidupan kemanusiaan yang berkeadilan, rasa kepedulian, rasa bertanggung jawab lalu merasa ikut memiliki. Masa depan Indonesia harus dijadikan sebagai tanggungjawab bersama, bahwa kita semua yang hidup dan bersenyawa dalam kebhinekaan ikut bertanggung jawab membangun dan membentuk tatanan sosial yang mensejahterakan dan berpihak pada keadilan bagi satu untuk semua atas dasar rasa persatuan dan untuk kemanusiaan.

Dan hal demikian hanya mampu dilakukan dari dan oleh manusia-manusia yang (berintegritas). Integritas kemanusiaan tidak diukur dari apa yang seseorang miliki dan kekuasaan yang ada pada dirinya, akan tetapi dari gerakan yang membatin dalam jantung hatinya atau biasa kita kenal push factor and pull factor.

Ketiga spiritual, manusia mempunyai jantung pertahanan terakhir dalam dirinya untuk menopang kehidupan, ialah jantung spirituallitas yang dalam katanya Yudi Latif. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 153 bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar maka manusia yang (beriman) diperintahkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dengan menjalankan Sholat dan bersabar.

Lebih lanjut Allah berfirman kepada manusia agar tidak meragukan sedikitpun tentang kebesaran Allah dan sesungguhnya Al Qur'an adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqiin) "Al Baqarah 2-3" itu juga yang ditekankan pada Surat Al Imran 190.

Hal ini selaras dengan napas intelektual, cendekiawan, seorang pemikir yang kemudian mentradisi dalam kehidupannya seorang muslim Pakistan yang telah lama mendedikasikan dirinya sebagai seorang pemikir dan pengajar di Chicago, kemudian melahirkan murid-murid yang besar namanya di Indonesia seperti Cak Nur, Buya Syafi'i Ma'arif, Amin Rais, Gus Dur dan Ahmad Wahib. Ialah Fazlur Rahman, ia menekankan kepada kita semua untuk mengerakkan Al-Qur'an pada dua sisi atau lebih dikenal dengan sebutannya Double Movement (gerakan Ganda), menurut Fazlur Rahman Al Qur'an harus ditafsirkan dari dua sisi.

Pertama secara sosio-historical, menurut Fazlur Rahman Al Qur'an harus dibaca dari dan untuk melihat peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sebagai sebuah kepercayaan yang mengilhami umat manusia, islam tentu memberikan pedoman hidup dan petunjuk berkehidupan. Sebagai modal sosial dalam menjalankan kelembagaan yang bernegara, tentu hal ini dipercayai bersama dan kemudian menjadi sebuah tindak-tutur lalu mentradisi melembaga membentuk watak sosial kemanusiaan itulah cikal-bakal peradaban.

Fazlur Rahman, menekankan untuk membaca Al Qur'an sebagai bentuk membuka peristiwa-peristiwa semesta dan bagaimana prospek sirkulasi kehidupan manusia sebagai pembelajaran untuk generasi zamannya. 

Kedua, Fazlur Rahman menyatakan bahwa Al Qur'an harus ter-kontekstualisasi dalam kehidupan. Manusia yang beriman tentu dia mempercayai apa yang telah diyakini, sebagaimana kisah orang-orang Badui yang mendatangi Muhammad dan menyatakan keimanannya dan turunlah surat Al Hujarat ayat 14.

Yang ingin ditekankan sebenarnya dari peristiwa itu, bahwa Sesungguhnya keimanan harus membatin didalam jantung hati kemanusiaan lalu melahirkan satu kebenaran yang dari situ kemudian mentradisi menjadi tingkah laku yang membentuk watak sosial-berbudaya sampai pada peradaban kemanusiaan yang benar dari kebenaran (Insan Kamil) yang merdeka.

Maka tugas-tugas kemanusiaan mentransmisikan misi-misi ketuhanan dari teks-teks langit dan didengarkan di jantung Bumi lalu diucapkan dalam bahasa manusia, penyatuan antara nilai ketuhanan dan kemanusiaan akan melahirkan etika sosial kehidupan serta manusia (Syuhada Fi Sabilillah Hablumin'nas) yang mempunyai visi keadilan dan ikut berpartisipasi terpanggil serta bertanggung jawab ketika melihat ketidakpastian hidup, ketidakmampuan, ketidakadilan serta penindasan atas nama kemanusiaan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu. 

Harapan hidup generasi suatu zaman diwarisi dari semangat intelektual pada zamannya, semangat itu hidup pada setiap diri yang terus optimis menjahit masa lalu dengan hari ini demi dan untuk masa depan. Optimisme anak bangsa tidak bisa dipupuk dari cara hidup yang feodalistik, kapitalis, dan apatisme. Anak bangsa harus hidup, dalam keterikatan di masa lampau untuk masa depan, memberikannya ruang hidup berjalan-jalan ke masa depan lalu mengkonstruksi ulang cara berpikirnya. Supaya tidak curam dan tersumbat, jadi ada proses genetika intelektual yang terus hidup.

Seseorang yang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikirannya apalagi dalam perbuatannya~Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Dan di dalam kebhinekaan rahim peradaban anak cucu dari ibu pertiwi pertautan antara Jantung kebatinan dan kedalaman spiritual yang tinggi mengalir dalam diri Lafran Pane sebagai Cendekiawan (manusia) yang merdeka sejak dalam hatinya terpancar dari ketawadhu'an dalam melahirkan genetika intelektualitas organik trans-kepercayaan yang tentu diilhami (RahmatNya). Manusia seperti Lafran Pane harus terus lahir dan bergenetika menyamai kebangsaan dan keindonesiaan.

 

Penulis: Yusuf MalikAlumni Universitas Muslim Indonesia, sekarang sedang mendedikasikan diri ditengah-tengah masyarakat.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.