Hal-Hal ini Terjadi Sebelum Cahaya
Hal-Hal ini Terjadi Sebelum
Cahaya
Dengan menyebut nama Gusti,
Yang tak luput memberkati para
musafir
dan kafilah Badui;
Pada wayah cita romansa dalam
kamus falsafah Jawa;
Pada gamang para pemuda yang
didesak
kalimat tanya;
Di tengah kacaunya tata ta'zim
kepada
kuasa lalim;
Kutuliskan sajak ini kepada
cahaya;
Di atas lembar naskah cerita
yang
belum sempat terlaksana;
Dengan tinta yang sama pada
pustaka di
tumpukan berkas “Sia-Sia”;
Kepada alamat masa depan yang
masih enggan
diredupkan;
Di antara sajak ini, kutitipkan
nasihat para Masyayikh;
“Tuntutlah bekal dari guru-guru
terbaik.”
Dari mereka yang menghinakan atas
nama
angkuh keindahan;
Dari jiwa yang mengerdilkan upaya
bak
“Jasa Mendoakan” di Alun-alun
Selatan;
Dan segenap mimpi indah yang
ditangguhkan, mengingat bangun
yang mesti didahulukan;
Tapi sajak ini tak akan berhenti
pada
majas alegori;
Kutitipkan larik harapan teruntuk
cahaya
yang akan datang;
Menjadi pengingat tuk tak gentar
pada tiap
jalan memutar;
Menjelma bara yang menyala bagi
hati yang masih percaya;
Maka bilamana waktumu tiba,
duhai
cahaya;
Temui hamba di barisan kepala
yang
menengadah;
Terangilah remang jalan pulang
pencarian
jawaban;
Teduhilah riuh resah, hampar
tangisan dan
perayaan;
Tentang hal-hal yang telah,
tengah, dan
bakal merekah;
Dan tak apa, tuk selamanya,
(September 2026)
*
Rayuan Tirakat & Laku
Hasrat
Gemuruh angin menghembus tinggi
dedaunan bukit cemara
Menembus kulit tipis Sang Pertapa
di atas petilasan singgasananya
Yang fikiran dan jiwanya
membentang jauh
Di antara tanah perbatasan tiga
distrik
Hingga lembah penyantrian ilmu
teluh.
Di atas bukit itu, Sang Pertapa
mengkhidmatkan duduk dan silanya
Waktu demi waktu, membunuh rugi
keramaian dan hegemoni sepi
Atas nama penghambaan kesaktian,
dan kemasyhuran
atas langit dan bumi.
Diresapinya rayuan keindahan
dunia, dalam khusyuk semedi itu
Keindahan yang menjelma, gadis
manis dari utara
Dengan peluk hangat penuh harap
yang melekat
Dan secicip kidung mendayu untuk
menggoyang hati yang layu.
Dan dalam pusaran waktu nan
berkelindan
Tersingkap rupa lain rayuan
keindahan
Ialah sang penari priyayi
Yang melenggang leluasa di muka
Sang Pertapa
Dengan lirikan agung dan
sunggingan bibir merah
Bagai kelopak dahlia yang tak malu
untuk merekah.
Tapi di antara fana, cerebrum
menggertak amigdala
Untuk gadis dari utara, yang peluk
kidungnya bak sepah ilusi tak berarti
Tapi di antara fana, cerebrum
menggertak pula
Untuk nona penari, dan fiksi pikat
tariannya yang bukan untukmu saja
Maka dalam keputusasaan yang
jeritannya di ujung kerongkongan
Dan dalam jiwa yang letih akan
keindahan semu
Sang Pertapa menghardik tak
sungkan, atas setiap wujud pengusik
Dan luka mistika yang ditinggalkan
Dan bersamaan hardikan Sang
Pertapa, terkuaklah rahasia dunia
Yang terkubur dan tersembunyi di
atas langit korespondensi
Bahwa cinta adalah senyawa agung
dalam ruang-ruang terselubung
Bahwa cinta adalah moralitas
tertinggi bagi tiap jiwa-jiwa sufi
Dan kebenaran, bahwa kamus cinta
tak ditemukan pada insan-insan
kebendaan; melainkan makrifat bagi
sebagian yang tercerahkan.
(April 2024)
*
K O N K L U S I
Tak lain seorang pujangga,
Yang dihinakan pengejaran
validasi,
Maka begitulah peliknya tugas
pujangga,
Menulis ratu pada prasasti, tanpa
tahu rimbanya pasti.
Dituliskan olehnya sajak-sajak
hikayat, nyanyian ratu agung,
Tentang kenaifan manusia
paleolithik,
Tentang tonggak revolusi orde baru
baru,
Tentang keangkuhan insan-insan
perundagi.
Dan terhampar pelajaran dalam
setiap lembaran,
Bahwa dekat adalah makrifat,
Bahwa harap selalu mengalir dalam
tatap,
Bahwa kasih begitu tanpa pamrih.
Dan terhampar realita dalam setiap
aksara,
Bahwa jiwa selalu tunduk pada
strata,
Bahwa bumi kausal berkawan dengan
sesal,
Bahwa akhir ialah anak buah
takdir.
Lantas kini, hikayat telah jatuh
ke tangan hari depan,
Bermainnya Ia dengan rentetan
kemungkinan,
Dapatlah hikayat menjadi legenda
urban,
Dapatlah hikayat usang lagi
ditinggalkan.
Meski sejatinya pujangga tak
menaruh peduli,
Dilemparkan penanya itu ke sumur
mati,
Dibiarkan tinta hitam menyusuri
lautan konklusi,
Dalam kesunyian, lagi.
(Juni 2022)
*
R A H A S I A
Judulnya rahasia,
Bab hikayat yang belum ditamatkan,
Bab yang pada akhirnya,
Adalah permulaan.
Rahasia itu,
Seperti kemana arah kayu yang
dijadikan abu,
Hening diacuhkan,
Seperti kemana rintik hujan
disembunyikan.
Tapi katanya rahasia perihal
ruang,
Dimana jarak dijarakkan oleh
peluang,
Tapi katanya rahasia perihal
waktu,
Dimana sewindu dibunuh kata
ambigu.
Yang pasti, rahasia adalah
teka-teki,
Entah paradoks, entah anomali,
Seperti dialog timbal balik,
Akan ada ya, akan ada tertampik.
(Januari 2021)
Penulis: Ahmad Syakur, tinggal di Jogja, memuat beberapa tulisan di media massa digital dan terlibat dalam penulisan beberapa proyek bunga rampai.