Sat, 13 Apr 2024
Tips / Dec 24, 2020

Jurnalis: Semua Berhak, Namun Tak Semua Pantas

Dunia jurnalistik sebagai dunia yang berisi kebutuhan naluri manusia merupakan dunia yang menantang. Naluri manusia yang berupa rasa ingin tahu kemudian diolah dalam dunia jurnalistik menjadi berita. Menurut Suhandang pada 2016, Berita yang ditulis oleh seorang jurnalis merupakan laporan tentang fakta yang ada dalam suatu peristiwa. Namun, peristiwa itu sendiri bukanlah sesuatu yang hakiki.

Peristiwa merupakan objek utama yang menjadi sumber peliputan. Dari objek utama tersebut, seorang jurnalis harus memahami apa yang layak untuk diinformasikan kepada publik. Pemahaman seorang jurnalis dibutuhkan karena berita yang terbit nantinya menjadi konsumsi publik. Namun tak jarang, berita yang diterbitkan malah membosankan untuk dibaca. Seperti isi tulisan yang memang tak menarik, pemilihan diksi yang kurang menyenangkan hingga alur berita yang membuat pembaca kebingungan.

Untuk mencegah terjadinya tulisan yang membosankan ketika dibaca, Pada 1960an, Tom Wolfe, seorang wartawan Amerika Serikat memperkenalkan jenis tulisan yang bernama ‘new journalism’. New journalism sendiri merupakan sebuah jenis tulisan yang dikerjakan secara mendalam dengan gaya penulisan sastrawi, sehingga enak dibaca.

Tulisan yang mengandung gaya penulisan sastrawi inilah yang kemudian disebut jurnalisme sastrawi. Menurut Robert Vare dalam buku Harsono dan Setiyanto, terdapat tujuh pertimbangan untuk jurnalis apabila hendak menuliskan narasi jurnalisme sastrawi.

Pertama, Fakta. Jurnalisme sastrawi sering disalah artikan sebagai karya reportase dengan cara puitis. Kenyatannya, ia bukanlah reportase yang dituliskan dengan kalimat puitis. Narasi yang dibentuk, dibangun, disusun boleh puitis tetapi tak semua prosa puitis cocok untuk narasi, utamanya menuliskan fakta.

Kedua, Konflik. Suatu tulisan dapat bertahan dihati para pembaca apabila ada konflik yang menjadi daya pikat dari bacaan tersebut. Sebelum menulis narasi, ada baiknya memikirkan seberapa besar konflik yang ada? Dalam fiksi, seluruh cerita terkenal dapat dibangun diatas gugusan konflik. Namun jurnalisme sastrawi membutuhkan konflik yang sesuai hati nurani, konflik yang bisa juga bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya.

Ketiga, karakter. Dalam narasi pasti kita membutuhkan karakter. Karakter akan membuat cerita terikat. Ada yang berperan sebagai karakter utama dan juga karakter pembantu. Karakter harus memiliki kepribadian yang menarik, tak mudah ditebak dan tak mudah menyerah.

Keempat, akses. Akses yang dimaksud dalam menuliskan narasi dapat berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, diary, kawan, musuh dan lainnya. Dengan akses tersebut narasi yang diciptakan akan lebih terasa dan semakin membekas di benak dan hati para pembaca.

Kelima, emosi. Emosi disini bisa berupa rasa cinta, rasa benci atau keduanya. Emosi akan menjadikan narasi memiliki kehidupan. Emosi pun bisa di bolak-balik, cinta menjadi benci, atau sebaliknya. Ketika pergulatan emosi terjadi, maka akan semakin menarik narasi yang tercipta.

Keenam, perjalanan waktu. Peristiwa berjalan bersama waktu. Konsekuensinya dari perjalanan itu adalah struktur karangan. Apakah bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau flashback, dari peristiwa terakhir sampai mundur mentok ke belakang. Atau dibolak-balik agar pembaca tak bingung.

Ketujuh, unsur kebaruan. Mengungkapkan narasi berulang adalah sebuah kacamata orang biasa yang menjadi saksi dari peristiwa. Tetapi pengungkapan tersebut tak berguna apabila terjadi secara berulang. Pengungkapan tersebut harus memiliki perbaruan. Menggunakan sudut pandang baru dalam cerita baru adalah sebuah unsur kebaruan tersebut.

Semua orang mampu menjadi seorang jurnalis, namun tak semuanya mampu menjadi jurnalis yang terpercaya. Dari fakta hingga unsur kebaruan, tak semuanya mampu melakukannya. Kamu mungkin berhak menjadi seorang jurnalis, tetapi sudah pantaskah kamu menjadi demikian? Buktikanlah dalam tulisanmu.

 

Rujukan:

1. Suhandang, Kustadi. (2016). Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. Bandung: Nuansa Cendekia

2. Harsono, A. & Setiyono, B. (2005) Jurnalisme Sastrawi. Jakarta: Gramedia.

 

Penulis: Bayu, content writer pronesiata.id

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.