Sun, 12 Apr 2026
Cerpen / Caesar Rifyal Sidqi / Apr 12, 2026

Franky: CEO dalam Mimpi

Franky tidak pernah ingat kapan tepatnya hidup berubah menjadi sebuah ruangan rapat.

Ia hanya tahu, suatu malam setelah terlalu lama menatap layar laptop yang tak kunjung ramah, ia tertidur di kursinya sendiri dan terbangun di sebuah ruangan yang dingin, rapi, dan terlalu terang untuk disebut mimpi.

Meja panjang membelah ruangan. Kursi-kursi empuk berjejer rapi, layaknya sedang menunggu seseorang yang terbiasa mengambil sebuah keputusan besar. Di ujung ruangan, sebuah layar proyektor menyala, menampilkan tulisan yang membuat Franky ingin berdiri…. lalu duduk lagi:

“RAPAT INVESTOR STARTUP KEHIDUPAN: FRANKY”

*****


Ia menelan ludah.

Di sebelah kanan meja, ayah dan ibunya duduk berdampingan. Tidak ada jas, tidak ada map tebal, tidak ada gestur berlebihan. Ibu menggenggam pulpen yang ujungnya sudah tumpul. Ayah menyandarkan punggung, wajahnya tenang dan tidak terlihat sedikit pun raut wajah seorang pendebat.

Di sebelah kiri, ada beberapa wajah yang Franky kenal: teman-temannya. Ada yang menatap layar, ada yang sibuk menggeser ponsel, ada yang terlihat lelah menunggu pembaruan yang tak kunjung rilis.

Di ujung meja yang lain, seorang dosen duduk dengan laptop terbuka. Kacamata bertengger di hidungnya, matanya membaca lebih dari sekadar data.

Satu kursi kosong tersisa.

Lengkap dengan tulisan disandaran nya: CEO.

Franky duduk dengan perasaan seperti seseorang yang terlambat paham akan hidupnya sendiri.

*****

Slide pertama muncul tanpa suara.

SEED FUNDING - MASA KANAK-KANAK

Foto samar seorang anak SD muncul di layar. Wajah itu tersenyum canggung, seolah belum tahu bahwa hidup kelak akan meminta laporan pertanggungjawaban.

“Modal awal cukup stabil,” suara muncul yang entah dari mana. “Lingkungan sehat, asupan tercukupi. Targetnya sederhana: bagaimana caranya bahagia tanpa mencela.”

Ibu mengangguk pelan, seperti sedang mengingat sesuatu yang tak perlu dibicarakan.

Ayah berkata singkat, “Dulu kami memang selalu mengajarkan hal kecil: pertanggung jawaban atas apa yang dimakan dan apa yang telah diperbuat.”

Franky tersenyum sambil memahami kalimat-kalimat pendek yang ternyata lebih panjang dari yang ia pahami kala itu.

*****


Slide berganti.

PRODUCT - MARKET FIT - MASA REMAJA

Grafik naik perlahan, jadwal mulai ketat wajah-wajah baru banyak hadir di startup. Satu hal yang penting untuk di catat: Jam bangun franky lebih pagi dari mimpi.

“Di fase ini,” kata temannya sambil mengetik, “subjek mulai menemukan fungsi. Dipercaya memimpin kelompok dan tumbuh dalam prestasi.”

Franky menunduk.

Ibu tersenyum kecil. “Kepercayaan itu hadiah. Itulah yang selalu ibu sampaikan sejak lama”

Ayah menambahkan, tanpa melihat layar, “Bagus! Karena setiap kita adalah pemimpin.”

*****


Layar kembali berubah.

PIVOT - MENUJU DEWASA

Grafik berguncang, lalu condong ke samping.

“Terlihat begitu banyak eksperimen,” suara itu berkata lagi. “Claim internal/eksternal tentang skill sosial, finansial, mental, bahkan relasi emosional.”

Seseorang di sisi kiri berbisik, “Fitur-fitur itu belum seluruhnya stabil. Banyak eksperimen namun banyak juga kegagalan di dalamnya.”

Beberapa orang tertawa pendek, tidak terlihat jahat namun cukup menggelitik emosional.

Kali ini Franky sedikit tersinggung, ia ingin menjelaskan bahwa semua itu bagian dari pencarian, bahwa tidak semua yang gagal benar-benar gagal. Tapi lidahnya kaku. Ia sadar, di ruang seperti ini, penjelasan sering kali terdengar seperti pembelaan.

*****


Slide berikutnya muncul lebih lambat, seolah ragu.

KRISIS LIKUIDITAS - SKRIPSI

Layar berkedip tersisalah satu grafik besar, sederhana, dan cukup kejam:

NIAT dengan grafik naik yang cukup tinggi

KONSISTENSI/ISTIQOMAH  dengan grafik turun yang tidak kalah panjang

*****


Ruangan menjadi sunyi, dosen menutup laptopnya. “Di sini,” katanya pelan, “terjadi kebocoran energi. Banyak rencana…. Namun sedikit aksi.”

Franky menatap grafik itu seperti menatap dirinya di cermin yang terlalu jujur.

Ibu mengangkat tangan. “Saya mau bertanya,” katanya lembut.

Moderator mempersilahkan.

“Fitur istiqomah ini,” kata ibu sambil menunjuk grafik, “kenapa selalu crash saat dibutuhkan?” ibu melanjutkan, “Bukan kah niat dan istiqomah ini harus sama kuantitasnya?”

Franky merasa pertanyaan itu bukan ditujukan pada grafik, melainkan pada dirinya sendiri. Ia merasa bingung tanpa jawaban. Belum selesai pertanyaan ibu dijawab.

Ayah akhirnya berbicara. “Baiklah.. Pendanaan akan terus kita lanjutkan, tapi satu hal yang harus di catat: jangan boros dengan janji.” 

Tidak ada ancaman ataupun syarat tertulis. Hanya kalimat yang terasa seperti batas.

Mendengar hal itu, teman-teman mulai bergerak memainkan peran. “Kapan rilis versi final?” tanya seseorang. “Kami sudah lama jadi pengguna,” tambah yang lain.

*****


Franky menarik nafas, kursi CEO itu terasa terlalu empuk untuk tubuh yang belum siap duduk lebih lama.

Belum selesai franky mencerna.

Moderator menutup map,  lalu berkata “Sebelum rapat ditutup, ada satu pertanyaan terakhir.” Layar menyala terang, tulisan besar memenuhi layar.

“PRODUK HIDUPMU INI MAU DIJUAL KE SIAPA?”

Franky terdiam.

Ia memikirkan pasar.

Ia memikirkan penilaian.

Ia memikirkan hidup yang tampak berhasil dari luar.

Tak satu pun terasa benar.

Ia menoleh ke ayah dan ibunya, mereka tidak memberi isyarat. Tidak mengangguk atau bahkan menggelengkan kepala. Seolah berkata: jawaban itu milik mu.

“Baiklah, produk itu tidak dijual!” kata Franky.

Beberapa wajah mengernyit.

Franky melanjutkan, “Saya tidak akan menjualnya, namun tentu saya akan menjalaninya sesuai arahan dan dukungan kedua investor saya.”

Tidak ada tepuk tangan di dalam ruangan, tidak juga ada sorak sorai. Suasana hening seketika. Moderator berdiri. “Distraksi terarah sesuai target, tugas selesai dan rapat di tuntaskan.”

*****


Lampu padam.

Franky terbangun di kamarnya, diatas kursi yang sama, dengan laptop dan file skripsi yang tidak jauh berbeda.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi, ia duduk menarik napas, mengetik satu kalimat yang tidak istimewa, tidak juga heroik.

Di luar, subuh sedang bersiap, franky tersenyum kecil.

“Startup kehidupan ini mungkin tidak tumbuh dengan cepat. Tapi, satu hal yang selalu ku catat: selama kedua investor itu tidak menarik ridhonya. Maka nilai nya akan tetap utuh, dan itu cukup untuk modal menulis satu baris lagi.”



Penulis: Caesar Rifyal Sidqi, akrab disapa Kutro, lahir di Bogor. Saat ini sedang menjalani studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.