Doa Yang Tertinggal di Abu
DOA YANG TERTINGGAL DI ABU
Menatap serpih abu
di balik kokohnya api,
genderang perang meraung
di ujung pagi,
segala yang tegak
luruh tanpa saksi.
Tangisan mengalun
seperti doa hari Minggu,
tak putus meski langit
runtuh membeku,
jiwa-jiwa pulang
bersama bara yang bisu.
Kini tinggal ruang
tanpa nama,
di singgasana
yang kehilangan makna.
*
PULANG TANPA TERTAHAN
Angin terasa hangat
dari arah timur,
tanda janji telah usai.
Tak banyak kata
di setiap perjalanan,
langkah kaki bergerak perlahan,
menutup hari
tanpa kenangan.
Hidupku dijauhi
irama kedamaian,
seperti dentuman
di tengah keramaian.
Kini aku berjalan perlahan,
dituntun hati—
aku pulang
tanpa rasa tertahan.
*
AKU YANG TERASINGI
Kepada ruang yang berpihak pada cakrawala,
masih adakah aku
di antara lentera-lentera itu?
Fajar menanti,
dunia berdiri,
sedangkan aku—terasing sendiri.
Belum sempat kubisikkan dunia
dari burung merpati pincang itu,
lepas ragaku,
dunia tak lagi memihakku.
Tangan-tangan hangat
yang dulu pernah kugenggam,
lepas meninggalkan malam.
Besok dunia akan tahu,
bahwa langit
tak selalu biru.
*
AKU HANYA INGIN BEBAS
Aku hanya ingin bebas.
Tempat ternyaman rasanya tak lagi nyaman,
hidup di antara bayang-bayang,
lampu redup berharap terang.
Malam itu aku duduk di teras.
Kopi perlahan dingin
bersama embun malam
yang turun menyelimuti pohon.
Gelap malam,
dan tangan yang terus memohon.
Tangis kian sunyi,
ucapan yang tak lagi berarti.
Aku hanya ingin bebas,
tak terikat waktu
yang menancap seperti duri,
tak terikat ruang
agar sukma bebas menari.
*
KEBIJAKAN TANPA BIJAK
Asumsi tak lagi didengar,
langkah pun tak lagi dianggap.
Kepala menuntut kesempurnaan,
tanpa tahu tangan terkikis—berdarah.
Suara patah seperti radio rusak,
jeritan kecil yang ingin utuh.
Namun kepala tetap diam,
dan kaki lelah berteriak.
Kebijakan tanpa bijak,
surat-surat tergeletak,
huruf tak pernah dicetak—
semua menjadi tak layak.
Penulis: Lalu Wahyu Wiranata, pemuda asal Desa Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menulis puisi pendek, membaca buku, dan bekerja sebagai barista part time di salah satu coffee shop di Lombok.