Wed, 20 May 2026
Puisi / Galih Ernowo Widianto / May 20, 2026

Sepucuk Surat Maaf

Sepucuk Surat Maaf


Langit tak kuasa, embun-embunnya selalu tak nyaman ketika di dekatnya

Ia merasa nyanyian alam enggan mendekatinya

Seperti ada awan raksasa yang menghalangi embun

‘Tuk memadu kasih dengan langit


Langit kebingungan dengan keadaan seluruh nyanyian alam

Yang lazim bernyanyi sumbang kepada-Nya

Nadanya tak duduk

Suaranya belepotan

Pembawaannya tampak ketakutan ketika di dekat-Nya


Langit tak pernah merasa keadaannya ‘tuk mengacaukan nyanyian alam

Ia merasa tak enak ketika nyanyian alam sungkan bernyanyi di dekatnya

Ia mengira semua Zaman tak sudi melihat keberadaan-Nya

Berpaling dari-Nya kepada Yang Lain yang tampak tak angkuh


Langit menjelma menjadi aku

Mewahyukan semua Kebenaran-Nya kepadaku

Ia menjadi Tuhan bagiku

Dan aku menjadi-Nya dalam rupa tubuh

Ia meminta kebenaran-Nya diceritakan kepada Yang Lain

Lalu meminta maaf kepada mereka


Kusampaikan sabdaku dari wahyu Langit:

Kepada semua Yang Lain yang merasa ditiadakan olehku

Aku memohon maaf

Sebesar maaf Langit Sore yang memberikan jingganya kepada malam

Aku tak berniat menggurat luka pada kalian

Aku hanya membawakan diriku apa adanya


*


Kepada Kekecewaan yang Tak Kunjung Usai


Di bawah lembayung langit, aku bersujud di hadapan tubuh yang melindungiku

Dari bahaya kemaksiatan pikiran 

Yang ingin selalu menyemburkan ide-ide liar

Untuk menyingkirkan tubuh-tubuh tak berdosa

 

Di samping awan mendung, tubuhku menyapu halaman depan semesta

Yang sampahnya jarang dipunguti

Menambah maksiat pikiran 

Yang hendak menggugat keberadaan Yang Lain


Aku menyembah embun-embun langit

Berdoa kepada-Nya agar hujan tak segera menetes ke pikiranku

Yang menanggung warisan kehendak

Ingin menyulut api dendam


Kepada Sang Zaman, aku ingin memberikan sekuntum angin rindu

Yang kencangnya membelai hati kecilku

Memberi pelajaran perihal Yang Baik

Dan keinginan ‘tuk menebar benih asmara kebahagiaan


Aku dimakan kekecewaan

Akibat nanar mata Yang Lain tak utuh menatapku

Aku dipenggal kepedihan yang mengiris hati

Tubuh Yang Lain tak sepenuhnya menghadirkan dirinya kepadaku


Aku tak tahu apa jadinya bila Yang Lain terus memaksaku tiada

‘Tuk Berharap diriku tak pernah ada

Dan menyingkir dari lambaian mata-Nya

Bukankah diriku tetap lah Yang Lain bagi Yang Lain?

Maka, aku tak menemukan alasan

Yang Lain akan berhenti memaksaku tiada



Penulis: Galih Ernowo Widianto, Penulis saat ini masih menjadi murid Kebaikan Umum. Ia senang menulis esai dan mencoba belajar menulis sastra. Ia dapat disapa melalui Instagram @galih.ernowo dan email galihernowo26@gmail.com.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.