Sepucuk Surat Maaf
Sepucuk Surat Maaf
Langit tak kuasa, embun-embunnya selalu tak nyaman ketika di dekatnya
Ia merasa nyanyian alam enggan mendekatinya
Seperti ada awan raksasa yang menghalangi embun
‘Tuk memadu kasih dengan langit
Langit kebingungan dengan keadaan seluruh nyanyian alam
Yang lazim bernyanyi sumbang kepada-Nya
Nadanya tak duduk
Suaranya belepotan
Pembawaannya tampak ketakutan ketika di dekat-Nya
Langit tak pernah merasa keadaannya ‘tuk mengacaukan nyanyian alam
Ia merasa tak enak ketika nyanyian alam sungkan bernyanyi di dekatnya
Ia mengira semua Zaman tak sudi melihat keberadaan-Nya
Berpaling dari-Nya kepada Yang Lain yang tampak tak angkuh
Langit menjelma menjadi aku
Mewahyukan semua Kebenaran-Nya kepadaku
Ia menjadi Tuhan bagiku
Dan aku menjadi-Nya dalam rupa tubuh
Ia meminta kebenaran-Nya diceritakan kepada Yang Lain
Lalu meminta maaf kepada mereka
Kusampaikan sabdaku dari wahyu Langit:
Kepada semua Yang Lain yang merasa ditiadakan olehku
Aku memohon maaf
Sebesar maaf Langit Sore yang memberikan jingganya kepada malam
Aku tak berniat menggurat luka pada kalian
Aku hanya membawakan diriku apa adanya
*
Kepada Kekecewaan yang Tak Kunjung Usai
Di bawah lembayung langit, aku bersujud di hadapan tubuh yang melindungiku
Dari bahaya kemaksiatan pikiran
Yang ingin selalu menyemburkan ide-ide liar
Untuk menyingkirkan tubuh-tubuh tak berdosa
Di samping awan mendung, tubuhku menyapu halaman depan semesta
Yang sampahnya jarang dipunguti
Menambah maksiat pikiran
Yang hendak menggugat keberadaan Yang Lain
Aku menyembah embun-embun langit
Berdoa kepada-Nya agar hujan tak segera menetes ke pikiranku
Yang menanggung warisan kehendak
Ingin menyulut api dendam
Kepada Sang Zaman, aku ingin memberikan sekuntum angin rindu
Yang kencangnya membelai hati kecilku
Memberi pelajaran perihal Yang Baik
Dan keinginan ‘tuk menebar benih asmara kebahagiaan
Aku dimakan kekecewaan
Akibat nanar mata Yang Lain tak utuh menatapku
Aku dipenggal kepedihan yang mengiris hati
Tubuh Yang Lain tak sepenuhnya menghadirkan dirinya kepadaku
Aku tak tahu apa jadinya bila Yang Lain terus memaksaku tiada
‘Tuk Berharap diriku tak pernah ada
Dan menyingkir dari lambaian mata-Nya
Bukankah diriku tetap lah Yang Lain bagi Yang Lain?
Maka, aku tak menemukan alasan
Yang Lain akan berhenti memaksaku tiada
Penulis: Galih Ernowo Widianto, Penulis saat ini masih menjadi murid Kebaikan Umum. Ia senang menulis esai dan mencoba belajar menulis sastra. Ia dapat disapa melalui Instagram @galih.ernowo dan email galihernowo26@gmail.com.