Thu, 14 May 2026
Cerpen / Fata Syaekhan / May 14, 2026

Pulang

Rumah ini selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa aku sendirian. Tidak ada aroma masakan di dapur, tidak ada suara TV yang menyala di ruang tengah, hanya ada debu yang menari di bawah lampu ruang tamu yang mulai meredup. Sejak ayah dan ibu pergi, rumah ini hanya menjadi tempat singgah untuk menutup mata, bukan untuk hidup.

Bagiku, Tuhan adalah konsep yang asing. Jika Dia memang ada, kenapa Dia membiarkan rumah ini sesunyi ini? Aku terbiasa menjalani hari dengan autopilot. Kuliah, pulang, dan tidur, tanpa merasa perlu meminta apapun pada langit yang menurutku sudah lama membisu.

Siang itu kantin sedang penuh sesak, tapi meja di pojok itu terasa punya dunianya sendiri. Di sana duduk seorang pemuda dengan peci hitam yang nampak sudah sering dipakai, kontras dengan kemeja kampusnya yang rapi namun sederhana. Ia tidak sedang memegang ponsel seperti mahasiswa lain, melainkan sebuah kitab kecil yang ia dekap dengan kedua tangannya.

Aku menggeser kursi di depannya, membuat suara derit yang cukup keras di lantai semen. Ia mendongak, matanya jernih, lalu memberikan senyum kecil yang sangat sopan.

"Baca apa tuh?" tanyaku tanpa basa-basi.

Ia meletakkan kitab itu di atas meja, jempolnya masih terselip di antara halaman sebagai pembatas. "Al-Quran," jawabnya tenang.

Aku memperhatikan sampul kitab itu sebentar, lalu beralih menatapnya. "Percaya kau sama itu?"

Ia tidak menunjukkan raut wajah tersinggung. Ia justru tampak memproses pertanyaanku dengan saksama, seolah itu adalah pertanyaan paling menarik yang ia dengar hari ini.

"Kenapa tidak?" jawabnya balik bertanya, nadanya santai, hampir seperti sedang membicarakan cuaca.

Aku terkekeh, sedikit sinis. "Maksudku, di dunia yang sudah seberantakan ini, kau masih berharap pada tulisan-tulisan lama? Hidup ini nyata, kawan. Dan kenyataan seringnya tidak peduli pada apa yang tertulis di sana."

Dia memperbaiki posisi pecinya sebentar, lalu menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada semacam kelelahan yang disembunyikan dengan sangat rapi di sana.

"Justru karena hidup ini nyata dan sering kali kejam, aku butuh ini," ucapnya pelan sambil mengetukkan jarinya ke atas Al-Quran. "Kalau semua hanya mengandalkan apa yang kulihat dan kurasakan sekarang, mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Ini satu-satunya hal yang membuatku merasa... masih punya tempat untuk pulang."

Aku terdiam. Jawabannya tidak terdengar seperti ceramah, melainkan seperti sebuah pengakuan.

"Aku Fajar," ucapnya kemudian, mengulurkan tangan.

Aku menyambut tangannya. Rasanya kasar, seperti tangan seseorang yang banyak bekerja fisik. "Ari" balasku pendek.

"Senang bertemu denganmu. Kalau kau ingin diskusi lebih dalam aku akan meladenimu," katanya sambil kembali memakai pecinya dengan benar dan melempar senyum yang kali ini terasa lebih tulus.

Kami terus mengobrol. Aku yang awalnya sinis perlahan mulai menurunkan pertahanan. Fajar bercerita sedikit tentang filosofi kesabaran versinya yang tidak kaku, sementara aku bercerita tentang kebosananku terhadap rutinitas kampus yang hambar. Kami tidak berdebat soal benar atau salah, kami hanya bicara sebagai dua orang asing yang merasa nyambung.

Aku melihat jam tanganku dan waktu menunjukkan bahwa aku harus segera masuk ke kelas karena mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai.

"Wah, jadwal kelas ya?" Fajar melihat jam tangannya yang sudah agak kusam. "Aku ada kelas di gedung C sekarang. Kau?"

"Gedung A. Berlawanan arah," jawabku sambil berdiri.

"Sayang sekali. Padahal diskusi kita mulai seru," Fajar tersenyum sambil memasukkan Al-Quran kecilnya ke dalam tas. "Tapi tenang saja, aku hampir setiap hari di sini jam segini. Atau kalau tidak, kau bisa cari aku di mushola lantai dua kalau mau lanjut mengobrol."

"Aku tidak pernah ke musala," balasku jujur.

Fajar menepuk bahuku santai sebelum beranjak. "Ya sudah, kalau begitu biarkan kantin ini jadi saksi diskusi kita berikutnya. Sampai bertemu lagi, Ari."

Malam itu, aku sedang menempuh perjalanan ke pinggiran kota, sekadar menjauh dari rumah yang terasa makin sempit oleh kesunyian. Aku berhenti di sebuah minimarket untuk membeli kopi kaleng. Saat masuk, aku melihat seorang pegawai sedang berjongkok, menyusun botol-botol minuman ke dalam lemari es.

Peci hitam itu ada di sana, tergeletak rapi di atas tumpukan kardus di sampingnya.

"Fajar?"

Dia menoleh. Tidak ada raut kaget yang berlebihan, apalagi malu. Fajar hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sama seperti saat kami berdebat di kantin. Ia berdiri pelan, mengambil pecinya, dan mengenakannya kembali dengan sangat tenang.

"Wah, Ari. Jauh sekali kau mencari kopi sampai ke sini," sapa Fajar. Suaranya datar, stabil, seperti tidak ada beban apa pun yang baru saja ia angkat.

Aku menatap seragam kerjanya yang agak kusam, lalu beralih ke wajahnya yang nampak pucat di bawah lampu neon. "Sejak kapan kau kerja paruh waktu di sini? Kau tidak pernah bilang."

Fajar kembali menyusun botol dengan gerakan yang presisi. "Kenapa harus dibilang? Ini kan cuma cara dunia bekerja. Ada yang butuh tenaga, ada yang butuh uang. Adil, kan?"

"Tapi kau kuliah sampai sore, Jar. Kapan kau istirahat? Kapan kau tidur?"

"Tidur itu urusan nanti kalau sudah di liang lahat, Ri," jawabnya ringan, tanpa nada mengeluh sedikit pun. "Lagipula, di sini tenang. Sambil menyusun botol begini, aku bisa sambil mengulang hafalanku di kepala. Tidak ada bedanya dengan di kampus."

Aku mendekat, melihat tangannya yang kemerahan karena suhu dingin dari lemari es. "Kau tidak capek?"

Fajar berhenti sejenak, lalu menatapku. Matanya tidak memancarkan kesedihan, hanya sebuah kedamaian yang terasa sangat jauh.

"Capek itu manusiawi, Ri. Tapi aku punya tempat bersandar yang tidak pernah lelah. Selama aku masih bisa sujud, aku merasa semua beban ini cuma titipan yang sementara. Kau sendiri, bagaimana rumahmu? Masih sesunyi itu?"

Lagi-lagi dia membalikkan keadaan. Dia menggunakan ketenangannya untuk menutupi lubang besar di hidupnya, seolah-olah Tuhan adalah perisai yang membuat luka-lukanya menjadi tidak terlihat.

"Rumahku masih sama. Tapi melihatmu begini... aku jadi merasa sinismu di kantin itu benar-benar cuma topeng," ucapku.

Fajar terkekeh kecil, lalu menepuk bahuku dengan tangannya yang dingin. "Kita semua punya topeng, Ari. Bedanya, aku memilih topeng yang paling disukai Tuhan. Sudah, beli kopimu, aku harus menyelesaikan rak ini sebelum sifku berakhir."

Beberapa hari setelah pertemuan itu. Di suatu malam, hujan turun seolah ingin menenggelamkan kota. Di dalam rumah, aku sedang duduk di depan laptop, tenggelam dalam baris-baris kalimat novelku yang semakin gelap, sebuah naskah tentang depresi yang kubangun dari sisa-sisa kehampaan di kepalaku. Fajar pernah melihat naskah ini saat suatu hari ia mampir. Dia tidak menghakimi, hanya berkata, "Ternyata kepalamu jauh lebih bising dari rumahmu ya, Ri?"

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah keheningan. Pelan, tapi konstan.

Saat aku membukanya, Fajar berdiri di sana. Pakaiannya basah kuyup, tapi peci hitamnya tersimpan aman di balik jaketnya yang didekap erat.

"Ari, boleh aku menginap di sini malam ini?" tanyanya.

Suaranya tetap tenang seperti biasa, tapi ada yang berbeda. Tidak ada binar satir di matanya. Hanya ada kehampaan yang terasa sangat berat, seolah air hujan yang turun belum cukup untuk membasuh apa pun yang sedang ia pikul.

"Masuk, Jar. Kau basah semua," aku menariknya masuk, memberikan handuk dan baju ganti.

Kami duduk di ruang tamu yang temaram. Aku tidak bertanya banyak, karena aku tahu Fajar bukan tipe orang yang suka mengobral luka.

"Ada masalah di rumah? Atau pekerjaan?" tanyaku akhirnya, sambil menyodorkan segelas teh hangat.

Fajar menyesap tehnya perlahan, uapnya menutupi wajahnya yang pucat. "Ada sedikit masalah, Ri. Tapi tidak apa-apa. Aku hanya sedang butuh tempat yang tidak mengenalku sebagai 'anak pertama' atau 'harapan keluarga' untuk beberapa jam saja."

Ia menatap layar laptopku yang masih menyala, menampilkan naskah depresif itu. "Tulisanmu... ternyata dunia memang sesempit itu ya bagi sebagian orang?"

"Begitulah," jawabku pendek. "Dan kau? Apa Tuhanmu sedang tidak memberikan jawaban malam ini?"

Fajar tersenyum tipis, senyum yang paling lelah yang pernah kulihat. "Jawaban-Nya selalu ada, Ri. Mungkin akunya saja yang sedang terlalu berisik untuk mendengarnya."

Malam itu kami tidak banyak bicara. Fajar tidur di sofa ruang tamuku. Aku sempat memperhatikannya dari balik pintu kamar; dia tidak langsung tidur. Dalam remang cahaya, aku melihatnya duduk bersila, bibirnya bergerak tanpa suara, mungkin sedang mengulang hafalan atau sekadar berbisik pada Tuhannya di tengah sunyi.

Besok paginya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, aku menemukannya sudah rapi dengan peci hitamnya yang kembali terpasang tegak.

"Aku pulang ya, Ri. Terima kasih sudah mengizinkanku mampir," ucapnya sambil memakai tas usangnya.

"Kau yakin sudah tidak apa-apa?" tanyaku, merasa ada sesuatu yang janggal namun sulit kujelaskan.

"Aku selalu tidak apa-apa, Ri. Tugasku memang untuk selalu tidak apa-apa," jawabnya santai, kembali ke nada biasanya. "Jangan lupa lanjutkan novelmu. Tapi buatlah tokohnya setidaknya punya satu alasan untuk tetap bangun besok pagi."

Ia melambaikan tangan dan berjalan menembus kabut pagi.

Siang itu, ruang kelas terasa pengap meski pendingin ruangan menyala maksimal. Dosen di depan sedang sibuk menuliskan rumus-rumus di papan tulis, suara kapurnya beradu dengan keheningan mahasiswa yang mulai mengantuk.

Aku merogoh saku, mengambil ponsel hanya untuk melihat jam. Namun, sebuah notifikasi dari grup berita lokal di media sosial muncul di layar kunci. Sebuah foto jembatan besar di pinggiran kota yang sudah dipasangi garis kuning polisi.

"Penemuan Jasad Pemuda di Bawah Jembatan Merah. Diduga Menenggelamkan Diri Dini Hari Tadi."

Jantungku berdegup kencang saat melihat foto sebuah motor usang yang terparkir di pinggir jembatan. Aku mengenali stiker kecil di spakbor belakangnya. Itu motor Fajar.

Tanganku mulai gemetar hebat saat membuka kolom komentar. Seseorang mengunggah foto kartu identitas dan sebuah benda yang ditemukan di lokasi: sebuah peci hitam yang masih kering, diletakkan rapi di atas jok motor sebelum pemiliknya melompat.

"Innalillahi..." suara bisikan teman di barisan depan mulai terdengar.

Duniaku seketika senyap. Suara dosen di depan mendadak terdengar seperti dengungan lebah yang sangat jauh. Baru tadi pagi dia berdiri di pintu rumahku. Baru tadi pagi dia menyuruhku membuat tokoh novelku punya alasan untuk bangun. Ternyata, dia memberikan alasan itu untukku, sementara dia sendiri sudah kehilangan alasannya.

Aku berdiri begitu saja. Kursiku terjungkal ke belakang, menimbulkan suara dentum yang keras. Aku berlari keluar ruangan tanpa kata, mengabaikan teriakan dosen, hanya dengan satu bayangan di kepala: Fajar yang berdiri di pinggir jembatan, melipat pecinya dengan tenang, lalu menyerahkan dirinya pada arus air yang dingin.

Duniaku runtuh di tengah ruang kelas. Aku tidak peduli pada dosen yang berteriak memanggil namaku. Aku berlari menuju parkiran, memacu motorku seperti orang gila menuju alamat yang kudapatkan dari grup angkatan.

Sepanjang jalan, bayangan Fajar yang merapikan peci di depan rumahku tadi pagi terus berputar. “Tugasku memang untuk selalu tidak apa-apa,” katanya. Kalimat itu sekarang terdengar seperti sebuah pengakuan kekalahan yang paling tenang.

Aku sampai di sebuah gang sempit. Bendera kuning sudah terpasang, melambai lemah ditiup angin siang yang gerah. Rumah itu kecil, dengan dinding yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, namun tampak sangat bersih. Di depannya, orang-orang mulai berkerumun.

Aku melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat seperti timah. Di dalam, bau kayu cendana dan isak tangis yang tertahan memenuhi ruangan. Di tengah ruangan, sebuah jenazah yang sudah ditutupi kain jarik terbaring kaku.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya, ibu Fajar duduk bersimpuh dengan tatapan kosong. Ia tidak meraung-raung, ia hanya memegangi kemeja kampus Fajar yang masih bersih. Di sudut lain, adik-adiknya yang masih kecil duduk berdempetan, wajah mereka menunjukkan kebingungan yang teramat dalam. Mereka kehilangan pahlawan mereka, tulang punggung mereka.

Aku berlutut di dekat jenazah itu. Tanganku gemetar saat melihat peci hitam Fajar diletakkan di atas meja kecil di samping kepalanya. Peci itu masih terlihat rapi, meski pemiliknya baru saja menyerah pada dinginnya air sungai.

Saat aku sedang tertunduk, bisik-bisik dari pelayat di teras rumah mulai merayap masuk ke telingaku.

"Kasihan ya, padahal anak pertama. Kok bisa-bisanya setega itu sama orang tuanya," bisik seorang pria paruh baya yang duduk di dekat pintu.

"Iya, padahal kelihatan alim. Sayang sekali imannya tidak kuat. Menenggelamkan diri itu kan dosa besar, apalagi dia tahu agama. Sia-sia saja sujudnya selama ini kalau matinya begini," timpal seorang ibu di sebelahnya dengan nada menghakimi yang kental.

Darahku mendidih. Aku menoleh ke arah mereka. Wajah-wajah itu tampak suci, namun kata-kata mereka lebih dingin dari air sungai yang merenggut nyawa Fajar.

"Tahu apa kalian soal dia?!" suaraku keluar, rendah namun penuh penekanan, membuat bisik-bisik itu terhenti seketika.

Aku berdiri, menatap mereka satu per satu dengan mata yang memerah. "Kalian cuma lihat dia sebagai 'si alim' yang gagal, kan? Kalian tidak pernah tahu kalau dia tidak pernah tidur demi memastikan adik-adiknya bisa makan! Kalian tidak tahu betapa hancurnya dia setiap hari hanya untuk memastikan orang tuanya tidak perlu merasa khawatir!"

Aku menunjuk ke arah jenazah sahabatku. "Dia tidak meninggalkan Tuhannya. Dia hanya terlalu lelah menjadi satu-satunya orang yang kuat di dunia yang tidak pernah peduli padanya! Jangan hakimi dia seolah kalian tahu isi hatinya saat berada di jembatan itu!"

Suasana menjadi hening mencekam. Ibu Fajar mendongak, menatapku dengan mata yang sembap. Di titik itu, aku sadar; Fajar telah memberikan seluruh hidupnya untuk orang lain, sampai tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Aku sampai di rumah dalam keadaan hancur. Rumah ini kembali sunyi, tapi kali ini sunyinya berbeda. Aku berjalan masuk ke kamar orang tuaku yang sudah lama tidak kubuka. Debu menari-nari di udara saat cahaya lampu kunyalakan, memperlihatkan sudut-sudut ruangan yang menyimpan kenangan yang selama ini kupendam paksa.

Di atas meja rias ibuku, ada sebuah benda yang selama ini sengaja aku abaikan: sebuah Al-Qur'an tua yang tertutup debu tebal.

Aku teringat suara ibu bertahun-tahun lalu, saat ia mengusap kepalaku sebelum tidur. "Ari, apa pun yang terjadi nanti, kalau duniamu terasa sempit dan tidak ada lagi tangan yang bisa kau genggam, biarkan Tuhan jadi tempat bersandar terakhirmu. Jangan lari ke mana pun, Nak, larilah ke Dia."

Dulu aku menganggap itu hanya kalimat klise untuk menenangkanku. Tapi malam ini, setelah melihat Fajar yang berjuang sampai titik napas terakhir dengan 'tempat bersandar' yang sama, aku meraih kitab itu.

Debunya menempel di jemariku saat aku membukanya. Di salah satu halaman, ada bekas tanda baca yang tampak memudar, sebuah garis bawah kecil yang dibuat ibuku dulu menggunakan pensil. Di sana tertera terjemahan dua ayat yang ditulis berdampingan:

"FA INNA MA'AL 'USRI YUSRAA. INNA MA'AL 'USRI YUSRAA."

(Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.) - (QS. Al-Inshirah: 5-6)

Aku terdiam lama menatap kalimat itu. Aku menyadari satu hal: Fajar bukannya tidak punya iman, dia hanya seorang manusia yang sudah mencapai batas kesanggupannya. Dan ibuku... beliau ingin aku tahu bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat di mana aku boleh menjadi lemah tanpa dihakimi.

Malam itu, aku mengambil air wudhu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menggelar sajadah di kamar itu.

Saat aku berdiri di atasnya, kenangan tentang Fajar di minimarket dan suara lembut ibu seolah menyatu. Aku melakukan setiap gerakan dengan kaku, namun hatiku terasa penuh. Hingga pada saat terakhir, ketika aku duduk dan menadahkan kedua tanganku, semua pertahanan yang kubangun selama ini runtuh.

Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan yang selama ini aku jauhi.

Tanganku bergetar saat aku menengadah. Dalam isak tangis itu, aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Ibu dan Fajar. Menjadi hamba bukan berarti tidak boleh hancur. Menjadi hamba adalah tentang berani menunjukkan luka itu di hadapan-Nya saat dunia hanya menuntut kita untuk selalu 'nggak apa-apa'.

Di atas sajadah yang mulai basah oleh air mata, aku menemukan alasan itu. Alasan yang Fajar tinggalkan untukku. Bahwa seberapa pun berisiknya kepala dan seberapa pun hancurnya hidup, setidaknya aku punya tempat untuk mengadu tanpa perlu memakai topeng ketenangan lagi.

Malam itu, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku akhirnya pulang.



Penulis: Fata Syaekhan, Mahasiswa dan Honorer Tendik (Tenaga pendidik).

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.