Thu, 14 May 2026
Cerpen / Dita Amalia Anggraini / May 14, 2026

Toko Buku Itu

Derap langkahku mulai menyusuri lorong-lorong dingin tempat buku-buku favoritku berjajar. Sorot mataku menyapu ke kiri dan kanan tempat rak-rak tua penyimpan buku tersusun simetris. Sepasang suami istri melempar senyum hangatnya untuk kesekian kali. Remang pijar lampu menambah hangat suasana setiap kali aku mampir.

Buku Cantik Itu Luka mengunci pandanganku untuk kesekian kali. Aku meraih bukunya, membaca sinopsisnya meski telah ribuan kali menyelami kata demi kata di dalamnya. Anehnya, aku tak kunjung membelinya meski puluhan kali membaca untaian kata di bagian belakang buku.

“Dalam sebulan, ini pertemuan kita yang keempat kali,” ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelahku.

“Kalau begitu, tandanya kita harus berkenalan,” jawabku bersemangat.

Lelaki itu seperti dejavu yang berulang. Kaos coklatnya seolah menyatu dengan aroma debu di rak-rak toko ini. Enam kali sudah, laki-laki itu muncul. Gaya rambut comma hair dan celana jeans yang rapi selalu menarik perhatianku. Di toko ini, ia bukan lagi orang asing bagiku.

Mungkin ia tak pernah sadar. Mungkin juga ia abai. Namun pada persinggahan ketiga, sepasang netra yang saling mengunci telah menenun benang merah diantara kami. Barangkali, itulah alasan mengapa ia memecah sunyi dan menyapaku hari ini. 

Kami menyisir lorong demi lorong. Berdampingan layaknya sepasang kekasih yang baru saja mengeja arti debar.  Masih terlampau malu untuk bersentuhan. Sesekali dia berhenti, jemarinya menunjuk barisan sampul yang pernah ia khatamkan. 

“Kalo kamu suka fiksi, buku ini aku cocok untuk kamu baca,” 

“Menarik. Lantas, buku apa yang paling kamu suka?”

“Apapun, tapi salah satu yang ingin kubaca adalah Cantik Itu Luka.”

“Amat ingin? Berarti belum pernah sama sekali membacanya?” 

“Benar. Beri aku satu alasan agar aku segera menuntaskan buku itu.”

Aku terpaku. Tenggelam dalam telaga matanya. Tatapan yang begitu tenang, namun di saat yang sama, ia seolah mendikteku untuk segera melontarkan jawaban.

“Aku belum tuntas membacanya. Tapi kamu tahu kan, Eka Kurniawan penulis yang hebat.”

Jarum jam merayap tepat di angka enam saat kami memutuskan untuk berpisah. Dengan sebuah janji, akan kembali bertemu minggu depan di waktu yang sama. Aku melangkah pergi lebih dulu. Sementara ia tetap di sana, mebiarkan punggungku menjadi pemandangan terakhirnya. 

Siklus itu seakan menjadi ritual wajib di setiap minggunya. Tawa kecil selalu mengiringi kebersamaan kami setiap minggunya. Ia selalu berpesan agar kami tetap bertemu di waktu yang sama setiap minggu. Toko buku tua dengan car biru pudar itu tentunya, di mana lagi. 

Hingga empat pekan berlalu, aku merasa semesta sedang ganjil hari ini. Sudah pukul empat lewat dua puluh dua menit, dan sosoknya belum juga menapakkan langkahnya disini. Barangkali ia terlambat, atau mungkin jalanan sedang tidak berpihak padanya.

Dua jam setia menunggu, aku menyerah pada sepi. Aku memutuskan pergi tanpa temu. Pun minggu-minggu dan bulan-bulan setelahnya yang menjelma menjadi barisan penantian yang sia-sia. 

Tak ada kata pamit yang terucap. Tak ada dekapan hangat sebagai tanda perpisahan. Apalagi sebuah kecupan hangat di pipi sebagai tanda noktah yang manis.

Di ambang rasa putus asa, kuraih buku itu dari raknya. Aku bertekad membawanya pulang hari ini juga. Aku mencoba menipu diri sendiri. Mungkin ia enggan kembali karena aku belum menuntaskan tiap kata dalam buku ini. Jika buku ini habis kubaca, ia akan datang lagi menagih jawaban dari pertanyaan yang pernah ia lontarkan dulu. Begitu pikirku. 

Namun, meski tiga tahun telah luruh, ia tetap menjadi misteri yang tak kunjung pulang. Batang hidungnya tak pernah lagi hadir dalam pandanganku. Aroma tubuhnya yang kuingat telah lenyap oleh debu tebal pada setiap sudut toko ini.

Setidaknya, aku telah menghabiskan halaman terakhir buku itu. Setidaknya, buku itu telah ada dalam dekapanku. Dan setidaknya, aku pernah mencumbu bibir itu sebagai perpisahan yang tak sempat aku sadari.


Penulis: Dita Amalia Anggraini, seorang mahasiswa di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga yang saat ini berdomisili di Surabaya.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.