Toko Buku Itu
Derap langkahku mulai menyusuri lorong-lorong dingin tempat
buku-buku favoritku berjajar. Sorot mataku menyapu ke kiri dan kanan tempat
rak-rak tua penyimpan buku tersusun simetris. Sepasang suami istri melempar
senyum hangatnya untuk kesekian kali. Remang pijar lampu menambah hangat
suasana setiap kali aku mampir.
Buku Cantik Itu Luka mengunci pandanganku untuk
kesekian kali. Aku meraih bukunya, membaca sinopsisnya meski telah ribuan kali
menyelami kata demi kata di dalamnya. Anehnya, aku tak kunjung membelinya meski
puluhan kali membaca untaian kata di bagian belakang buku.
“Dalam sebulan, ini pertemuan kita yang keempat kali,” ucap
seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelahku.
“Kalau begitu, tandanya kita harus berkenalan,” jawabku
bersemangat.
Lelaki itu seperti dejavu yang berulang. Kaos coklatnya
seolah menyatu dengan aroma debu di rak-rak toko ini. Enam kali sudah,
laki-laki itu muncul. Gaya rambut comma hair dan celana jeans yang rapi
selalu menarik perhatianku. Di toko ini, ia bukan lagi orang asing bagiku.
Mungkin ia tak pernah sadar. Mungkin juga ia abai. Namun
pada persinggahan ketiga, sepasang netra yang saling mengunci telah menenun
benang merah diantara kami. Barangkali, itulah alasan mengapa ia memecah sunyi
dan menyapaku hari ini.
Kami menyisir lorong demi lorong. Berdampingan layaknya
sepasang kekasih yang baru saja mengeja arti debar. Masih terlampau malu
untuk bersentuhan. Sesekali dia berhenti, jemarinya menunjuk barisan sampul
yang pernah ia khatamkan.
“Kalo kamu suka fiksi, buku ini aku cocok untuk kamu
baca,”
“Menarik. Lantas, buku apa yang paling kamu suka?”
“Apapun, tapi salah satu yang ingin kubaca adalah Cantik
Itu Luka.”
“Amat ingin? Berarti belum pernah sama sekali
membacanya?”
“Benar. Beri aku satu alasan agar aku segera menuntaskan
buku itu.”
Aku terpaku. Tenggelam dalam telaga matanya. Tatapan yang
begitu tenang, namun di saat yang sama, ia seolah mendikteku untuk segera
melontarkan jawaban.
“Aku belum tuntas membacanya. Tapi kamu tahu kan, Eka
Kurniawan penulis yang hebat.”
Jarum jam merayap tepat di angka enam saat kami memutuskan
untuk berpisah. Dengan sebuah janji, akan kembali bertemu minggu depan di waktu
yang sama. Aku melangkah pergi lebih dulu. Sementara ia tetap di sana,
mebiarkan punggungku menjadi pemandangan terakhirnya.
Siklus itu seakan menjadi ritual wajib di setiap minggunya.
Tawa kecil selalu mengiringi kebersamaan kami setiap minggunya. Ia selalu
berpesan agar kami tetap bertemu di waktu yang sama setiap minggu. Toko buku
tua dengan car biru pudar itu tentunya, di mana lagi.
Hingga empat pekan berlalu, aku merasa semesta sedang ganjil
hari ini. Sudah pukul empat lewat dua puluh dua menit, dan sosoknya belum juga
menapakkan langkahnya disini. Barangkali ia terlambat, atau mungkin jalanan
sedang tidak berpihak padanya.
Dua jam setia menunggu, aku menyerah pada sepi. Aku
memutuskan pergi tanpa temu. Pun minggu-minggu dan bulan-bulan setelahnya yang
menjelma menjadi barisan penantian yang sia-sia.
Tak ada kata pamit yang terucap. Tak ada dekapan hangat
sebagai tanda perpisahan. Apalagi sebuah kecupan hangat di pipi sebagai tanda
noktah yang manis.
Di ambang rasa putus asa, kuraih buku itu dari raknya. Aku
bertekad membawanya pulang hari ini juga. Aku mencoba menipu diri sendiri.
Mungkin ia enggan kembali karena aku belum menuntaskan tiap kata dalam buku
ini. Jika buku ini habis kubaca, ia akan datang lagi menagih jawaban dari
pertanyaan yang pernah ia lontarkan dulu. Begitu pikirku.
Namun, meski tiga tahun telah luruh, ia tetap menjadi
misteri yang tak kunjung pulang. Batang hidungnya tak pernah lagi hadir dalam
pandanganku. Aroma tubuhnya yang kuingat telah lenyap oleh debu tebal pada
setiap sudut toko ini.
Setidaknya, aku telah menghabiskan halaman terakhir buku
itu. Setidaknya, buku itu telah ada dalam dekapanku. Dan setidaknya, aku pernah
mencumbu bibir itu sebagai perpisahan yang tak sempat aku sadari.
Penulis: Dita Amalia Anggraini, seorang mahasiswa di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga yang saat ini berdomisili di Surabaya.