Petaka Purnama Di Tanah Khadiri
Bagi penduduk Khadiri, bulan purnama bukan penanda waktu, melainkan pertanda. Ia adalah lonceng kematian yang dipukul dari langit—tanpa bunyi, tetapi getarnya menjalar sampai ke tulang. Setiap kali bulan mencapai bulatnya yang paling utuh, orang-orang menutup pintu lebih awal, mematikan pelita sebelum angin malam benar-benar turun, dan menyimpan bayi di dada masing-masing, seolah kehangatan tubuh bisa menipu maut.
Tak ada yang perlu dijelaskan. Semua tahu sebabnya.
Pada malam purnama, Buto Lucoyo keluar dari gelap.
Ia bukan sekadar raksasa pemakan manusia. Ia adalah sisa kesalahan zaman yang dibiarkan tumbuh tanpa koreksi. Tubuhnya menjulang, kulitnya berlapis luka lama yang mengering menjadi kerak hitam, seperti tanah yang terbakar berulang kali. Taringnya panjang dan bengkok, selalu basah oleh darah. Dari mulutnya menggantung bau amis yang tak hanya menempel di udara, tetapi juga di ingatan siapa pun yang menciumnya.
Bayi laki-laki adalah incarannya. Jiwa yang masih bening, tenaga hidup yang belum terikat dunia. Setiap bayi yang ia telan menambah kesaktiannya, memanjangkan umur, menebalkan ilmunya. Dalam kepercayaan tua, darah bayi raja bahkan dipercaya setara dengan darah dewa—dan itulah yang membuat Buto Lucoyo tak pernah benar-benar kenyang.
Malam itu, raungannya kembali mengoyak Khadiri. Suaranya memantul dari bukit ke bukit, membuat dedaunan bergetar sebelum angin bergerak. Ia menyusuri pematang sawah, menyeberangi ladang tebu, dan menabrak dinding rumah bambu seolah itu hanya anyaman rapuh tanpa nyawa.
Di sebuah rumah kecil di tepi desa, seorang ibu menutup mulut bayinya dengan telapak tangan yang gemetar. Bayi itu meronta, wajahnya memerah, tangisnya tertahan di tenggorokan.
“Diam, Nak… diam,” bisik sang ibu, lebih seperti doa.
Di depan pintu, suaminya berdiri dengan tombak pendek. Lututnya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena ia tahu betul apa yang akan terjadi jika raksasa itu menemukan mereka.
“Kalau ia masuk,” katanya lirih, “lari ke sungai.”
“Kalau kau?” tanya istrinya.
Tak ada jawaban. Hanya napas berat yang ditahan terlalu lama.
Adegan serupa terulang di banyak tempat. Ada yang menyembunyikan kehamilan istrinya jauh ke hutan jati, ada yang berpindah dari desa ke desa, berharap Buto Lucoyo kehilangan jejak. Sebagian nekat melawan. Mereka berkumpul di perempatan, menghunus celurit, tombak, bahkan bambu runcing, sambil meneriakkan nama-nama leluhur.
Namun melawan Buto Lucoyo sama artinya dengan melawan malam itu sendiri.
Pagi selalu datang dengan kesunyian yang aneh. Rumah-rumah terbuka tanpa suara. Kain putih terbentang. Doa pendek dilafalkan dengan bibir gemetar. Tanah digali terburu-buru, seolah kematian tak boleh dibiarkan terlalu lama berada di permukaan.
Para tetua desa berputar-putar di antara nalar dan putus asa. Ritual digelar berlapis-lapis. Sesaji ditata dengan cermat: nasi tumpeng, darah ayam hitam, bunga tujuh rupa. Dupa dibakar hingga mata perih. Mantra-mantra tua dibacakan oleh mulut yang telah kehilangan banyak gigi, tetapi belum kehilangan ingatan.
Nama Dewa Wisnu dipanggil berkali-kali.
Namun langit tetap diam.
Ketika persembahan hasil bumi ditawarkan—padi terbaik, kelapa muda, kerbau gemuk—Buto Lucoyo hanya tertawa. Tawanya berat, berlapis, seperti batu bergesekan di dasar sungai.
“Manusia,” katanya suatu malam, “kalian selalu ingin menukar nyawa orang lain dengan ketenangan kalian sendiri.”
Sejak itu, tak ada lagi yang mencoba berunding.
Di istana Astana, raja mengikuti semua kabar dengan wajah yang semakin menua. Pasukan telah dikerahkan. Pendekar-pendekar terbaik negeri dipanggil dari pertapaan mereka. Pusaka-pusaka lama dikeluarkan dari peti besi yang jarang dibuka.
Beberapa kali Buto Lucoyo berhasil dipukul mundur. Darahnya tumpah. Tandunya retak. Namun setiap bulan purnama, ia selalu kembali—lebih marah, lebih lapar, seolah luka justru menjadi pupuk bagi kebenciannya.
Kegelisahan raja mencapai puncaknya ketika permaisuri mengandung putra pertama. Pewaris takhta. Harapan negeri.
Setiap malam, raja berdiri di serambi, menatap langit, menghitung hari, menghitung purnama. Tangannya sering kali mengepal tanpa sadar.
“Semoga ia tak lahir di bawah bulan penuh,” katanya, entah pada siapa.
Harapan itu runtuh pada malam ketika angin tiba-tiba berhenti. Burung-burung terdiam. Anjing-anjing meringkuk tanpa suara. Perut permaisuri berkontraksi hebat, dan jeritannya terdengar bersamaan dengan tawa yang datang dari kejauhan.
“Serahkan anakmu, Prabuu!” teriak Buto Lucoyo dari balik gerbang istana.
“Anak raja adalah anak dewa!”
Raja tak menjawab dengan kata-kata. Ia meloncat, menggenggam trisula emas pusaka leluhur. Mata raja menyala, bukan oleh kesaktian, melainkan oleh kehormatan yang diinjak-injak.
“Kali ini, hanya satu yang pulang.” Raja melompat ke gelanggang
Benturan mereka membuat langit Khadiri seperti retak. Trisula emas menghantam lengan raksasa. Tangan Buto Lucoyo menghantam tanah. Sungai Brantas bergolak, airnya naik ke tanggul, membawa lumpur dan ranting.
Penduduk menjerit dari balik rumah. Sebagian berlutut, sebagian menutup telinga.
Namun dalam sekejap yang menentukan, raja lengah.
Pukulan telak menghantam dadanya. Tulang retak terdengar jelas. Raja terlempar, muntah darah. Dengan sisa tenaga, ia melemparkan trisula emas itu. Senjata suci itu mengenai tanduk Buto Lucoyo, membuat raksasa itu mundur selangkah.
Raja roboh. Nafasnya terputus di tanah yang ia jaga seumur hidup.
Buto Lucoyo tertawa dan melangkah menuju istana, menyeberangi Brantas yang kini berwarna gelap.
Di dalam kamar permaisuri, seorang ibu memeluk bayinya. Tangisnya pecah, tetapi suaranya pelan, nyaris doa.
“Ambil aku,” bisiknya. “Jangan anakku.”
Doa itu menggantung lama—lalu dijawab dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Tubuh permaisuri perlahan mengeras. Kulitnya menjadi batu. Tangannya yang memeluk bayi berubah menjadi dinding. Ia meninggi, meluas, menjelma gunung dengan seribu puncak. Gunung Wilis—Gunung Welas—lahir dari kasih yang memilih menghilang demi melindungi.
Buto Lucoyo mengaum marah. Ia mendaki satu puncak, lalu puncak lain. Bulan purnama datang dan pergi. Ia gagal menemukan bayi itu.
Tahun berlalu.
Dari rahim batu dan sunyi, muncul pemuda gagah bernama Arya Wilis. Ia tumbuh dalam kesenyapan. Belajar dari angin yang mengajarkan kesabaran, dari batu yang mengajarkan keteguhan, dari petir yang mengajarkan batas. Dalam darahnya mengalir kekuatan Wisnu—bukan sebagai kemarahan, melainkan sebagai penyeimbang.
Hingga suatu malam purnama, tanah kembali bergetar.
Buto Lucoyo berhasil mencapai puncak tertinggi Gunung Wilis. Di sana, Arya Wilis duduk bersila, bersemedi, matanya terpejam.
“Jadi kau yang disembunyikan gunung,” dengus raksasa itu.
Arya membuka mata perlahan.
“Aku bukan disembunyikan,” katanya tenang.
“Aku dilindungi.”
Buto Lucoyo tertawa dan menghantam. Puncak gunung runtuh. Batu beterbangan. Arya menangkis dengan tangan kosong. Benturan mereka membuat awan terbelah, petir menyambar tanpa suara.
Pertarungan berlangsung lama. Mereka saling menguji. Saling membaca. Tinju raksasa menghantam batu, tangan Arya menghantam urat kesaktian. Darah menetes ke lereng Wilis, mengalir seperti sungai kecil yang tak pernah ada sebelumnya.
“Kau pasti akan kalah” geram Buto Lucoyo. “Aku abadi!”
Pada saat itulah trisula emas pusaka ayahnya bergetar di balik, pusaka itu muncul dari perut gunung dengan cahaya keemasan, ia menjelma naga bercahaya. Suaranya bergema di udara.
“Dialah pembunuh ayahmu.”
Gunung bergetar. Angin berhenti.
Mata Arya Wilis berubah. Murkanya bukan ledakan, melainkan tekanan berat yang membuat udara sulit dihirup.
“Kau bukan abadi,” katanya, suaranya berlapis,
“kau hanya belum menemukan batasmu.”
Buto Lucoyo mengerahkan ilmu penghancur warisan Dewa Siwa. Api hitam menyembur dari tubuhnya. Hutan terbakar. Batu meleleh. Langit memerah.
Arya Wilis mengatupkan tangan.
“Among Jagat.”
Halilintar turun mencambuk tubuh raksasa. Api kosmik membakar dagingnya. Air dari segala penjuru datang, menyeret tubuh raksasa itu ke lereng, ke sungai, ke samudra. Angin menggulungnya seperti daun kering. Terakhir, bumi membuka rahangnya, menggencet Buto Lucoyo, menyeretnya ke dasar laut, dari sana muncul gunung kecil yang kelak disebut dengan gunung kelud.
Di kegelapan terdalam, raksasa itu meraung, mengancam akan kembali.
Arya Wilis berdiri di tepi samudra. Angin mereda. Petir berhenti. Bulan purnama menggantung, tak lagi terasa seperti lonceng kematian.
“kau akan selalu menemukan aku.”
“Aku akan menuntut dendam pada rakyat Khadiri”
Sejak malam itu, purnama di Khadiri tak lagi hanya membawa ketakutan. Ia juga mengingatkan: bahwa welas asih, bila dijaga cukup lama, dapat tumbuh menjadi kekuatan yang bahkan keabadian pun tak sanggup melahapnya.
Penulis: Mohammad Afin Masrija, lulusan S2 HTN dan S1 Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni PP Miftahul Falah Kediri dan Wahid Hasyim Yogyakarta. Guru dan pembina jurnalistik di MAN 2 Kota Kediri. Tulisannya dimuat di Duta Masyarakat, Memorandum, Majalah Aula, Majalah Mimbar, Pronesiata, MPAjatim, dan GresikSatu.