Mon, 02 Mar 2026
Cerpen / Yogik Septiawan / Mar 02, 2026

Perjanjian Terlarang

“Aku rindu kampung bram, sudah berpuluh tahun kita ini di tanah perantauan. Meskipun bukan lahir disana sepertimu, aku tak bisa berlama-lama meninggalkannya”

“Demikian juga denganku”

“Aku akan pulang minggu depan, bertemu keluargaku disana”

“Apa kau yakin ngga? Melewati sungai lara? Kau masih inggat bukan?”

“Tentu saja, aku mengingatnya sampai kapanpun”

Rindu yang sudah memuncak pada keluarganya membulatkan tekad untuk pulang minggu depan. Tabungan yang terkumpul sebelas tahun sudah cukup membiayai kebutuhan harian dan membayar hutang pada tetangga-tetangganya, termasuk pada Santoso.

Seharian angga berlayar, akhirnya sampai di desa seberang. Perahu kecil yang sudah reyot itu mengantarkan Angga menuju kampungnya. Kodok, ikan dan bekicot menjadi saksi kedatangannya.

Desa Gedong nampak seperti surga jika terlihat dengan mata telanjang. Hamparan persawahan yang luas, para petani berjejer menanam bibit padi, sebagian ada yang sudah tumbuh besar, gemuruh angin dan gelombang sungai lara yang mengusik ketenangannya, kicau burung, belalang dan kupu-kupu bertebaran dikala orang-orangan sawah melambaikan tangannya. 

Indah, sejuk dan lestari yang membuat angga tak bisa melupakannya. Termasuk peristiwa mistis yang pernah di alaminya 11 tahun yang lalu.

Disisi yang lain, sosok Cak San. Santoso, atau yang akrab disapa Cak San, adalah potret kesederhanaan dan kedamaian. Sehari-harinya cak San menyapa setiap warga desa, seorang yang ramah pada tetangga dan warga desanya. Tidak ada pakaian khusus yang digunakan, tidak berdasi, tidak juga berjas begitu juga tidak menggunakan batu akik, Cak San selayaknya warga biasa. Rumahnya berdinding anyaman bambu, atapnya dari daun kelapa, namun hatinya seluas senyumannya yang senantiasa menyelimuti wajahnya. 

Tak banyak yang mengerti sosok Santoso, di balik kesederhanaan dan keramahannya Cak San menyimpan misteri yang berasal dari dalam sungai Lara. Orang-orang tidak ada yang mengetahuinya bahkan sahabatnya, Sabrang terkecoh oleh kesederhanaan Santoso. 

Cak San tidak ingin kekuasaan, tidak pula kekayaan. Kekuasaan dan kekayaan baginya hanya membawanya kepada kesombongan semata. San hanya ingin kekebalan tubuh, tidak tembus peluru dan tidak terluka saat di tebas celurit. Kalap bersedia mengabulkan permintaannya, tetapi itu tidak datang secara Cuma-Cuma. Kalap meminta diberi tumbal yang setimpal.

“Santoso. Santoso. Santoso. Aku ng kene Santoso. Aku teko. Sebotno opo panjalukmu?”

Sambil gemetar tubuhnya Santoso mengatakan apa keinginannya, “Mbah, penguoso kali iki. Kulo   badhe kekebalan salira”

“Haa haha haha, Santoso, Santoso. Aku kabulno panjalukmu! karo syarat, wenehake ning aku saben wengi sasi purnama siji  anak lembu!” 

Belum sempat mengucapkan terima kasih, Kalap sudah pergi. 

Dalam malam yang sunyi, disaksikan puluhan bintang dan sepasang kekasih. Di teras rumah, tikar dari anyaman daun pandan sebagai alas menikmati malam purnama. Di dalam gubuk reyot di tepi sungai, di temani bara api yang semakin kuat, Santoso melakukan aksinya, ritual setiap datang bulan purnama. Kemenyan yang semakin mengepul asapnya, komat-kamit membaca mantranya. 

Dhuh seng njogo kali..

Panguwasa banyu..

Raja sakehing ratu..

Dhuh dhuh mulya ingkang murka, sumangga rawuh..

Darah sapi nom iki dak pasrahake marang kowe. Menehi kula kakebalan salira..

Cak San memanggil kalap, sesosok hantu air yang legendaris sebelum adanya Desa Gedong. Dalam mimpinya yang penuh kabut dan riak air hitam, Kalap mulai menunjukkan keinginannya yang mengerikan, anak sapi yang lebih gemuk.

Santoso pusing tujuh keliling, ia dilanda dilema.  Anak sapi adalah barang berharga bagi penduduk desa, apalagi ia tahu betul Sabrang, sahabat karibnya seorang peternak sapi. Santoso dihadapkan antara kekebalan tubuh atau sahabatnya. Menjadikan sapi-sapinya sebagai tumbal sama saja menghianati persahabatan yang sudah lama terjalin sejak kecil. Tetapi, janji pada lelembut harus ditepati, jika tidak murka kalap akan segera tiba dan akan kehilangan kekebalan yang selama ini melindunginya. Bahkan kehilangan nyawanya..

***

Pagi hari yang cerah, tetapi tidak dengan suasana hati Sabrang. Sabrang melihat seekor anak sapinya yang hilang dari kendang. Terlihat jejak kaki di orang dan jejak kaki sapi menuju arah sungai. Ia menemui Santoso, menceritakan kehilangan sapinya. Santoso yang berusaha tetap. Tenang dengan kedatangan sabrang, meskipun hatinya berdebar-debar. Bulan berikutnya, kejadian yang sama terulang. Sabrang kehilangan lagi. Kali ini ia menaruh curiga pada Santoso, karena setiap anak sapinya hilang saat itu juga Santoso tidak ada di rumahnya, melainkan di gubuk dekat sungai. Kecurigaan Sabrang semakin besar. Ia mulai mengamati gerak-gerik Santoso secara diam-diam.

Suatu malam, tepat munculnya bulan purnama. Sabrang melihat Santoso berjalan tergesa-gesa menuju sungai dengan membawa sesuatu yang tertutup kain. Sabrang mengikutinya, bersembunyi dibalik pohon pisang. Di bawah bulan purnama, di depan riak air sungai, ia melihat Santoso melakukan ritual aneh di tepi sungai, dan beberapa meter dari lokasi Santoso terlihat secara samar-samar muncul sosok yang menakutkan dari dalam air-Kalap. Kain itu mulai dibuka Santoso, dan sabrang terkejut Ketika menyadari bahwa dibalik kain itu adalah anak sapi miliknya yang dijadikan tumbal Santoso.

Bangsa lelembut tetaplah pada jati dirinya, situasi semakin tegang antara kalap dan Santoso. Kalap Kembali meminta tumbal yang yang lebih besar. Permintaan itu hadir melalui mimpi-mimpi Santoso. Sosoknya hadir lebih jelas, dengan mata merah menyala dan rambutnya yang merah pula Kalap meminta anak sapi yang lebih gemuk, atau nyawa Santoso yang menjadi gantinya. 

Waktu demi waktu, hari demi hari berganti. Kalap mulai memperlihatkan amarahnya, melalui bisikan-bisikan halus di setiap malam hari. Riak-riak air sungai terlihat aneh, perlahan memutar membentuk pusaran. Cak San semakin putus asa. Ia tidak tega lagi pada Sabrang, namun ia juga tidak sanggup menyerahkan nyawanya. Malam purnama itu, dengan langkah berat, ia kembali ke tepi sungai. Ia tidak membawa tumbal. Penguasa sungai itu murka. Ia muncul dari dalam air, kali ini menyerupai sesosok raksasa, tinggi menjulang dengan taring yang tajam. Air sungai menjadi merah seakan menunjukkan kemarahannya. Santoso tidak dapat berbuat banyak, kekuatan tubuhnya tiba-tiba hilang. 

Sabrang yang sudah menaruh rasa curiga terus mengawasi Santoso melihat kejadian mengerikan itu dari kejauhan. Ia menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana Santoso di seret ke dalam sungai oleh Kalap-Lelembut yang selama ini ia pelihara. 

Pagi harinya, warga desa geger dengan ditemukannya tubuh Santoso mengapung di sungai. Tidak ada luka dalam tubuhnya, tidak pula ditemukan barang bukti disekitar sungai, namun melihat ekspresi mayat Santoso yang penuh dengan ketakutan. Sabrang, dengan hati yang hancur dan penuh kekecewaan pada sahabatnya menceritakan kepada beberapa tetua desa yang ia percayai. Kisah tentang kalap dan perjanjian terlarang Santoso akhirnya terungkap. 

Angga yang pada saat penemuan tubuh Santoso berada di sekitar sungai, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia merasa setelah kejadian itu menjadi tenang, seakan kekuatan hitam sudah hilang dari sungai lara. Semenjak tragedi itu, ia kembali menikmati asiknya bermain di sungai lara, tanpa pernah merasa adanya ancaman. 

Desa yang tenang kembali bersandar di sini, namun apa yang sudah terjadi antara santoso dengan mahkluk halus menjadi pembelajaran yang tak pernah diulangi lagi oleh penduduk desa. Penduduk desa sadar, bahwa perjanjian dengan makhluk halus tidak bisa dihentikan begitu saja, dan setiap perjanjian memiliki konsekuensinya yang harus dibayar, bahkan nyawanya sekalipun!



Penulis: Yogik Septiawan adalah lelaki kelahiran Gresik, Jawa Timur. Ia menyelesaikan S1 di PBSI, Universitas Muhammadiyah Surabaya (2020), dan lulus Magister Sastra, di FIB, Universitas Gadjah Mada (2025).

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.