Dari "Jamet" ke FYP
Manusia modern hari ini hidup di ambang batas kewarasan yang tipis. Di dunia nyata, kita dihantam oleh tuntutan ekonomi, tekanan akademis, hingga ketidakpastian masa depan. Ketika waktu luang tiba, alih-alih beristirahat, tangan kita secara otomatis membuka gawai, menjadikan selancar media sosial sebagai daftar “to do list” wajib sepanjang hari.
Kita mencari distraksi, pelepasan emosi, atau sekadar ruang untuk melarikan diri dari realitas yang melelahkan. Di tengah riuhnya lalu lintas digital tersebut, cobalah buka beranda TikTok Anda sekarang. Kemungkinan besar, dalam lima kali usapan layar, Anda akan menemukan sebuah video dengan transisi visual yang cepat, ketukan gambar yang presisi, dan diiringi oleh dentuman bass lokal yang menggelegar.
Bagi sebagian orang, musik ini mungkin terdengar seperti polusi suara. Namun bagi jutaan pengguna internet di Indonesia, musik remix lokal dengan karakteristik Electronic Dance Music (EDM) berciri khas bass beat yang cepat dan kuat ini adalah sebuah ritual harian.
Menariknya, musik yang dulunya lekat dengan stereotip "jamet" (Jawa Metal), "alay", dan dianggap sebagai konsumsi kelas sosial rendah, kini telah naik kelas dan dinormalisasi oleh semua kalangan mulai dari konten komedi influencer papan atas hingga tren makeover komersial merek global.
Mengapa subkultur yang dulunya dipandang sebelah mata ini justru bertransformasi menjadi bahasa komunikasi visual yang seragam dan menciptakan sense of belonging (rasa memiliki) yang begitu kuat di era virtual? Sejak masa lampau, musik telah diakui memiliki kekuatan emosional luar biasa yang mampu menyentuh sisi terdalam manusia, bahkan memberikan "dampak magis" bagi pendengarnya (Shiloah et al., 2007). Di era digital, kekuatan magis itu mewujud dalam bentuk algoritma dan fitur For Your Page (FYP) TikTok.
Dalam kacamata sosiologi budaya, apa yang terjadi pada musik JJ adalah proses normalisasi budaya (Tiantini et al., 2023). Dulu, ada garis batas estetika yang tegas: musik yang dianggap "keren" adalah musik pop barat atau indie yang estetik, sedangkan musik remix lokal dianggap "kampungan". Namun, paparan terus-menerus melalui algoritma TikTok mengikis batas tersebut. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh dan bising perlahan-lahan menjadi akrab di telinga kita.
Fenomena ini tidak terjadi di ruang hampa. Data empiris menunjukkan bahwa generasi muda (Gen Z) di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari di media sosial (Harnimayanti & Rosida, 2025).
Dengan durasi konsumsi seintensif itu, musik JJ menjelma dari sekadar tren audio menjadi alat utama untuk membangun keterikatan emosional (engagement) yang tinggi dengan audiens. Musik bising (noise music) atau gaya pengeditan visual yang ekstrem ini pada hakikatnya adalah bentuk "kebisingan" yang mengganggu keteraturan pesan media arus utama, sebuah ekspresi simbolis dari ketegangan sosial dan perlawanan terhadap pakem estetika konvensional yang kaku (Hebdige, 1979).
Menurut pakar narasi digital Georgakopoulou (2025), masyarakat modern khususnya Gen Z kini melihat TikTok bukan lagi sekadar tempat untuk pamer keaslian yang mentah, melainkan ruang untuk membagikan "kisah yang mudah dipahami dan dirasakan bersama”. Di sinilah musik Jedag-Jedug mengambil peran krusial.
Ketika seseorang membuat video drama kehidupan, curhatan patah hati, atau bahkan video hasil kreasi kecerdasan buatan (AI) dengan latar musik JJ, mereka sedang melakukan bricolage. Mereka mengambil elemen budaya yang sudah ada (lagu populer yang diremix) dan merakitnya kembali untuk menciptakan makna baru yang relevan dengan kehidupan mereka.
Ketika kita melihat ribuan orang menggunakan sound JJ yang sama untuk menceritakan nasib sial mereka yang serupa misalnya, susahnya mencari kerja atau lika-liku kehidupan keluarga terjadi proses validasi kolektif. Kolom komentar menjelma menjadi ruang pengakuan dosa dan tawa bersama. Kita tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi absurditas hidup.
Ritual Digital dan Demokratisasi Kreativitas
Secara antropologis, penggunaan templat dan repetisi tren ini menyerupai sebuah "ritual". Ritual menurut Victor Turner (1969), membutuhkan tindakan konvensional yang dapat direplikasi dan diikuti oleh anggotanya. Dalam ekosistem TikTok, keselarasan antara transisi gambar dengan beat musik JJ adalah simbol keteraturan digital.
Ketika seorang pengguna yang mungkin awalnya menganggap musik JJ itu aneh mulai mencoba menggunakan templat tersebut dan mengunggah videonya, ia sedang melewati proses liminal (fase transisi). Melalui ritual penyuntingan dan penyeragaman visual ini, ia melepaskan identitas lamanya dan bertransformasi menjadi bagian yang diakui oleh komunitas virtual.
Ini adalah apa yang disebut sebagai "keaslian yang terformat", di mana kita menemukan rasa aman dengan cara mengikuti pola yang sudah disepakati bersama.
Fenomena ini mencapai puncaknya ketika musik Jedag-Jedug mulai mengadopsi ketukan liar dari lagu-lagu Brazil atau Brazilian Phonk. Di sini, bricolage tidak lagi sekadar eksperimen lokal, melainkan sebuah dialog budaya global yang diadopsi secara massal. Kolaborasi audio ini melahirkan tren dance viral yang seragam di layar kaca kita.
Secara antropologis, gerakan dance yang direplikasi oleh jutaan pengguna ini bertindak sebagai sebuah ritual tubuh digital. Keseragaman gerakan dan ketukan musik ini memberikan perasaan aman: sebuah penegasan bahwa di tengah dunia maya yang asing, mereka menari dalam ritme yang sama dengan jutaan orang lainnya.
Katarsis Emosional dan Ruang Sense of Belonging
Lebih dari sekadar tren visual, dentuman bass yang menggelegar dalam musik Jedag-Jedug memiliki efek psikologis yang mendalam. Musik bukan sekadar hiburan; ia adalah alat bagi individu untuk mendapatkan ketangguhan (resilience), mendefinisikan ulang diri mereka, dan terhubung dengan orang lain (Gamble, 2021).
Suara bass yang keras dan bising memberikan efek psikologis sebagai mood booster dan sarana pelampiasan emosi bersama (Utomo, 2018). Di tengah kepungan stres harian, mendengarkan atau membuat konten JJ berfungsi sebagai alat katarsis, sebuah pelepasan emosi yang meledak-ledak namun aman karena dilakukan di ruang siber. Ungkapan seperti "lagu ini membuat saya merasa bisa melakukan apa saja" menunjukkan bagaimana musik populer lokal mampu memberdayakan individu yang merasa tidak berdaya di dunia nyata.
Melalui konsumsi partisipatif ini, terciptalah apa yang disebut sebagai Komunitas Virtual. Ini adalah bentuk ikatan manusia yang esensial di mana perbedaan status sosial dunia nyata (kaya-miskin, kota-daerah, berpendidikan tinggi-rendah) seketika luruh.
Rasa memiliki (sense of belonging) tidak lagi menuntut kita untuk berada di ruang fisik yang sama atau saling mengenal secara personal (Lien & Melhuus, 2007). Kesatuan digital kita hari ini dibangun di atas jembatan afektif, di mana elemen sensorik digital seperti dentuman bass musik JJ bertindak sebagai lem super yang menyatukan potongan-potongan kesepian individu menjadi sebuah solidaritas kelompok yang dinamis.
Pada akhirnya, fenomena musik Jedag-Jedug di TikTok mengajarkan kita bahwa budaya populer selalu punya cara unik untuk menyembuhkan dan menyatukan manusia. Musik JJ bukan lagi sekadar musik latar visual yang lewat sekilas di layar gawai kita, melainkan sebuah dokumen sosial yang merekam bagaimana generasi hari ini beradaptasi, bertahan hidup, dan mencari validasi di tengah dunia yang makin virtual.
Ia mendobrak pakem estetika lama yang elitis, mendemokratisasi kreativitas, dan menyediakan ruang katarsis yang murah serta inklusif bagi siapa saja. Jadi, saat berikutnya Anda melihat video Jedag-Jedug melintas di linimasa Anda, jangan buru-buru mengernyitkan dahi. Di balik kebisingan bass yang menghentak itu, ada jutaan manusia yang sedang merayakan kehidupan, dan menertawakan masalah mereka.
Penulis: Ilham Arif Ramadhan, melanjutkan Studi Magister Antropologi di Yogyakarta.