Di Balik Desil, Ada Manusia
Beberapa
waktu lalu, perhatian publik tertuju pada seorang warga Kulon Progo, Daerah
Istimewa Yogyakarta, bernama Timbul. Posisi desilnya dalam Data Tunggal Sosial
dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sempat berubah dari desil 1 menjadi desil 9.
Setelah dilakukan pengecekan dan pemutakhiran, posisinya kembali berubah
menjadi desil 3. BPS menjelaskan bahwa data sebelumnya belum sepenuhnya
mencerminkan kondisi terkini dan proses pembaruan kemudian dilakukan bersama
warga tersebut.
Peristiwa itu
barangkali terlihat seperti persoalan administrasi. Namun, di balik perubahan
angka tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh sebuah
angka mampu menggambarkan kehidupan manusia? Di layar komputer, seseorang dapat
berada pada posisi tertentu dalam pemeringkatan kesejahteraan. Di rumah,
kehidupannya tetap berlangsung dengan segala kerumitan: pendapatan, pekerjaan,
biaya pendidikan, kesehatan, kebutuhan pangan, dan berbagai risiko yang tidak
selalu bergerak mengikuti perubahan data.
Pertanyaan
itu menjadi semakin penting ketika DTSEN kini digunakan sebagai rujukan bersama
pemerintah untuk perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program.
Di dalamnya terdapat desil, yaitu pengelompokan keluarga berdasarkan posisi
relatif tingkat kesejahteraannya.
BPS menegaskan bahwa desil bukan ukuran
tunggal kemiskinan, bukan pula ukuran absolut pendapatan atau kekayaan. Ia
menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya
berdasarkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi.
Penggunaan
data semacam ini tentu memiliki alasan kuat. Negara tidak mungkin
mengalokasikan anggaran perlindungan sosial tanpa mengetahui siapa yang
membutuhkan prioritas. Data yang terintegrasi dapat membantu mengurangi tumpang
tindih, memperbaiki sasaran, dan membuat kebijakan lebih dapat
dipertanggungjawabkan. Karena itu, kritik terhadap desil tidak seharusnya
dipahami sebagai penolakan terhadap statistik.
Persoalannya
justru terletak pada pertanyaan yang lebih mendasar: ketika angka digunakan untuk membantu menentukan sasaran kebijakan,
apakah sistem masih mampu melihat manusia di balik angka tersebut?
Kita perlu
mengingat bahwa kehidupan sosial bergerak jauh lebih cepat daripada
administrasi. Sebuah keluarga yang beberapa bulan lalu memiliki penghasilan
tetap dapat kehilangan pekerjaan.
Usaha kecil dapat mengalami penurunan omzet.
Anggota keluarga dapat jatuh sakit. Beban pendidikan anak dapat bertambah.
Rumah tangga yang sebelumnya relatif aman dapat tiba-tiba menjadi rentan.
Sebaliknya,
keluarga yang dahulu berada dalam kondisi sulit dapat mengalami perbaikan.
Karena itu, posisi desil bukan identitas seseorang. Ia adalah posisi relatif
dalam suatu pemeringkatan pada suatu waktu. BPS sendiri menegaskan bahwa posisi
desil dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial-ekonomi dan pemutakhiran
data.
Di sinilah
tantangan terbesar kebijakan berbasis data: kehidupan
manusia bersifat dinamis, sedangkan data membutuhkan proses untuk diperbarui.
Jika jarak antara keduanya terlalu lebar, persoalan administrasi dapat berubah
menjadi persoalan keadilan.
Dampaknya
tidak kecil. BPS mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026
masih mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari penduduk. Kemiskinan
perdesaan bahkan mencapai 10,67 persen, lebih tinggi dibandingkan perkotaan
yang sebesar 6,34 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa di balik satu
statistik nasional terdapat jutaan kehidupan dengan kondisi yang berbeda-beda.
Karena itu,
ketepatan data bukan semata persoalan teknis. Ia memiliki konsekuensi sosial.
Ketika keluarga rentan tidak dikenali dengan baik, akses terhadap perlindungan
dan kesempatan dapat terganggu. Anak dapat menghadapi risiko pendidikan yang
lebih besar, keluarga dapat menunda pengobatan, dan rumah tangga dapat semakin
sulit pulih setelah mengalami guncangan ekonomi.
Di titik
inilah kita perlu membedakan benar secara administratif dan adil secara sosial. Sebuah data mungkin benar menurut
informasi yang tersedia ketika dihitung. Namun, jika informasi itu sudah
berubah sementara klasifikasinya belum diperbarui, keputusan yang mengikutinya
dapat kehilangan relevansi.
Pemerintah
sebenarnya telah bergerak ke arah perbaikan. BPS menyebut pemutakhiran DTSEN
dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai sumber, termasuk data
administrasi, sensus dan survei, pengecekan lapangan, pembaruan pemerintah
daerah, serta pembaruan mandiri oleh masyarakat. DTSEN versi 3 tahun 2026, per
10 Juli, mencakup sekitar 290,13 juta individu dan 95,98 juta keluarga.
Bahkan pada
April 2026, BPS menyatakan pemutakhiran DTSEN Volume 2 mencakup sekitar 95,3
juta keluarga atau 289,3 juta individu dan menurunkan kesalahan inklusi menjadi
sekitar 0,06 persen. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan pemerintah tidak
menyadari pentingnya akurasi. Justru tantangannya adalah bagaimana memastikan
sistem yang semakin besar tetap responsif terhadap perubahan kehidupan warga.
Pada titik
ini, Pancasila memberi ukuran yang lebih dalam.
Sila kedua
mengingatkan bahwa warga bukan sekadar objek pendataan, melainkan manusia yang
memiliki martabat. Sila keempat mengingatkan bahwa kebijakan publik tidak cukup
hanya rasional secara teknokratis, tetapi juga membutuhkan ruang bagi warga
untuk menyampaikan keadaan dan memperbaiki kekeliruan. Sila kelima memberi
ukuran akhirnya: kebijakan harus bermuara pada keadilan sosial.
Maka, negara
boleh menggunakan data untuk melihat rakyat.
Namun, negara tidak boleh berhenti pada angka ketika berhadapan dengan
manusia. Sebab di
balik setiap desil, ada kehidupan yang harus dipahami, martabat yang harus
dijaga, dan keadilan yang harus diwujudkan.
Dengan
demikian, desil seharusnya menjadi alat untuk menemukan manusia yang membutuhkan,
bukan label yang mengurung manusia dalam kategori.
Karena itu,
yang diperlukan bukan meninggalkan desil, melainkan memperkuat ekosistem di
sekelilingnya. Pemutakhiran harus responsif terhadap perubahan. Verifikasi
lapangan tetap penting ketika data administratif tidak cukup menggambarkan
kondisi warga.
Mekanisme usul, sanggah, dan pembaruan mandiri harus mudah
dipahami serta mudah diakses. Pemerintah daerah dan masyarakat juga tidak boleh
hanya menjadi pengguna data, tetapi bagian dari proses memastikan data tetap
hidup dan relevan.
Lebih jauh,
keberhasilan DTSEN jangan hanya diukur dari seberapa besar database yang
berhasil dibangun atau seberapa kecil kesalahan klasifikasi. Ukuran yang lebih
penting adalah apakah keluarga rentan benar-benar terlindungi, apakah anak-anak
mereka tetap dapat belajar, apakah akses kesehatan terjaga, dan apakah mereka
memiliki kesempatan untuk keluar dari kerentanan.
Sebab
pembangunan pada akhirnya bukan pembangunan angka. Angka kemiskinan boleh
turun, sistem data boleh semakin canggih, dan pemetaan kesejahteraan boleh
semakin presisi. Tetapi pertanyaan terpenting tetap sama: apakah kehidupan manusia benar-benar menjadi lebih baik?
Negara
membutuhkan data. Bahkan negara modern tidak mungkin bekerja tanpa data. Namun
semakin besar kekuasaan data dalam menentukan siapa yang memperoleh
perlindungan, semakin besar pula tanggung jawab negara untuk memastikan data
tidak berubah menjadi tembok antara warga dan haknya.
Angka mungkin benar menurut sistem, tetapi
belum tentu adil menurut kehidupan. Di balik setiap desil, ada manusia.
Penulis: Andi Samsul Alam, S.Pd., M.Pd, Dosen Pendidikan Sosiologi UNM