Fri, 29 Aug 2025
Esai / Siti Herliah / Aug 28, 2025

Gen-Z Katanya Generasi Haus Validasi, Masa Sih?

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap cara manusia berinteraksi. Generasi Z, yang lahir di era internet, media sosial, dan globalisasi, kerap mendapat label sebagai generasi yang “haus validasi”.

Mereka dinilai gemar mengunggah aktivitas sehari-hari, mencari pengakuan melalui jumlah “likes”, komentar, maupun pengikut. Pertanyaannya, apakah benar Gen-Z hanya sebatas generasi yang hidup dari validasi orang lain?

Fenomena haus validasi sebenarnya bukanlah hal baru. Sejak zaman dahulu, manusia selalu membutuhkan pengakuan dari lingkungannya. Namun, media sosial mempercepat sekaligus memperluas ruang validasi itu. Jika dulu validasi hanya sebatas lingkungan sekitar, kini pengakuan bisa datang dari ribuan bahkan jutaan orang asing di dunia maya.

Tidak heran jika sebagian orang menilai Gen-Z lebih rentan terhadap rasa cemas, rendah diri, bahkan depresi ketika tidak mendapat apresiasi yang diharapkan.

Namun, penting untuk disadari bahwa fenomena ini bukanlah “penyakit bawaan” 

Gen-Z. Validasi adalah kebutuhan fitrah manusia: ingin dihargai, diperhatikan, dan dicintai. Yang membedakan adalah bagaimana mereka mengelola kebutuhan tersebut.

Pandangan Islam: Validasi Tertinggi Hanya dari Allah

Islam memandang bahwa kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan tidak boleh diarahkan hanya kepada manusia. Allah ? berfirman:

“Barang siapa menghendaki kemuliaan (maka ketahuilah bahwa) kemuliaan itu semuanya milik Allah...” (QS. F??ir: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan dan pengakuan sejati hanya berasal dari Allah. Validasi manusia bersifat fana dan terbatas, sedangkan validasi Allah abadi dan bermakna. Dalam Islam, amal baik tidak diukur dari banyaknya pujian manusia, tetapi dari keikhlasan hati dan keridhaan Allah. Rasulullah ? juga memperingatkan bahaya riya’, yakni melakukan amal ibadah karena ingin dilihat manusia.

Gen-Z dalam Perspektif Kaffah

Mengamalkan Islam secara kaffah berarti menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam menyikapi fenomena sosial. Dalam konteks validasi, Islam mengajarkan:

  1. Menata Niat (Ikhlas): Apa pun yang dilakukan, baik belajar, bekerja, maupun bermedia sosial, harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar pujian.

  2. Menjaga Harga Diri: Islam mendorong umatnya untuk percaya diri tanpa harus selalu menunggu pengakuan orang lain. Rasulullah ? bersabda, “Janganlah kamu merendahkan dirimu.” (HR. Muslim).

  3. Menggunakan Media Sosial dengan Bijak: Alih-alih mencari validasi semu, Gen-Z dapat memanfaatkan media sosial untuk dakwah, berbagi ilmu, atau menebar kebaikan.

  4. Membangun Lingkungan yang Sehat: Lingkungan pertemanan yang Islami dapat membantu Gen-Z saling mengingatkan agar tidak terjebak dalam budaya pamer.

Label bahwa Gen-Z adalah generasi haus validasi memang ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya tepat. Mereka hanyalah generasi yang hidup di era serba digital, di mana kebutuhan fitrah manusia untuk dihargai diperkuat oleh teknologi. Islam memberikan solusi kaffah dengan mengajarkan bahwa validasi sejati hanya dari Allah, bukan dari manusia.

Jika Gen-Z mampu menata niat, memperkuat iman, dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, mereka justru dapat menjadi generasi yang produktif, visioner, dan berakhlak mulia.

 
 
Penulis: Siti Herliah Guru BK SMPN 1 Wonomulyo.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.