Mengapa Nostalgia Menyakitkan?
Seringkali terdengar ungkapan bahwa 2019 merupakan tahun
terbaik. Masa ketika hidup masih normal, masa ketika semua yang terjadi itu
spesial. Masa yang tidak hanya sekadar berlalu. Begitupun dengan tahun-tahun
sebelumnya, yakni 2018, 2017, dan seterusnya.
Terkadang nostalgia dapat membuat
kita teringat akan masa-masa indah yang pernah kita alami. Lebih sering
daripada tidak, ingatan mengenai masa lalu cenderung terasa lebih baik dan
nyaman daripada yang sebenarnya.
Nostalgia juga bisa menjadi pengingat bahwa
kita pernah menjalani hidup dengan sepenuh hati dan membuktikan bahwa kita
pernah mengalami sesuatu yang memiliki arti yang dalam bagi kita meskipun saat
ini hanya tinggal cerita.
Saya termasuk orang yang suka bernostalgia, pernah suatu
ketika saya mengingat kembali sekaligus merindukan masa saat saya masih seorang
siswa sekolah dasar. Rasanya masa itu sungguh menyenangkan, masa ketika tidak
ada beban dan yang diketahui hanya main dan makan.
Teringat pula ketika hari
Minggu pagi menonton acara televisi yang disiarkan. Doraemon, Keluarga
Somat, Upin dan Ipin, Pada Zaman Dahulu, dan berbagai acara televisi
lainnya menjadi tontonan wajib di hari Minggu pagi. Duduk anteng sembari
makan dan minum.
Selesai menonton televisi dilanjutkan dengan bermain bersama
teman-teman. Entah bermain sepakbola, petak umpet, gobak sodor, atau berbagai
permainan seru lainnya. Sungguh kenangan yang manis. Namun, seketika saya
menyadari bahwa hal itu sudah lama berlalu, tidak dapat saya ulang kembali, dan
hanya tinggal cerita.
Ketika memikirkan ini, saya merasa sedikit perasaan perih
timbul dalam dada, menggantikan perasaan yang manis dan hangat. Memang benar
bahwa itu menyakitkan karena saya tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi,
tetapi itu manis karena membuktikan bahwa saya pernah menjalani kehidupan yang
menyenangkan dan membahagiakan. Lalu, timbul pertanyaan mengapa nostalgia yang
manis dan hangat itu bisa menyakitkan?
Sebuah Perasaan Manis, tetapi Juga Perih
Nostalgia berasal dari kata notos yang berarti
kembali ke rumah dan algos yang berarti kerinduan yang apabila diartikan
secara utuh akan berarti kerinduan untuk kembali ke rumah. Sebuah pengertian
yang indah apabila dipahami dengan lebih mendalam.
Setiap orang tentu pernah
merasakan nostalgia. Dalam nostalgia, perasaan pada setiap orang terjadi
melalui fantasi alami dalam kepala mengenai ingatan masa lalu yang terasa
begitu indah yang membuat kita selalu tersenyum.
Salinas & Love (2025)
melalui artikelnya yang berjudul “Revisiting the Feels: Why Nostalgia Is Good
for the Soul” menjelaskan bahwa nostalgia merupakan emosi yang tercipta dari
pertemuan antara pengalaman dan memori.
Bagi masyarakat umum, perasaan
nostalgia muncul sebagai sebuah perasaan yang pahit manis (bittersweet)
atau yang memantik mereka untuk mengingat sesuatu yang kini telah hilang.
Nostalgia merupakan rasa kegembiraan yang berkaitan dengan kesedihan, tetapi
secara umum hadir sebagai emosi positif dalam kehidupan manusia.
Dalam diri seseorang yang melihat nostalgia sebagai
refleksi, ia tidak menempatkan dirinya di masa lalu. FioRito & Routledge (2020:
3) menjelaskan bahwa nostalgia dalam bentuk ini memungkinkan manusia untuk
mengakses kembali berbagai memori berkesan di masa lalunya dan digunakan untuk
membantu dirinya melangkah maju menuju masa depan.
Mereka yang melakukan
refleksi melalui memori-memori nostalgia disebutkan mempunyai optimisme yang
lebih tinggi, kesinambungan diri yang lebih kuat, dan rasa memiliki yang lebih
membumi. Penjelasan FioRito & Routledge seirama dengan yang dijelaskan oleh
Ramayda Akmal dalam esainya yang berjudul “Politik Nostalgia”.
Dalam esainya
dijelaskan bahwa nostalgia merupakan gejala kolektif yang tampaknya melulu
mengenai masa lalu, tetapi sebenarnya lebih terikat erat dengan masa kini dan
bahkan masa depan.
Apa yang saya rasakan tidak demikian. Alih-alih menggunakan
nostalgia untuk melihat kondisi saat ini dan masa depan sekaligus sebagai media
refleksi, saya berakhir terjebak dalam masa lalu. Ini membuat saya melihat
kehidupan masa lalu sebagai serba-manis, serba-positif, dan jauh lebih baik
apabila dibandingkan dengan kehidupan saat ini.
Artinya, saya hanya
mempertimbangkan memori-memori baik untuk tetap bertahan di dalam kehidupan
nostalgia yang semu, tetapi mengesampingkan memori-memori yang buruk sebagai refleksi
untuk kehidupan saat ini dan masa depan. Selain itu, nostalgia seringkali
dijadikan pelampiasan ketika kehidupan masa kini sedang terasa tidak baik-baik
saja.
Nostalgia menjadi obat untuk mengobati luka yang dimiliki, tetapi justru
luka itu semakin besar karena perasaan akan kerinduan untuk kembali ke
masa-masa tertentu tidak terwujud karena waktu sudah berlalu dan yang sudah
berlalu itu kini hanya tinggal cerita. Hingga pada akhirnya, saya terjebak
dalam perangkap yang bernama nostalgia.
Rasa perih yang disebabkan nostalgia muncul dari rasa
kehilangan akan waktu yang dirasa lebih baik dibandingkan dengan saat ini dan
kita tidak menyadarinya. Misalnya, saya merasa kehilangan ketika melihat
kembali buku anak-anak dan mainan ketika sedang membersihkan kamar.
Saya merasa
sedih mengingat bahwa bocah yang lugu dan pemalu itu kini sudah tumbuh dewasa.
Melalui contoh yang saya berikan kita dapat membayangkan bahwa ketika kita
menjalani hidup dari tahun ke tahun, kita tidak menyadari bahwa betapa cepatnya
waktu berlalu selama ini ketika kita terus tumbuh, dari anak-anak menjadi
dewasa hingga nanti akan menjadi lansia. Perasaan rindu untuk kembali menjadi
anak-anak itulah yang menyebabkan nostalgia terasa menyakitkan.
Saya atau mungkin para kaum nostalgia cenderung ingin hidup
kembali ke masa-masa terindah yang pernah dialami. Perasaan enggan untuk
menyadari bahwa masa-masa itu sudah berlalu muncul.
Seperti saya, saya enggan
rasanya untuk menyadari bahwa masa anak-anak saya sudah lama dan jauh berlalu,
justru keinginan untuk kembali itulah yang semakin kuat, kembali menjadi
seorang anak siswa sekolah dasar yang hanya tahu bermain, makan, dan tidur
saja.
Sebuah masa yang tidak ada beban dan tanggung jawab yang besar, sungguh
berbeda apabila dibandingkan dengan kehidupan masa sekarang yang penuh dengan
tanggungan tugas kuliah atau pekerjaan, atau bisa disebabkan oleh rumitnya
hubungan pertemanan dan percintaan, ingin kembali ke masa lalu mungkin adalah
solusinya.
Ketika berkumpul dan bertukar cerita dengan teman-teman yang lain,
menyadarkan saya betapa singkatnya masa-masa itu berlalu. Kisah yang penuh akan
canda dan tawa itu kini hanya tinggal cerita saja.
Melalui cerita-cerita itu
juga keinginan untuk kembali ke masa-masa tertentu yang dirasa bahagia juga
muncul dengan semakin menggebu-gebu. Akan tetapi, untuk kembali lagi ke masa
itu adalah sesuatu yang mustahil dan hanya akan selalu menjadi angan-angan.
Artinya, yang menyebabkan mengapa nostalgia itu menyakitkan
adalah kita merasa kehilangan waktu yang dirasa lebih baik dan perasaan bahwa
keadaan masa lalu dirasa lebih baik dibandingkan dengan keadaan masa kini.
Padahal, nostalgia hanya menampilkan yang serba-manis dan yang mungkin kita
tidak sadari, jika menengok ke diri sendiri, kita mungkin pernah, atau saat ini
masih melihat masa lalu dalam ruang nostalgia yang serba-manis.
Perlu diingat
bahwa orang yang bernostalgia cenderung mengingat masa lalunya yang manis saja
tanpa menyadari bahwa terdapat kisah getir dan pahit, yang karena pengaruh
romantis, membuatnya sirna. Nostalgia adalah sesuatu yang kuat hingga
orang-orang kehilangan kemampuannya untuk hidup di masa kini karena mereka lupa
bahwa masa itu sudah berlalu dan tidak bisa dikembalikan lagi.
Kita terjebak di
masa lalu dan mengidealkan masa lalu seakan-akan itu adalah masa yang sempurna
dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menikmati atau membangun masa depan.
Waktu Terus Berlalu
Pada akhirnya, nostalgia hanyalah sekelebat ingatan atas
sebuah masa yang sudah berlalu. Ingatan yang membawa perasaan manis dan hangat,
tetapi juga membawa sesuatu yang perih.
Perasaan manis dan hangat yang penuh
kenangan bahagia juga berkaitan erat dengan kesedihan, sesuatu yang perih.
Nostalgia bisa menyakitkan karena kita merasa telah kehilangan waktu yang
menurut kita lebih baik dan kita merasa masa lalu yang telah terjadi dan hanya
tinggal cerita itu adalah masa yang lebih baik dibandingkan masa kini.
Di sisi
yang lain, nostalgia juga bisa dijadikan sebagai momen untuk lebih
mengapresiasi diri. Misal, untuk mengingat sudah seberapa jauh kita telah
melangkah, berapa banyak pilihan yang telah kita ambil, dan berapa kali kita
berhasil dan gagal. Dapat dikatakan bahwa itu adalah cara untuk mengatasi
nostalgia yang menyakitkan.
Hal menarik mengenai nostalgia adalah ia serupa pedang
bermata dua. Meskipun ingatan yang muncul di dalam kepala kita sebagian besar
adalah ingatan yang positif, tetapi lama-kelamaan ingatan negatif juga akan
ikut muncul.
Memang seperti itulah nostalgia, ingatan yang serba-manis,
serba-membahagiakan, dan serba-menyenangkan yang dimunculkan dapat membuat
seseorang yang bernostalgia terlena hingga rela membuang waktunya hanya untuk
merenung—mengingat sesuatu yang telah lama berlalu, sedangkan untuk ingatan yang
negatif, meskipun jarang dimunculkan, tetapi sekecil apapun itu dapat langsung
mengaburkan lamunan nostalgia seseorang.
Ingatlah bahwa kehidupan tidaklah
berhenti hanya karena sesuatunya telah berubah. Hidup bukan hanya mengenai masa
lalu, tetapi mengenai perjalanan menuju ke masa depan. Dunia terus menerus
berubah dan akan selalu berubah.
Namun, tak dipungkiri nostalgia memanglah sesuatu yang indah
dan bukanlah sesuatu yang buruk. Akan tetapi, kenyataan adalah kenyataan, kita
tidak bisa hidup selamanya di dalam masa lalu karena masa depan selalu menunggu
dan yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghargai masa lalu sembari
tetap maju ke depan.
Waktu terus berlalu dan kita pun juga begitu. Orang-orang
yang suka bernostalgia bukanlah orang gagal. Anggapan ini muncul karena melihat
bahwa orang-orang yang suka bernostalgia tidak bisa lepas dari masa lalu dan
tidak mampu untuk berpandangan maju menuju ke depan.
Padahal, seiring dengan
waktu yang terus berlalu, nostalgia dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi
untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat diri menjadi lebih kuat.
Gunakan nostalgia untuk menambah sikap optimisme dalam hidup dan gunakan untuk
terus melangkah menuju ke masa depan.
Mari bernostalgia bukan untuk hidup
kembali ke masanya, tetapi sebagai pengingat apa hal sederhana yang dapat
membuat kita menjalani hidup dengan bahagia.
Penulis: Rilo Ramadhanu Purnomo, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada yang sekarang sedang berdomisili di DIY sembari menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.