feature-top

Memori

Berjalan tuk menuju kehampaan..
Berlari mendekap angan..
Menjemput pelita kekosongan..
Lalu menangis di ujung cerita..

Bagaimana mungkin kebimbangan beralur hingga banyak episode?
Bagaimana mungkin cerita yang di idamkan happy ending berakhir tragis menenggelamkan tawa..

Teruntuk cita, cinta dan cerita..
Aku tahu, kau yang paling setia dalam menghiasi hari..
Aku paham, kau selalu melekat di setiap langkah..
Dan aku mengerti betapa berharganya kau bagi memori yang mulai kusam..

Tapi aku mohon..
Jangan biarkan memori  hanya merekam sepi..
Andai saja sepi bisa seindah rindu yang berujung..
Mungkin, tak segelisah ini yang dirasakan hati..

Dan setelah memori ini kukeluhkan, datanglah kembali bersama tawa, bahagia, dan harapan..
Tuk menemani cita, cinta dan cerita dalam menghiasi memori yang mulai menua..

*

Dunia

Beralih dari pelarian duniawi yang menjelma bagai surga..
Merangkak keluar  dari terkaman manusia-manusia  yang berlumur kebohongan..
Berjanji tuk tak bersekutu dengan dunia yang hampanya terkadang merampas jiwa..
Begitulah naluri berbincang dengan hati.

Namun, apalah daya manusia munafik yang satu ini…
Hari ini mengharap surga, keesokannya berjalan menu ju neraka..
Lalu, bergbagai alasan menjadi senjata ampuh tuk mengelak kesalahan
Yaa, itulah keseharian sang munafik berkedok lumrah…

Andai saja dunia mampu menjelaskan..
Mengapa ia Nampak indah dan menyenangkan  bagi manusia-manusia tak tau malu..
Atau adakah manusia yang mampu menjelaskan..
Mengapa dunia  selalu menjadi alasan seseorang tuk berbuat kesalahan…

Arghhh sudahlah..
Biarkan dunia menunjukkan aksinya dalam menggoda..
Satu pesan-Nya ingat tujuan mu dihadirkan di Dunia.

*

Aku Bisa

Aku bisa adalah kata yang selalu menyapa hariku,
Dikala malam yang di renggut oleh rasa ragu yang mencekam,
Ditambah dinginnya cemohan diri sendiri
yang terkadang tidak percaya dengan kemampuan..

Aku bisa, telah menjadi senjata ampuh bagi diri
yang dihampiri duka sepeninggalan kenyataan,
yang menyayat-nyayat batin..

Aku bisa akan selalu setia menghampiri  fikiran
ketika hati sudah tak mampu menahan beban
dari panasnya pandangan manusia
yang merajuk meneriakkan kegagalan..

Penulis: Nurleni (Mahasiswa Universitas Negeri Makassar dan anggota UKM MAPHAN UNM)