Fri, 29 Aug 2025
Puisi / Ahmad Masyhur / Aug 24, 2025

Kediaman Para Wali

Kediaman Para Wali

 

Pada rindang pohon 

dan teduh  langit di pagi hari 

gerombolan pengais berkah 

memenuhi gang

yang berlantaikan batu-bata 

berpagar tembok dan kembang sepatu.

Dari bising ketidakpastian 

seketika hening 

ditelan lantunan ayat-ayat kudus 

serta bait-bait zikir 

yang terlempar dari mulut para budak Tuhan. 

Sementara para kekasih 

sedang hanyut dalam cengkrama 

bersama Sang Khalik 

dilukisnya nama-nama 

para penjelajah yang haus dan lapar akan rahmat.

 

Yogyakarta, 05 Maret 2022

 
*
 

Penjual Koran


Kasihan dia bapak tua

Di bawah teduh duduk menggenggam

Lalu-lalang tidak lagi kaki

Yang satu pergi

Yang lain tak kembali      

 

Yogyakarta, 18 Mei 2020      

 

*

 

Menara Kudus


Pada pagi yang mulai mengedipkan mata

ditemani jaket kusam

aku menelusuri tiap tapak jalan 

pada bukit-bukit tak bertuan 

telah aku rangkai artepak pengingat.

Hampir saja 

dua roda itu tersesat dalam takdir 

namun masih selamat 

dalam bingkai keramat doa. 

Tiba-tiba sejenak aku terhenti 

di bawah pohon yang sedang menaburkan daun 

dan ranting-ranting tua. 

Dan untuk yang kesekian kali 

kerumunan debu 

yang terombang ambing angin jalanan 

mencoba menyapa dan berbisik dalam diam. 

 

Yogyakarta, 1-3 Maret 2022

 
*
 

Kembali Pada-Nya


Pada hening malam 

yang berselimut kabut 

dari puncak kegelisahan yang menderu 

dalam batin dan pikir yang gersang 

aku susun huruf-huruf 

pada lidahku 

yang telah kaku 

melafalkan mukjizat agung. 

Tubuhku kram serasa membeku 

diterkam tumpukan salju kehampaan. 

Dalam lubuk hati 

ada rasa syukur 

sebab masih ada bias cahaya ingat 

akan keberadaan Engkau Yang Kekal. 

Betapapun bejatnya anak Adam, 

Ia tak pernah letih 

menaburkan ampunan serta kasih sayang 

di punggung bumi 

yang telah hampir 

memudarkan fikir dan hati 

para pengembara yang tersesat.

 

Yogyakarta, 10 Maret 2022.

 
*

Hidup 


Aku tidak tahu lagi 

harus merangkai apa 

dalam keheningan hari, 

mungkin aku harus bertanya 

pada pembawa firman 

atau pada sunyi malam 

yang tak bersahabat dengan merpati putih 

di puncak pohon gharqad. 

Tidak ada yang lebih tahu 

dari Yang Maha Tahu 

tentang setiap lukisan yang tergores 

pada tembok dan dinding ketidakabadian

Hidup ini, 

aku temui seperti tepung gandum 

yang diterkam warna gula jawa.

Ia ada, namun menghilang dalam warna,

dan entah kemana.

 

Yogyakarta, 21 Maret 2022.

 
*

Syaban


Serupa tangga yang berbaris rapi 

menuju Pasarean Imogiri. 

Yang tinggi nan agung 

butuh ketangkasan dalam diri. 

Mengarungi pasir tandus 

penuh liku penuh rintang. 

Syaban menjelma jalan panjang 

dengan segala bimbang 

yang mesti dibuang 

pada comberan masa lalu yang kian membayang. 

 

Yogyakarta, 22 Maret 2022.

 

 
Penulis: Ahmad Masyhurlahir di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Peminat kajian Sastra Puisi. Alumnus program S-1 Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Darul Ulum As-Syar'iyyah Hudaydah, Yaman (2011-2015) dan program S-2 Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2018-2021). Kumpulan puisinya termaktub dalam antologi puisi Di Kelopak Mata Altar (2020). Beberapa puisinya juga telah dimuat pada media massa. Kini, sedang menyulam harap di negeri perantauan Riyadh, Arab Saudi.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.