Penjual Koran
Kasihan dia bapak tua
Di bawah teduh duduk menggenggam
Lalu-lalang tidak lagi kaki
Yang satu pergi
Yang lain tak kembali
Yogyakarta, 18 Mei 2020
*
Menara Kudus
Pada pagi yang mulai mengedipkan mata
ditemani jaket kusam
aku menelusuri tiap tapak jalan
pada bukit-bukit tak bertuan
telah aku rangkai artepak pengingat.
Hampir saja
dua roda itu tersesat dalam takdir
namun masih selamat
dalam bingkai keramat doa.
Tiba-tiba sejenak aku terhenti
di bawah pohon yang sedang menaburkan daun
dan ranting-ranting tua.
Dan untuk yang kesekian kali
kerumunan debu
yang terombang ambing angin jalanan
mencoba menyapa dan berbisik dalam diam.
Yogyakarta, 1-3 Maret 2022
*
Kembali Pada-Nya
Pada hening malam
yang berselimut kabut
dari puncak kegelisahan yang menderu
dalam batin dan pikir yang gersang
aku susun huruf-huruf
pada lidahku
yang telah kaku
melafalkan mukjizat agung.
Tubuhku kram serasa membeku
diterkam tumpukan salju kehampaan.
Dalam lubuk hati
ada rasa syukur
sebab masih ada bias cahaya ingat
akan keberadaan Engkau Yang Kekal.
Betapapun bejatnya anak Adam,
Ia tak pernah letih
menaburkan ampunan serta kasih sayang
di punggung bumi
yang telah hampir
memudarkan fikir dan hati
para pengembara yang tersesat.
Yogyakarta, 10 Maret 2022.
*
Hidup
Aku tidak tahu lagi
harus merangkai apa
dalam keheningan hari,
mungkin aku harus bertanya
pada pembawa firman
atau pada sunyi malam
yang tak bersahabat dengan merpati putih
di puncak pohon gharqad.
Tidak ada yang lebih tahu
dari Yang Maha Tahu
tentang setiap lukisan yang tergores
pada tembok dan dinding ketidakabadian.
Hidup ini,
aku temui seperti tepung gandum
yang diterkam warna gula jawa.
Ia ada, namun menghilang dalam warna,
dan entah kemana.
Yogyakarta, 21 Maret 2022.
*
Syaban
Serupa tangga yang berbaris rapi
menuju Pasarean Imogiri.
Yang tinggi nan agung
butuh ketangkasan dalam diri.
Mengarungi pasir tandus
penuh liku penuh rintang.
Syaban menjelma jalan panjang
dengan segala bimbang
yang mesti dibuang
pada comberan masa lalu yang kian membayang.
Yogyakarta, 22 Maret 2022.
Penulis: Ahmad Masyhur, lahir di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Peminat kajian Sastra Puisi. Alumnus program S-1 Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Darul Ulum As-Syar'iyyah Hudaydah, Yaman (2011-2015) dan program S-2 Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2018-2021). Kumpulan puisinya termaktub dalam antologi puisi Di Kelopak Mata Altar (2020). Beberapa puisinya juga telah dimuat pada media massa. Kini, sedang menyulam harap di negeri perantauan Riyadh, Arab Saudi.