Wed, 24 Jul 2024
Ceritakanaja / Nov 26, 2021

Coffee Shop dan Ruang Dialektika Milenial

Budaya ngopi bukanlah hal baru yang kita temui saat ini, budaya ngopi menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sejak lama, dari kalangan orang tua sampai muda-mudi. Seiring berkembangnya zaman ngopi di coffee shop menjadi tren ala anak muda kekinian.

Menjamurnya coffee shop di Indonesia merupakan suatu pemandangan  umum yang kita temui sehari-hari. Saat ini, misalnya, beragam konsep dengan iringan musik, terjangkaunya harga, hingga sajian menu dengan nuansa tradisional sampai modern seakan menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi anak muda.

Perlu kita ketahui Coffee Shop dalam pengertiannya yakni sebuah tempat yang menyediakan makanan dan minum utamanya kopi sebagai menu utama dalam penjualan. Budaya ngopi yang saat ini mulai terjadi pergeseran dikarenakan perubahan pola hidup.

Adanya pergeseran budaya ngopi dapat kita lihat saat sekarang ini dimana  dahulu orang datang ke kedai kopi (Coffee Shop) hanya untuk menikmati kopi hitam pekat, sekarang tujuan orang ngopi hanya untuk nongkrong serta menikmati fasilitas yang disediakan dalam coffee shop tersebut.

Dampak yang ditimbulkan daripada coffee shop tidak terlepas dari pengaruh budaya pop seperti halnya film beradegan dengan latar Kafe. Coffee shop sudah menjadi gaya hidup serta identitasyang melekat pada kalangan remaja seperti yang diketahui kenapa lebih memilih untuk ngopi di coffee shop daripada di warung kopi tradisional.

Coffee shop digemari bagi para remaja utamanya mahasiswa yang ingin mendapatkan internet gratis dan duduk berjam jam baik untuk mengerjakan tugas maupun hal lainnya. Suasana dan  konsep Aesthetic yang ditawarkan dari coffee shop menjadi penarik  mengapa coffee shop banyak dikunjungi oleh para remaja dan juga mahasiswa.

Dengan begitu banyaknya kenyamanan yang ditawarkan oleh coffee shop semakin membuat orang termotivasi untuk berkunjung dan menghabiskan waktu di coffee shop. Hal tersebut dapat membuat kegiatan minum kopi menjadi sebuah gaya hidup yang baru. Remaja tidak lagi mengunjungi coffee shop hanya untuk secangkir kopi tetapi untuk menaikan gengsi dan juga status serta eksistensi mereka 

Dewasa ini dengan hadirnya coffee shop yang cukup pesat menjadikan para pemilik usaha berlomba dalam menaikan eksistensi dari usaha yang dijalankan, bahwa tempat mereka bukan hanya menjadi tempat minum kopi saja melainkan juga tempat berdiskusi serta berbincang-bincang tentang kondisi di tengah masyarakat. Tak banyak namun beberapa coffee shop juga menyediakan rak-rak buku yang dapat dibaca oleh para pelanggan yang ada.

Coffee Shop selalu dijadikan tempat pelaksanaan kegiatan atau acara yang diadakan oleh mahasiswa atau instansi pemerintah, seperti halnya bazar,diskusi yang sifatnya formal. Setiap coffee shop memiliki ciri khas tersendiri terhadap pelanggan yang notabene mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh instansi kampus maupun pemerintah bisa jadi coffee shop menjadi salah satu sarana pendidikan  yang mampu memperluas wawasan dan nalar kritis anak muda dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

Melihat kondisi dan memanfaatkan wadah yang ada Coffee Shop bisa juga dikatakan sebagai ruang dialektika dan penunjukan eksistensi disetiap kalangan terkhusus untuk anak muda milenial hari ini.

 

Penulis: Muh. Nur Fajri Ramadhana, pemuda dari Makassar yang saat ini bekerja sebegai freelance.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.