Fri, 29 Aug 2025

Ketabahan Anto

Anto termangu dan hanya mampu meratap sepanjang malam itu. Ia terus memikirkan mengapa ia bisa dipecat dari pekerjaannya. Padahal, Anto merasa tak pernah melakukan satupun kesalahan yang bisa membuat bosnya marah. Anto adalah potret pekerja yang patuh dan jujur. 

“Ya Allah Gusti Pangeran ... Salah apa diriku ini? Sehingga pak Bos memecatku?” batin Anto sambil menyalakan sigaret kreteknya yang hanya tersisa satu batang. “Alasan pak Bos memecatku sungguh sangat tak masuk di akal. Aku tak pernah merasa melakukan kesalahan yang demikian dimaksud pak Bos”.

Jadi, satu hari sebelum malam itu, sepulang dari tempat kerjanya, Anto dikirimi pesan oleh pak Bosnya. Anto dipecat. Alasannya ada dua. Pertama, karena Anto ketahuan mencuri uang dari kantor. Kedua, karena Anto tak mencatat pemasukan kantor hari itu yang membuat kantor merasa uang penghasilan tidak sesuai dengan catatan pemasukan; merugi. Anto dilema. 

Betapa tidak? Bayangkan, Anto sedang butuh uang untuk menghidupi kedua orang tuanya. Ayahnya seorang tukang becak yang saban hari mengayuh peluh dan berpenghasilan tak menentu.

Sedangkan ibunya belum mendapat bayaran dari pekerjaannya. Adiknya harus bayar tagihan sekolah. Sementara waktu itu, perekonomian keluarga sedang carut marut. Belum lagi soal hutang kedua orang tuanya. 

Dilema itu semakin membesar bentuknya ketika Anto dihantam dengan kenyataan di tempat kerjanya. Pak Bosnya, menyuruh Anto untuk mengganti rugi uang yang sempat Anto curi dan juga mengganti rugi uang yang tak sempat Anto catat ke dalam catatan pemasukan kantor. Anto disuruh membayar ganti rugi sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Waktu itu, Anto benar-benar tak kuasa menghadapi dilema itu. Mau bagaimanapun, Anto sama sekali tak pernah merasa mencuri uang kantor apa lagi kelupaan tak mencatat pemasukan kantor pada hari itu. Anto tak tahu harus apa. Di tengah kebuntuan, Anto tiba-tiba tercerahkan selepas menyesap secangkir kopi hitam yang pahitnya tiada tara.

“Oh iya. Aku kan punya burung Jalak yang kicaunya merdu. Apa aku jual saja ya? Ah tapi burung Jalak itu sudah seperti anakku sendiri. Ia sudah aku rawat sedari kecil,” batin Anto. Rupanya Anto masih bimbang. Namun, keadaan memaksanya. Anto tak bisa menghindari yang namanya cobaan Tuhan. Jadi, Anto putuskan untuk menjual burung Jalak kesayangannya itu. 

Sungguh betapa kasihannya Anto. Ia tak pernah merasa mencuri dan tak pernah lupa mencatat pemasukan kantor, tetapi kini ia diperhadapkan dengan derita yang tak pantas ia dapatkan. Setelah menjual burung Jalak kesayangannya, Anto pun membayar uang ganti rugi kantornya.

*

Sudah lewat satu Minggu setelah Anto dipecat. Terdengar kabar dari mantan rekan kerja di kantornya yang baik hati. Namanya Dolop. Kata Dolop, Anto sudah dijebak oleh pekerja baru di hari itu, hari di mana Anto terakhir kali bekerja. 

“Ah yang benar kamu, Lop? Kamu jangan memfitnah orang sedemikian parah. Aku masih tak percaya kalau Darudin menjebakku,” kata Anto yang masih belum percaya dengan kabar yang baru saja didengarnya dari Dolop.

“Aku serius, To. Kamu dijebak. Jadi, si Darudin itu yang sebetulnya nyolong uang kantor. Bukan kamu. Dan soal catatan pemasukan kantor. Itu juga Darudin yang kelupaan. Bukan kamu!” sahut Dolop dengan berapi-api. 

“Kamu jangan seenaknya fitnah orang, Lop. Itu dos–,” belum sempat menyelesaikan ucapannya, kata-kata Anto langsung dipotong Dolop.

“Heh kamu tak percaya? Aku yang melihatnya sendiri hari itu, To. Demi Allah. Aku waktu itu kan lagi main ke tempat kerja. Kamu sendiri ingat bukan? Terus kamu meminta izin pada pak Bos buat pergi sebentar menjemput adikmu dan pak Bos juga kebetulan pergi di waktu yang sama. Saat itulah Darudin memulai aksinya,” ujar Dolop sambil sejenak berhenti untuk menyalakan sigaret kreteknya. “Darudin tampak percaya diri sebab ia tak tahu kalau aku juga seorang pekerja di situ yang sedang sekadar main ke kantor”.

“Astagfirullah. Kalau omonganmu benar, Lop, maka mengapa persoalan catatan pemasukan kantor bisa mengarah padaku?”

“Ah itu. Kamu tahu kan aku waktu itu pulang sama kamu, To? Jadi, Darudin, selepas kita pulang, ia juga ikut bergegas pulang tanpa mencatat. Entahlah, dia sebetulnya tahu atau tidak sih aturan kantor? Yang pasti, dua persoalan yang mengarah ke dirimu, itu bukan persoalanmu, To! Kamu harus menuntut keadilan supaya namamu bisa bersih kembali dan uang ganti rugi yang sudah kamu bayar bisa dikembalikan oleh kantor,” jawab Dolop.

“Ah kamu memang benar, Lop. Sudah seharusnya aku menuntut keadilan supaya namaku bisa bersih kembali. Tapi sayangnya, aku tak akan berlaku demikian”.

“Lah mengapa begitu, Anto? Kamu sudah gila? Kamu loh dijebak. Mengapa diam?” tanya Dolop sambil kebingungan melihat mantan rekan kerjanya. Mata Dolop terekam jelas seperti sedang menatap manusia yang perlu dikasihani.

“Aku tak peduli dengan namaku, Lop. Aku rasa, Darudin juga punya alasan mengapa ia sampai berani bertindak demikian. Jadi biarlah”. 

“Jujur aku tak tahu ada apa dengan kamu, To. Kamu dijebak sampai harus menghadapi persoalan getir semacam itu, tapi kamu tetap saja bisa tabah sedemikian ‘parah’; nrimo ing pandum,” ujar Dolop yang lelah menasihati Anto.

Begitulah Anto. Ia hanya mampu pasrah dan menerima kenyataan. Baginya, semua itu sekadar cobaan yang sedang dikirim Tuhan kepada dirinya. Anto percaya, Tuhan tak pernah memberi cobaan yang tak bisa dihadapi oleh hamba-Nya yang penuh dengan kelemahan.

*

Setelah kejadian malang itu, Anto tak bersedih terlalu lama. Anto bisa menerima dengan lapang dada dan mempercayakan semua cobaan pasti ada jalan keluarnya. Jadi, pada saat setelah pulangnya Dolop, Anto bergegas menyiapkan berkas lamaran kerja. Ia tekun menulis dan mengetik. Semalam suntuk, surat lamaran kerja fisik dan nonfisik dibuatnya. 

Anto tidak melanjutkan tidur setelah membuat surat lamaran kerja. Sebab esok harinya, Anto bergegas pergi untuk menaruh surat lamaran kerja fisiknya di banyak perusahaan dan juga tak lupa mengirim surat lamaran kerja non fisiknya lewat meminta temannya untuk mengirim email.

Selama menganggur, Anto hanya duduk manis di rumah sambil berharap mendapatkan panggilan kerja dari beberapa perusahaan untuk interview. Namun sialnya, rupanya Anto harus menganggur sampai berbulan-bulan. Itu artinya, dari sekian banyak surat lamaran kerja yang dikirimnya tak pernah mendapatkan satu panggilan pun untuk sekadar interviu.

Anto tak tahu harus melakukan apa lagi untuk mendapatkan uang; untuk menghadapi tekanan ekonomi keluarganya yang begitu sukar dan tak kunjung menemukan syukur. Sekali lagi, Anto mengalami dilema yang begitu getir.

Tak mau terus menerus bercucuran peluh di sekujur badan karena sebuah harap yang dinanti tak kunjung membuahkan hasil manis, Anto kemudian mencoba mengabari temannya. Nama temannya adalah Cidul.

Anto berharap Cidul bisa memberi sedikit nasihat pada dirinya soal urusan pekerjaan. Cidul adalah salah satu teman Anto yang bisa dibilang menempuh jalan hidup yang berbeda. 

Kalau Anto berusaha menghidupi diri dan mengangkat derajat keluarganya melalui cara bekerja, Cidul justru berusaha memberdayakan pikiran diri dan mengangkat derajat keluarganya melalui cara berkuliah. Dua anak manusia yang menempuh jalan hidup berbeda, tetapi hidup berdampingan layaknya saudara kandung.

Anto dan Cidul kemudian bersepakat untuk bertemu di warung kopi depan rumah sakit, tempat di mana mereka biasa berkumpul sampai larut malam pada masa-masa masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. 

“Dul, aku sedang bingung. Mengapa susah ya buat masuk ke perusahaan? Toh kata pak Wapres, sebanyak 19 juta lapangan pekerjaan terbuka lebar. Namun, mengapa aku kesulitan?”

“Nah, bukankah kamu sendiri tahu, To?” Cidul justru melempar balik pertanyaan Anto sambil meringis; seolah ada harap yang terpatri.

Anto menatap Cidul sebentar. Kemudian Anto memalingkan wajahnya, kepalanya menengadah ke langit; merenung sejenak. Selepas merenung, Anto lalu menyalakan sigaret kreteknya dan segera mengadukan bibirnya ke bibir secangkir kopi hitam yang panasnya masih mengepul di udara bersama kepulan asap rokok.

“Ah entahlah, Dul. Kamu tak perlu mengajakku berpikir yang tinggi-tinggi. Yang aku tahu sekarang, aku kesulitan mendapat pekerjaan!”

Senyum Cidul perlahan menipis. Cidul tak lagi meringis. Hanya dengan menatap wajah Anto, secara tak langsung, Cidul sadar kalau Anto sudah mengalami betapa banyak kemalangan semenjak lulus sekolah satu tahun yang lalu. Suasana malam itu menjadi hening seketika. Hanya terdengar langkah lalu lalang petugas rumah sakit yang sedang istirahat.

“Begini, Dul,” Anto memecah keheningan. “Coba kamu pikir. Aku baru lulus satu tahun yang lalu. Pengalaman kerjaku tak banyak. Sementara banyak perusahaan mematok kriteria lowongan pekerjaan dengan pengalaman satu atau tiga tahun bekerja bagi mereka yang baru lulus sekolah tahun ini dan tahun lalu. Nah, masalahnya, adakah kriteria itu bisa dinalar?”

Cidul termenung. Wajahnya tampak kebingungan. Cidul sebenarnya bukan bingung mau menjawab apa. Namun Cidul sedang berusaha merangkai kalimat agar mudah dipahami.

Cidul tahu permasalahan ini, tetapi karena pengalaman berpikirnya sewaktu di kampus telah membangun semacam tembok pemisah, jadi Cidul berusaha keras buat menghancurkan tembok pemisah itu. Tembok yang telah memisahkan antara si manusia berpendidikan tinggi dengan manusia yang tak berpendidikan tinggi. Sebentuk tembok pemisah yang dibenci Cidul, tetapi tak bisa ditentang.

“Anto. Di dunia yang menyedihkan seperti sekarang ini. Satu-satunya cara untuk hidup adalah mengikuti arus. Aku tahu, To. Kamu bukan orang yang suka mengikuti arus. Aku tahu, kamu orangnya tabah. Tetapi, kalau kamu sedemikian tabah menghadapi dunia ini, kamu tak bisa hidup. Sekarang, satu-satunya cara untuk bisa dapat pekerjaan adalah dengan memakai orang dalam, tentu kamu tahu bukan?”

“Kamu ini bagaimana, Dul? Kamu ini mahasiswa loh, kok bisa-bisanya menyuruhku untuk menjadi  orang munafik seperti itu? Dulu bukankah kamu pernah bilang kalau kamu membenci kemunafikan? Ya aku sudah biasa menghadapi kegetiran semacam ini dengan tabah, Dul. Namun, aku tak akan berlaku munafik. Aku percaya setiap cobaan yang dikirim Tuhan pasti selalu bisa dihadapi oleh hamba-Nya. Karena Tuhan tak pernah memberi cobaan yang lebih besar dari kemampuan hamba-Nya”.

“Ah kamu ini, To. Masa-masa getir begini masih bisa bilang begitu. Aku cuma kasih saran, To. Karena itu satu-satunya jalan supaya kamu bisa tetap hidup. Aku tak ingin melihatmu susah. Bukan karena rasa iba, tapi karena kamu itu temanku, To. Nanti aku coba bantu mencarikan lowongan pekerjaan yang kriterianya masih bisa dinalar. Tak usah khawatir, tenang saja. Tapi, tetap, To. Pikirkan saranku baik-baik,” ujar Cidul sambil menyesap kopi hitamnya yang ternyata hanya tinggal tersisa ampasnya saja.

Selepas melepas kangen karena berbulan-bulan tak pernah bertemu. Mereka berdua kembali mengobrolkan hal-hal yang remeh, sama seperti dua tahun yang lalu, semasa mereka masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Perbincangan kedua teman itu harus  berakhir ketika sang rembulan menggeliat tepat di atas kepala. 

*

Ketabahan Anto memang setebal berlian. Tetapi, mungkin karena itulah sampai hari ini Anto tak bisa mendapat pekerjaan. Padahal kemarin, saudaranya yang bernama si Dadang, menawarkan pekerjaan kepada Anto.

Tetapi karena syaratnya Anto harus membayar sebesar dua juta rupiah untuk dapat masuk dan langsung diangkat sebagai pekerja tetap, Anto menolak tegas. Selain tak mempunyai uang sebegitu besarnya, Anto juga masih memegang prinsip dan kejujurannya. 

Persyaratan semacam itu memang sering ditemui di perusahaan-perusahaan besar. Anto tahu itu dan ia sadar betul betapa ada kecurangan terselubung dalam persyaratan semacam itu. Makanya, Anto menolak.

“Kamu ini bagaimana, To? Pekerjaan sekarang ya begitu adanya. Kalau kamu enggak bayar dulu ya kamu enggak bakal bisa dapat kerja dan jadi pekerja tetap. Wajar kok,” ujar Dadang yang kehabisan kesabaran karena Anto menolak.

“Bukan begitu, Dang. Lagi pula, memang ada aturan semacam itu? Tujuanku cari kerja ya buat cari uang, bukan bayar dana sebegitu besarnya baru diterima kerja”.

“Loh. Kamu goblok ya, To. Begini, kalau kamu sudah bayar dua juta rupiah dan kamu sudah diangkat jadi pekerja tetap, kamu bisa balik modal. Logikanya begitu, To,” tegur Dadang.

“Terserah kamu, Dang. Yang penting, aku tak pernah setuju dengan aturan semacam itu. Lapangan pekerjaan kok malah menyusahkan? Memang orang-orang sama sepertimu yang bisa membayar uang sebegitu besarnya lalu berpikir akan balik modal suatu hari nanti? Cari uang buat makan esok hari saja susah, Dang. Ini malah disuruh bayar dua juta rupiah. Nanti aku sama keluargaku mau makan apa?”

“Ah kamu, To. Dibilangin susah. Oke-oke terserah kamulah. Kalau begitu nikmati saja masa menganggurmu,” dengus Dadang sambil melangkah pergi.

Bagi orang-orang mungkin saja akan bersepakat kalau Anto itu bodoh karena menolak tawaran kerja dari perusahaan yang disampaikan oleh si Dadang. Namun bagi Anto, berpikir waras semacam itu di tengah rentetan cobaan adalah bukti seorang hamba-Nya yang tegar menikmati segala macam pemberian Tuhan tanpa keluh dan kesah. Tetap percaya bahwa setiap cobaan pasti ada jalan keluarnya.

Dua tahun sudah Anto menganggur. Surat lamaran kerja yang dikirimkannya ke banyak perusahaan masih belum bisa membuahkan hasil manis. Selain karena kriteria lowongan kerja yang begitu tak bisa dinalar, Anto juga kalah saing dengan angkatan-angkatan kerja yang baru.

Anehnya, segenap ketabahan Anto masih mengepul tak juga menipis. Di tengah kepelikan hidupnya, Anto berserah untuk keseratus kalinya kepada Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Penyayang.

 
 
Penulis: Abdullah Azzam Al Mujahid, keseharian saya menulis. Terkadang menulis esai, cerpen cacat, dan puisi yang tak pernah publish. Sementara itu, karya esai dan opini saya sudah pernah dimuat di pelbagai media daring.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.