Sun, 05 Apr 2026
Esai / Asmar / Apr 05, 2026

Dari Furap menuju Flourishing Relationship

Seminggu terakhir, saya menemukan tiga berita yang tampaknya berbeda, tetapi sebenarnya memiliki benang merah yang sama. Pertama, “furap” (Fuji dan Arap) yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Kedua, seorang teman SMA yang sering saya kunjungi saat pulang kampung akhirnya menemukan “pelabuhan terakhirnya” dengan melangsungkan pernikahan.

Ketiga, unggahan Clara Shinta yang membagikan dinamika rumah tangganya. Ketiganya berbicara tentang hubungan mulai dari yang masih sebatas gosip, berlanjut menuju komitmen, hingga realitas kehidupan dalam pernikahan. Lalu, muncul pertanyaan di benak saya bagaimana psikologi positif memandang sebuah hubungan?

Dalam psikologi positif, ternyata ada istilah flourishing relationship, yaitu hubungan interpersonal baik dalam konteks pertemanan, romantis, maupun keluarga di mana individu tidak hanya merasakan kepuasan atau kestabilan, tetapi juga mengalami pertumbuhan bersama, dukungan timbal balik, dan kontribusi terhadap kesejahteraan satu sama lain. Dengan kata lain, hubungan tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang melalui upaya bersama.

Untuk mencapai hubungan yang berkembang tersebut, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah membangun minding relationship. Konsep ini merujuk pada proses saling memahami yang melibatkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang terus-menerus saling terhubung dalam suatu hubungan.

Proses ini dapat dipahami melalui beberapa tahap, mulai dari upaya saling mengenal secara mendalam, menggunakan pemahaman tersebut untuk memperkuat relasi, menerima dan menghormati pasangan, menjaga konsistensi dalam interaksi, hingga akhirnya tercipta hubungan di mana masing-masing individu merasa dihargai dan dipandang istimewa (Harvey, Pauwels, & Zicklund, 2002).

Dalam praktik sehari-hari, hubungan yang berkembang dapat diperkuat melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna. Individu dapat belajar dari pasangan lain yang memiliki hubungan sehat dengan mengamati dan meneladani pola interaksi mereka. Dari sana, kita juga dapat mulai membangun kebiasaan kecil, seperti mengekspresikan apresiasi setiap hari.

Praktik ini tidak hanya terbatas pada hubungan romantis, tetapi juga dapat diperluas ke berbagai konteks, seperti mengikuti kegiatan mindfulness bersama pasangan, membangun relasi yang hangat di tempat kerja, serta memperluas lingkaran sosial dengan menjalin hubungan dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam. Dengan demikian, flourishing relationship tidak hanya terbentuk dalam relasi romantis, tetapi juga melalui keterlibatan sosial yang lebih luas.

Hubungan yang berkembang secara optimal juga ditandai oleh kemampuan pasangan dalam membangun interaksi positif secara konsisten. John Gottman menekankan pentingnya culture of appreciation, yaitu kecenderungan untuk secara aktif mengekspresikan penghargaan terhadap pasangan dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan yang sehat ditandai oleh dominasi interaksi positif dibandingkan interaksi negatif, yang dikenal dengan rasio 5:1. Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan hubungan tidak ditentukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh kemampuan pasangan untuk menjaga keseimbangan dengan memperbanyak pengalaman positif dalam interaksi mereka.

“Jika boleh bertanya, apakah hubunganmu saat ini sudah mengarah pada flourishing relationship? Namun karena saya sungkan, saya akan bertanya dengan cara yang lebih ringan: kamu tim furab atau rabun?”


Penulis: Asmar Tahirman, mahasiswa Psikologi pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.