Dari Furap menuju Flourishing Relationship
Seminggu terakhir, saya menemukan tiga berita yang tampaknya berbeda, tetapi
sebenarnya memiliki benang merah yang sama. Pertama, “furap” (Fuji dan Arap)
yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Kedua, seorang teman SMA
yang sering saya kunjungi saat pulang kampung akhirnya menemukan “pelabuhan
terakhirnya” dengan melangsungkan pernikahan.
Ketiga, unggahan Clara Shinta
yang membagikan dinamika rumah tangganya. Ketiganya berbicara tentang hubungan mulai
dari yang masih sebatas gosip, berlanjut menuju komitmen, hingga realitas
kehidupan dalam pernikahan. Lalu, muncul pertanyaan di benak saya bagaimana
psikologi positif memandang sebuah hubungan?
Dalam psikologi positif, ternyata ada istilah flourishing relationship,
yaitu hubungan interpersonal baik dalam konteks pertemanan, romantis, maupun
keluarga di mana individu tidak hanya merasakan kepuasan atau kestabilan,
tetapi juga mengalami pertumbuhan bersama, dukungan timbal balik, dan
kontribusi terhadap kesejahteraan satu sama lain. Dengan kata lain, hubungan
tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang melalui upaya bersama.
Untuk mencapai hubungan yang berkembang tersebut, salah satu pendekatan yang
dapat dilakukan adalah membangun minding relationship. Konsep ini
merujuk pada proses saling memahami yang melibatkan pikiran, perasaan, dan
perilaku yang terus-menerus saling terhubung dalam suatu hubungan.
Proses ini
dapat dipahami melalui beberapa tahap, mulai dari upaya saling mengenal secara
mendalam, menggunakan pemahaman tersebut untuk memperkuat relasi, menerima dan
menghormati pasangan, menjaga konsistensi dalam interaksi, hingga akhirnya
tercipta hubungan di mana masing-masing individu merasa dihargai dan dipandang
istimewa (Harvey, Pauwels, & Zicklund, 2002).
Dalam praktik sehari-hari, hubungan yang berkembang dapat diperkuat melalui
langkah-langkah sederhana namun bermakna. Individu dapat belajar dari pasangan
lain yang memiliki hubungan sehat dengan mengamati dan meneladani pola
interaksi mereka. Dari sana, kita juga dapat mulai membangun kebiasaan kecil,
seperti mengekspresikan apresiasi setiap hari.
Praktik ini tidak hanya terbatas
pada hubungan romantis, tetapi juga dapat diperluas ke berbagai konteks,
seperti mengikuti kegiatan mindfulness bersama pasangan, membangun
relasi yang hangat di tempat kerja, serta memperluas lingkaran sosial dengan
menjalin hubungan dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam. Dengan
demikian, flourishing relationship tidak hanya terbentuk dalam relasi
romantis, tetapi juga melalui keterlibatan sosial yang lebih luas.
Hubungan yang berkembang secara optimal juga ditandai oleh kemampuan
pasangan dalam membangun interaksi positif secara konsisten. John Gottman
menekankan pentingnya culture of appreciation, yaitu kecenderungan
untuk secara aktif mengekspresikan penghargaan terhadap pasangan dalam
kehidupan sehari-hari.
Penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan yang sehat
ditandai oleh dominasi interaksi positif dibandingkan interaksi negatif, yang
dikenal dengan rasio 5:1. Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan hubungan tidak
ditentukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh kemampuan pasangan untuk
menjaga keseimbangan dengan memperbanyak pengalaman positif dalam interaksi
mereka.
“Jika boleh bertanya, apakah hubunganmu saat ini sudah mengarah pada flourishing
relationship? Namun karena saya sungkan, saya akan bertanya dengan cara
yang lebih ringan: kamu tim furab atau rabun?”
Penulis: Asmar Tahirman, mahasiswa Psikologi pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.