Mon, 02 Feb 2026
Esai / Ilham Arif Ramadhan / Feb 02, 2026

Menemukan Makna di Antara Kesepian, Tradisi, dan Memori

Ketakutan yang tak terucap kita seringkali berjalan di dunia ini tanpa benar-benar memahami alasan mengapa kita hidup. Tujuan hidup seringkali menjadi teka-teki yang abstrak dan sulit dipecahkan.

Namun, ironisnya, manusia hampir selalu memiliki kejelasan yang absolut mengenai apa yang mereka takuti. Di antara sekian banyak kecemasan yang menghantui pikiran, ada satu ruang imajiner yang kerap kita hindari untuk dibicarakan, namun kehadirannya sering kali terasa nyata seperti hembusan nafas dingin di kegelapan malam: kesepian.

Kesepian (loneliness) sering kali disalah pahami hanya sebagai kondisi fisik saat seseorang sedang sendirian. Padahal, secara psikologis, kesepian adalah sebuah fenomena mental yang disosiatif. Seseorang bisa saja berada di tengah hiruk-pikuk keramaian kota, dikelilingi oleh ratusan orang, namun tetap merasa kosong, terasing, dan tidak diinginkan.

Kesepian ini bukan sekadar tentang absennya orang lain, melainkan absennya koneksi dan rasa memiliki. Melalui lensa Sean Redmond, tradisi Toraja, dan filosofi One Piece, kita akan memahami bahwa kesepian sebenarnya adalah "gladi resik" dari kematian itu sendiri, khususnya kematian yang paling menakutkan: dilupakan.

Sean Redmond dan Estetika Ruang Tunggu Dalam memahami kesepian, Sean Redmond melalui bukunya The Loneliness Room menawarkan sebuah perspektif yang revolusioner. Ia menegaskan bahwa kesepian bukanlah sebuah penyakit menular yang harus segera diobati, melainkan sebuah "ruang liminal" atau ruang transisi.

Redmond melihat bahwa individu yang sedang merasa kesepian sejatinya sedang melakukan sebuah praktik "menunggu" yang sangat aktif.

Mereka tidak sekadar diam dalam kesedihan; mereka sedang menanti. Menanti telepon berdering, menanti pesan masuk, menanti koneksi yang lama terputus untuk tersambung kembali, atau bahkan sekadar menunggu perasaan menyakitkan itu berlalu dari batin mereka.

Dalam fase penantian yang sunyi ini, manusia seringkali menunjukkan sisi heroiknya yang paling murni: kreativitas.

Banyak orang yang kesepian justru menjadi sangat kreatif; mereka menulis puisi, membuat film, melukis, atau membangun dunia imajinasi yang luas hanya untuk bertahan hidup secara eksistensial. Tindakan menciptakan sesuatu ini adalah bentuk resistensi atau perlawanan terhadap waktu yang terasa kosong.

Dengan berkarya, mereka mengirimkan "sinyal" ke luar ruang tunggunya, seolah ingin berteriak kepada dunia bahwa mereka masih ada. Namun, tantangan eksistensial muncul ketika sinyal tersebut tidak pernah mendapat balasan, membawa kita pada jurang yang lebih dalam: kematian sosial.

Jika Redmond berbicara tentang "ruang tunggu" di dalam pikiran, masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan memberikan visualisasi nyata tentang bagaimana manusia melawan kematian sosial.

Dalam budaya Toraja, batas antara hidup dan mati tidaklah kaku seperti dalam standar medis modern. Melalui ritual Rambu Solo’, seseorang yang jantungnya telah berhenti berdetak tidak langsung dianggap "mati" secara sosial.

Jasad tersebut tetap ditempatkan di dalam rumah, diperlakukan layaknya orang sakit yang sedang beristirahat, bahkan diberi air minum dan diajak bicara oleh anggota keluarganya.

Di sini, terjadi sebuah negosiasi yang luar biasa antara kematian biologis dan keberadaan sosial. Selama keluarga masih merawat, memberikan perhatian, dan melakukan ritual, individu tersebut belum dianggap benar-benar tiada karena kontak sosialnya masih dipertahankan.

Hal ini berlanjut hingga ritual Ma’nene, di mana keluarga mengganti pakaian jenazah leluhur mereka. Praktik ini bukan sekadar tradisi fisik, melainkan upaya sadar untuk mempererat ikatan lintas generasi dan merawat memori kolektif.

Di Toraja, kematian sejati, atau kematian sosial adalah saat seseorang benar-benar berhenti diritualkan dan namanya tak lagi disebut dalam ingatan kolektif keluarga. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk menunda momen tersebut karena mereka tahu bahwa selama seseorang diingat, mereka belum benar-benar pergi.

Pemikiran budaya Toraja ini menemukan kembarannya dalam dunia fiksi melalui karakter Dr. Hiriluk dalam anime One Piece. Dalam sebuah dialog yang sangat mendalam, ia mengajukan pertanyaan retoris mengenai kapan seseorang benar-benar mati.

Apakah saat jantungnya tertembus peluru? Tidak. Apakah saat ia menderita penyakit mematikan? Tidak. Menurut Hiriluk, seseorang benar-benar mati hanya ketika mereka telah dilupakan.

Pernyataan ini bukan sekadar dramatisasi pop-kultur, melainkan sebuah definisi teknis yang membedakan antara kematian biologis (berhentinya fungsi tubuh) dan kematian sosial (hilangnya eksistensi dalam memori orang lain).

Jika tradisi Toraja memberikan kita metode untuk merawat ingatan agar yang mati tetap "hidup", maka filosofi One Piece memberikan peringatan keras tentang kengerian dari hilangnya ingatan tersebut. Menjadi dilupakan berarti menjadi benar-benar tidak ada; itu adalah kepunahan dalam skala yang paling personal.

Kesepian Sebagai Kematian Sosial yang Prematur, Argumen ini membawa kita pada kesimpulan yang pedih mengenai realitas kesepian di era modern. Jika kematian sejati adalah saat seseorang dilupakan, maka kesepian yang mendalam adalah bentuk kematian sosial yang dialami seseorang saat mereka masih bernapas. Orang yang kesepian sedang mengalami proses "dilupakan" secara perlahan dalam kehidupan sehari-harinya.

Secara biologis mereka hidup, namun secara sosial mereka sedang sekarat karena minimnya validasi atas keberadaan mereka dari lingkungan sekitar. Kegagalan masyarakat atau orang-orang terdekat untuk memberikan pengakuan terhadap kehadiran seseorang memaksa individu tersebut masuk ke dalam fase kepunahan skala mikro.

Seperti yang dicatat dalam studi mengenai bunuh diri di Jepang, wabah kesepian tidak bisa disembuhkan dengan sekadar obat medis, melainkan harus melalui pemulihan ikatan kemanusiaan yang bermakna. Narasi yang paling memilukan adalah ketika seseorang merasa terlalu kesepian, bahkan untuk sekadar mati sendirian pun terasa begitu berat.

Pada akhirnya, perjalanan melalui pemikiran Redmond, ritual Toraja, dan pesan Hiriluk menyadarkan kita bahwa ketakutan terbesar manusia bukanlah pada berhentinya detak jantung, melainkan pada hilangnya makna dan keterhubungan.

Kematian fisik adalah keniscayaan alamiah, namun kematian sosial adalah tragedi yang seharusnya bisa dicegah. Kesepian, meski menyakitkan, bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah sinyal alarm dari jiwa bahwa kita masih memiliki kapasitas batin yang luas untuk diisi dengan koneksi baru.

Usaha kita untuk tetap "aktif dan kreatif" di tengah kesendirian, menulis, berkarya, atau sekadar merawat harapan adalah tindakan heroik untuk menunda kematian sosial tersebut.

Cara terbaik untuk melawan kengerian ini bukan dengan mencari keramaian yang semu, melainkan dengan keberanian untuk merawat memori, menjaga harapan, dan terus menyalakan sinyal keberadaan kita.

Selama kita masih mampu memberikan makna pada kesendirian kita, dan selama masih ada setidaknya satu jiwa yang mengingat nama kita dengan kasih sayang, maka kita belum benar-benar mati. Kita hanya sedang mengambil napas panjang di dalam ruang tunggu kehidupan, bersiap untuk kembali disapa dan menyapa dunia.


Penulis: Ilham Arif Ramadhan. penulis sementara melanjutkan studi Antropologi di Yogyakarta.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.