Fri, 29 Aug 2025
Esai / Ferdhiyadi N / Aug 22, 2025

Padi, Ingatan, dan Spiritualitas Ekologi di Soppeng

Bulan Juli yang lalu–selama beberapa hari kami berjalan dari kampung ke kampung di Kabupaten Soppeng. Menyusuri jalan kecil, masuk ke rumah-rumah panggung, berbincang dengan para petani sepuh, dan mendengarkan kisah-kisah yang terikat pada satu hal yang sama: padi.

Bagi orang Soppeng, padi bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah bagian dari tubuh, jiwa, dan sejarah. Saya diajak oleh Abdul Karim–Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Kelompok Riset–Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dalam sebuah proyek riset—pengumpulan data lapangan mengenai tradisi pertanian dan konsepsi pengolahan sawah Masyarakat Bugis. Kabupaten Soppeng adalah salah satu lokasi risetnya, selain Kabupaten Sidrap, Wajo,  Barru, dan Pangkep.

Masih teringat jelas sore itu, ketika duduk di lego-lego atau beranda rumah panggung Indo Saturi di Dusun Lagoci. Di usianya yang 70 tahun, ia masih mampu melantunkan massureq—pembacaan naskah Meong Palo Karellae dalam epos I La Galigo yang berkisah tentang Sangiang Serri, dewi padi yang dimuliakan masyarakat Bugis.

Suaranya bergetar, cengkoknya khas, meski memorinya sudah mulai rapuh. “Dulu satu rumah bisa ramai orang massureq,” katanya. Kini, ia tinggal satu dari sedikit yang masih bisa melafalkan naskah itu.

Perjalanan  kemudian membawa saya pulang ke kampung sendiri, Dusun Lebbae. Di sana saya bertemu Wa’ Mise, perempuan sepuh berusia 90 tahun. Ia membuka kantong plastik berlapis tiga, mengeluarkan naskah Meong Palo warisan kakeknya yang ditulis ulang oleh anaknya.

Naskah itu dicium, dibacakan doa, lalu dilantunkan dengan penuh penghayatan. Selama sepuluh menit saya hanya bisa terdiam. Saya merasa seakan ditarik kembali ke masa ketika padi bukan hanya tumbuhan, melainkan bagian dari cara pandang dan spiritualitas tentang kehidupan itu sendiri.

Wa’ Mise saat melantunkan naskah Meong Palo Karellae di rumahnya. Dok. Tim Mafella Essoe

Di dalam naskah itu tercantum nama-nama kampung: Watu, Kessi, Pattojo, Langkemme di Soppeng, sampai Lisu-Barru. Naskah bukan hanya teks, melainkan peta ingatan kolektif yang menyatukan ruang, sejarah, dan manusia.

Massureq menjadi jembatan antara dunia manusia dengan dunia padi, dunia roh, dan dunia leluhur. Ia adalah cara merawat hubungan, bukan hanya sekadar membaca kisah.

Ekologi Spiritual dan Padi yang Dimuliakan

Dalam kosmologi Bugis, padi dimuliakan (i pakalebbi i ase e). Ia diperlakukan seperti manusia. Ada padi laki-laki (lakking), ada padi perempuan (yaccing). Ada tahap kelahiran saat benih ditebar (mampo bine), ada tahap masa muda ketika padi mulai berbuah dan dirawat dengan ritual mangeppi, ada pula tahap kedewasaan ketika padi akan dipanen  (mappamulla ase). 

Mangeppi adalah ritual penting yang dilakukan ketika padi mulai berisi dan berbuah. Pada saat itu, pemilik sawah membawa berbagai daun dan ramuan simbolik—daun siri, daun kunyit, daun panini, hingga pacci—yang dipercaya membawa kesuburan, kekuatan, dan perlindungan.

Ramuan itu diikat dan dibawa mengelilingi sawah sambil melafalkan doa. Tujuannya bukan hanya menjaga padi dari yang disebut hama dan penyakit, tetapi juga memastikan bahwa roh padi (sumange’na ase) tetap tenang dan terjaga hingga masa panen. Mangeppi adalah wujud kasih sayang petani kepada padinya, sebagaimana seorang ibu menjaga anaknya.

Ase Ase pammula malisse: Beberapa tangkai padi terbaik yang dipotong menjelang panen kemudian disimpan dalam baku’ atau wadah kotak dari anyaman bambu. Dok. Tim Mafella Essoe

Setelah masa panen tiba, ada mappamulla ase atau panen perdana, di mana padi pertama dipotong dengan penuh kehati-hatian, lalu disimpan di rakkeyang—loteng rumah panggung—sebagai padi sakral. Setelah panen selesai, masyarakat Bugis menggelar maccera ase, yakni ritual syukuran atas hasil panen.

Maccera ase biasanya ditandai dengan adanya nasi hangat dari beras hasil panen, telur ayam kampung, sokko (nasi ketan) hitam putih, lalu nasu likku (ayam lengkuas)—sebagai persembahan simbolik. Hidangan tersebut dimakan bersama seluruh keluarga atau bahkan warga kampung. Ritual ini menegaskan bahwa padi bukan hanya milik individu, tetapi rezeki bersama yang patut dirayakan dengan rasa syukur.

Ketika saya mendengar lantunan massureq dan melihat bagaimana benih diperlakukan dengan penuh penghormatan, saya teringat pandangan Thomas Berry dalam bukunya The Dream of theEarth (1988). Sebagai seorang pemikir ekologi spiritual, Berry menulis: “The universe is a communion of subjects, not a collection of objects.”

Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan komunitas makhluk hidup yang saling berhubungan. Apa yang dilakukan masyarakat Soppeng adalah perwujudan konkret dari gagasan itu—padi bukan benda mati, melainkan makhluk yang punya roh (sumange’), yang harus dihormati agar kehidupan tetap tumbuh saling menghidupi secara berkesinambungan.

Antara Krisis dan Harapan

Kita menyaksikan bagaimana benih lokal semakin terpinggirkan, pupuk kimia merusak tanah, dan petani kehilangan kedaulatan. Padahal, dalam ritual maddoja bine, mangeppi, atau mappadendang, terkandung pengetahuan ekologis yang memastikan keberlanjutan: menjaga tanah tetap subur, menyesuaikan diri dengan musim, dan membangun solidaritas sosial. Semua itu adalah jawaban yang lahir dari pengalaman panjang, bukan sekadar teori yang abstrak.

Sebaliknya, pertanian modern mengajarkan kita menghitung hasil panen dalam ton per hektar, memilih benih unggul industri, dan mengukur produktivitas semata. Rakkeyang yang dulu sakral kini kosong, diganti karung plastik berlabel perusahaan. Ritual yang dulu menyatukan warga kampung kini hilang, tergantikan mekanisme pasar.

Inilah yang dikritik Vandana Shiva dalam bukunya The Violence of the Green Revolution (1991) sebagai bentuk kekerasan yang merusak ekologi: tanah kehilangan kesuburannya, benih lokal tergeser oleh benih industri, dan petani dipaksa bergantung pada logika pasar global. Keretakan ini bukan hanya soal tanah yang rusak, tetapi juga hilangnya spiritualitas, hilangnya rasa hormat terhadap padi.

Dunia hari ini juga sedang menghadapi kenyataan pahit: bumi terluka, iklim kian tidak menentu, dan ketahanan pangan global berada di ambang krisis. Kekeringan panjang, banjir besar, hingga cuaca ekstrem yang kerap datang tanpa pola, telah mengancam hasil panen di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, sistem pangan industri yang serba cepat justru menjauhkan kita dari kebijaksanaan lama yang berpusat pada keseimbangan alam. Di titik inilah tradisi Bugis tentang padi menjadi sangat relevan. Maddoja bine, mangeppi, hingga maccera ase bukan sekadar ritual, melainkan cara menjaga ritme kosmos: tanah, air, angin, benih, dan manusia disatukan dalam ikatan saling menghormati.

Ketika padi diperlakukan sebagai makhluk yang punya jiwa, bukan komoditas belaka, di situlah spiritualitas ekologi bekerja—mengajarkan keseimbangan yang kini mulai hilang dari dunia yang kita sebut modern ini.

Gotong-royong menanam padi di Kampung Langkemme, Soppeng. Dok: Pribadi.

Namun sisa-sisa ingatan itu masih hidup. Indo Saturi, dengan suaranya yang bergetar, masih menghidupkan bait-bait Meong Palo. Wa’ Mise, dengan tubuh renta dan naskah yang dijaga dengan penuh kasih, masih menjadi penjaga terakhir dari ingatan kolektif itu.

Mereka mungkin generasi terakhir yang bisa melantunkan naskah ini dengan fasih, tetapi dari mereka pula kita belajar bahwa ada cara lain memandang padi: bukan sekadar komoditas, melainkan sumber kehidupan penuh makna.

Sebagai orang Soppeng, perjalanan ini membuat saya merasa pulang bukan hanya ke kampung halaman, tetapi juga ke pelajaran yang lebih besar: bahwa untuk menjaga masa depan, kita harus menghidupkan kembali rasa hormat terhadap padi, tanah, dan seluruh kehidupan.

Di balik butiran nasi yang sederhana, sesungguhnya tersimpan doa-doa leluhur, ingatan panjang yang diwariskan, serta kearifan untuk bertahan menghadapi krisis ekologi hari ini.

Saya teringat ungkapan orang tua di kampung: ipakalebbi i ase e—padi itu dimuliakan. Kalimat sederhana ini bukan sekadar pesan warisan, melainkan arah hidup: bahwa hubungan manusia dengan alam harus dijaga dengan hormat, bukan dengan keserakahan.

Ketika saya duduk mendengar massureq dari Wa’ Mise, atau menyaksikan Indo Saturi melantunkan bait yang bergetar dari ingatan rapuhnya, saya tahu bahwa ini bukan hanya riset. Ia adalah ziarah—ziarah pada jiwa kolektif yang perlahan memudar, tetapi masih memberi harapan. Padi itu Soppeng, Soppeng itu Padi. Dan mungkin, disitulah juga letak penyelamatan kita sebagai manusia—mengingat kembali, menghormati kembali, dan merawat kembali yang paling dasar dari hidup kita: sebutir padi.

 

Penulis: Ferdhiyadi NDosen di Sosiologi UNM. Menekuni isu ruang hidup, sejarah komunitas, dan ekologi sosial. Bersama warga menggagas ruang belajar dan bertumbuh: Tallo Bersejarah.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.