Wed, 28 Feb 2024
Travel / Dec 16, 2020

Lamangka: Dulu Dibanggakan, Sekarang Terlupakan

Ada yang tahu Pantai Lamangkia? Atau sudah pernah berkunjung kesana? Generasi yang lahir ditahun 90-an hingga awal 2000-an pasti tidak lumrah dengan tempat tersebut. Salah satu icon kebanggaan Kabupaten Takalar pada zamannya. Pantai lamangkia terletak di Desa Topejawa Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar, berjarak sekitar 10 KM dari pusat Kabupaten Takalar dan dapat ditempuh sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor.

Pantai Lamangkia dulu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, sebelum abrasi melanda pantai ini sekitar tahun 2012 (Sumber: TribunTakalar.Com). Banyaknya sampah kiriman dari aliran sungai pappa pasca musim hujan, merupakan salah satu faktor mengapa pantai ini kehilangan citranya.

Bukan hanya itu, tanggul (karung) pemecah ombak yang disusun sepanjang pantai lamangkia untuk mencegah terjadinya abrasi anggaran proyeknya diduga dikorupsi (Koran Tempo-Kamis, 06 Januari 2010) dan telah menelan beberapa korban. Pengunjung yang berenang dipantai sering tertusuk duri ikan sembilang atau orang-orang sekitar menyebutnya samelang yang bermukim di sekitar tanggul tersebut.

Sekarang pantai lamangkia tidak terurus lagi, beberapa fasilitas yang ada sudah rata dengan tanah. Pasirnya yang halus kini bercampur dengan serbuk kayu, pemerintah hampir tak peduli dengan hal tersebut. Beberapa kegiatan aksi bersih telah dilakukan, bahkan pemuda sekitar mulai rutin membersihkan, dengan impian dan harapan Lamangkia kembali seperti dulu lagi. Amin.

Dibulan Juli, Lamangkia akan memamerkan keelokannya, air laut seakan terbelah menjadi dua bagian, sehingga kita bisa berjalan kurang lebih 200 Meter ke tengah laut. Dan senja yang berlinang jingga dengan jelas nampak menuju peraduannya.

Perlahan namun pasti, ketika kita berusaha dan konsisten maka harapan-harapan itu bukan hanya sekedar angan belaka, melainkan menjadi nyata dan kemenangan bersama.

Tapi tak bisa juga kita mengelak bahwa perlu adanya support dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Mungkin pemerintah telah lupa, kalau pantai ini juga pernah menyumbang anggaran untuk daerah.

Jika pemuda dan masyarakat bersinergi, sementara yang berwenang hanya diam dan menggugurkan tanggungjawab semata. Maka, bukan hanya sampah berserakan di pesisir pantai yang kita bersihkan. Akan tetapi, sampah-sampah berdasi juga perlu kita lenyapkan.

 

Penulis: Hajir, Karang Taruna Pelita Desa Topejawa.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.