Mon, 24 Jun 2024
Cerpen / Apr 10, 2021

Ejawantah

Kini aku diburu oleh perjuangan untuk mengusir keraguanku. Di dalam hati seseorang sepertiku ini, ada angan rahasia yang bekerja dan penyiksaan rahasia yang tidak seharusnya ditemukan. Namun sialnya, 'diri' yang lain ini telah menemukannya.

"Ah, harusnya tak begini," gumamku sembari mengacak-acak rambut.

Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan mimpi buruk. Setiap bunga tidur yang menghampiriku selalu mencekik habis ragaku.

"Hei! Kau baik-baik saja?" celetuknya membuat lamunanku terpecah.

"Vina?"

Ia mendekatiku perlahan. "Apa tugas dari Pak Jaka sesulit itu?"

Aku menggelengkan kepala. Tiba-tiba Vina meraih tanganku dan menariknya paksa. "Ayo, kita cari udara segar. Toh, kantor kita masih jam istirahat kan."

Aku berdiri, mengikuti langkah kaki kecilnya. Kami pun tiba di rooftop kantor. Angin melambai tenang. Terik matahari tak terlalu menyengat kulit. Hanya ada aku dan Vina di sini, berdua.

"Duduklah! Aku ingin bertanya sesuatu," ucapnya sembari membersihkan debu pada lantai.

Aku menuruti perintah Vina tanpa membantah. "Dani,  kau tak apa? Kantong matamu terlihat jelas loh," tanyanya.

Aku tersenyum kecut. Tak tau saja, kau adalah bayangan yang membelengguku. Membuatku selalu dalam dunia yang penuh kegelapan.

"Hanya lelah." Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. "Kurasa sampai sini saja hubungan kita."

Vina membelalakkan matanya. Ia sontak tak percaya. "Apa? Bagaimana bisa begitu? Jelaskan Dan!" bentaknya.

"Cinta itu mampu membuat hati seseorang berbunga-bunga, bukan?" tanyaku.

Aku menjelaskan lebih lanjut, "Nah, sayangnya hal itu hanya berlaku untukmu. Tidak bagiku. Jadi, mari kita putus rantai ini."

Vina terdiam, bibirnya membeku. "Sudah 6 bulan hubungan kita berlangsung. Yakin ingin mengakhirinya?"

Aku mengangguk mantap.

Vina tertawa. Entah itu tawa munafik atau topeng belaka. Lalu ia menjawab, "Baiklah, karena renjanamu sudah amat kuat dan tak ada keraguan dalam dirimu lagi. Maka dengan ini kulepaskan tubuhmu."

Aku merenungi setiap kata-katanya yang terkesan rancau di telingaku. "Aku hanya ingin putus hubungan, bukan perpisahan selamanya. Apa ini perlu?"

Vina tergelak. "Aku takkan mengulur waktu lebih lama, segera uraikan benang yang kusut itu," pinta Vina.

* * *

"Hei nomor 7822. Kau dipanggil petugas tuh." Pria bertubuh kokoh menepuk pundakku.

Aku masih terdiam, membumbung tinggi bayangan gilaku. Nyatanya selama ini aku sedang berilusi, Vina hanya dalam angan-anganku. Ia bukanlah Vina, melainkan sang perasaan bersalahku sendiri.

Vina hilang, ketika aku mampu menyelesaikan konflik batin dengan diriku. Aku menyapu habis setiap keraguan yang ada. Pun menguraikan setiap helai benang yang kusut. Alhasil aku bangun di tempat ini. Tempat mengerikan nan keji, kebanyakan orang membencinya.

"Nomor 7822!" teriak seorang petugas.

Aku menyahut, "Ah, ya! Aku ke sana!"

* *

"Dani Pramadian, umur 23 tahun. Didakwa atas pidana pembunuhan. Apakah Anda mengakuinya?" tanya Hakim.

Aku menganggut. Setelah itu, aku menjawab seluruh pertanyaan dari Hakim dengan jujur. Serta tak lupa memberikan barang buktinya pula.

"Selama ini Anda menghilang selama 6 bulan lalu menyerahkan diri. Bisa jelaskan mengapa?"

Terulas senyum simpul di wajahku. "Aku didera oleh perasaan buncah. Aku juga semakin skeptis dengan keberadaan diriku. Jadi, aku memutuskan untuk mengutarakan kebenarannya pada dunia. Sebelum diriku hancur lebur lalu luluh, tetapi meninggalkan banyak dosa. Lebih baik aku punah dan membusuk di dalam penjara, sekalian menebus dosa-dosaku."

"Terima kasih atas jawabannya. Dengan ini sidang ditutup dan keputusan akhir dari kami adalah pidana nomor 7822, Dian Pramadian, dihukum penjara seumur hidup."

Tokk.. Tokk.. Tokk..

Terurai sudah benang yang kusut itu. Meski menyakitkan, jujur tetap diperlukan. Tak apa untuk melewati dunia bengis sendirian di dalam rumah jeruji besi ini. Asal hatiku sudah menerima ikhlas dan tiada lagi keraguan dalam hati.

 

Penulis: Yuniarti Rahayu, sapa saja Ar atau Niar. Kelahiran 7 Juni. Seorang pelajar yang berdomisili di Jawa Timur. Ar hanyalah seseorang yang hobi bermain game dan menulis. Teruslah bermimpi! Justru karena masih ada mimpi, kita punya alasan untuk terus hidup, terus maju, dan terus mengejar. Ingin mengenal lebih dekat? Sapa Ar melalui Instagram @ynr.rh7

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.