Kutu di Rambut
Secara beruntun cahaya melesat ke langit, menjelma titik-titik yang dalam sekejap bermekaran bagai bunga dengan percik api yang turut membinari mata. Tampaknya mereka mencoba menggeser posisi bulan, membuat pandangan dipenuhi oleh pendar, dan pendengaran digandrungi oleh gaduh.
Malam ini merupakan pengalaman pertamaku menyaksikan keriuhan yang begitu menawan. Aku berjalan, menyelinap di antara ribuan helai rambut yang menjutai dengan halus?—?tempat bagi makhluk yang dianggap sebagai aib. Aku ingin melihatnya dengan lebih jelas.
Di antara sela rambut di ujung kepala aku menatap langit, memandang percikan api yang tak kian meredup. Para manusia di bawah sana tampak buncah kegembiraannya melalui mata, melalui senyum, melalui tawa. Mereka mengikuti segala irama: irama ledakan dan irama angin yang memenuhi angkasa, memeluk suka, melebur duka.
Gemintang pada mata mereka menyambar ke seluruh penjuru kota. Membuat bungah bertumpahan pula dari hatiku. Rambut panjang halus nan wangi yang kucengkeram membuat kegembiraanku semakin hidup dalam keabadian malam ini.
Sungguh aku bersyukur karena selama aku hidup tempat tinggalku selalu dijaga agar tetap menjuntai dan semerbak. Meskipun sebagian besar kawananku membenci itu, namun bagiku ada asa yang tak boleh patah dan ada gelora yang tak boleh padam di seluruh untaian rambut ini.
Malam ini riang ku turut membuncah bersama harumnya rumah dan cerahnya gemintang pada ribuan mata. Namun entah mengapa kepala yang kupijak hanya bergeming menengadahkan kepala, membuat langit merasa jenuh karena ia hanya menatap tanpa reaksi yang lebih bervariasi.
Belum beres luapan pukauku kepada pijar yang bermekaran, gadis yang rambutnya kutinggali ini secara tiba-tiba pergi meninggalkan balkon kamarnya. Aku keheranan. Pasalnya malam ini kan merupakan pergeseran waktu yang paling dinanti umat manusia. Bukankah senyum harus diranumkan, bukan dilayukan?
###
Kini gadis itu duduk di hadapan cermin. Wajahnya tumpul?—?tidak memperlihatkan gairah, namun matanya tajam?—?menghardik dirinya dalam cermin. Atau malah cermin lah yang menghardik dirinya? Aku tidak begitu paham. Yang pasti aku ingin sekali menusuk kedua bola matanya. Sebab tanpa gemintang, apa gunanya ia terpasang di sana? dasar! bahkan patung lebih beratmosfer ketimbang gadis ini.
Akan tetapi setelah waktu yang lama, si gadis menggerakkan tangannya, menyibakkan rambut ke depan dada menjadi dua bagian. Kemudian ia meraih gunting dari meja di hadapannya. Aku hanya memperhatikan. Setelah gunting telah digenggam, ia tanpa ragu mengantar gunting tersebut kepada tempat tinggalku di bagian kanan.
Aku tercengang, namun itu tak akan menghentikan tangan si gadis yang terus menghimpitkan kedua sisi gunting, membuat rumahku yang berharga tercerai berai ke lantai. Ia tak berhenti, karena selanjutnya ia mencerai beraikan rumahku di bagian kiri juga.
Kini rumahku tak lagi menjuntai.
Si gadis bangkit, menyudahi hardikan cermin terhadap dirinya. Ia mengambil kaleng biskuit yang sudah lama habis, lantas mengumpulkan bekas rumahku ke dalam kaleng tersebut. Kemudian ia pergi, menghampiri balkon kamar yang tadi ia tinggalkan.
Ia meletakkan kaleng tersebut di lantai, menyalakan korek api, lantas membakar ribuan rambut yang telah dipenuhi oleh cinta dan harapan, yang telah dibelai oleh harum-haruman, serta yang telah dibinari oleh ruang dan waktu.
Bunga api meledakkan diri di langit. Si gadis sekali lagi menengadahkan kepalanya, ia menghela napas dengan lembut.
Penulis: Arina Chuuriyyah Herawati, perempuan yang akrab disapa Olla di sosial media ini tengah menempuh jenjang pendidikan di Yogyakarta sebagai mahasiswa film. Ia kerap kali membagikan tulisannya melalui medium (@ollariennn)