Wed, 28 Feb 2024
Cerpen / Aug 14, 2021

Gadis Ranum Kota Sutera

Pekat tersapu bias cahaya. Meski remang sinar perak sesekali mengintip di sela-sela dedaunan akasia di depan rumah. Belum sempurna memang bentuk bulan yang tertata di sudut cakrawala yang menua, tetapi justru mampu menebar hangat di tepian hati gadis ranum kota sutera. Tenri, gadis itu menata kenangan di hamparan teras kesayangan, menghadirkan romantis yang terlewati sore ini. Sebuah kisah yang masih enggan dibagi.

Kisah sebuah bintang yang tersenyum pada kegelapan dan memberi sebuah titik harapan yang tersimpan di dasar sungai Walannae, meski seringkali muncul di tepian, menyapa pasir dan bebatuan. SMA adalah saksi dimulainya persahabatan antara Tenri Si Bintang, seorang gadis ranum kota Sutera dengan Andi Si kegelapan pemuda Quran kampung Judi.

Hari pertama sekolah adalah hari yang tak terlupakan Andi seperti lautan yang tak pernah melupakan ombaknya. Pertama kali ia mendapatkan senyuman dari seorang gadis di antara rerimbunan bunga kembang kertas. Sepulang sekolah Andi mulai menceritakan gadis itu kepada Pohon Jagung kesayangan di kebun tepian sungai Walannae.

Andi mengulas kembali sebuah cerita dari memori yang tak pernah tertinggal. Saat fajar mulai menyapa pagi dan bunyi kokokan ayam yang membangunkan Andi untuk mengingat dan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wataala hingga mentari mulai menampakkan dirinya. Suara batuk Ayahnya menyadarkan Andi dari halusinasi kenikmatan dzikir yang ia rasakan pagi itu. Surya masih dengan malunya muncul di sela-sela awan.

Baginya, nuansa pagi hari saat itu akan lengkap apabila gadis yang tersenyum kemarin melintasi pekarangan rumahnya. Andi, tidakkah kau sekolah suara ayahnya yang muncul dari balik kelambu biru yang mulai kusam. Iya, Aku akan segera ke sekolah. Andi beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur sekejap ia memejamkan mata.

Ukhh ukkhh, suara batuk Ayahnya yang mengagetkan Andi dan segera mengambil sarung dan turun dari rumah panggung sederhananya, sesekali ia menengok pohon jagung kesayangan yang mulai menari-nari mengikuti irama angin. Setelah siap Andi berangkat ke sekolah.

Sesampainya disana, ia langsung menuju papan pengumuman kelas. Entah sengaja atau tidak, Andi hampir bertabrakan dengan seorang gadis dan ternyata gadis yang kemarin tersenyum padanya. Spontan Andi menyapanya dengan ucapan Assalamu Alaikum dengan suara lembut gadis itu menjawab Waalaikum Salam tak sempat berkenalan gadis itu mulai melangkah menjauhi Andi.

Dengan sabar Andi mencari kelasnya sesuai dengan apa yang ada di papan informasi. Langkah kaki Andi mulai menyusuri sekolah dan masuk ke sebuah ruangan kelasnya, matanya tertuju pada seorang gadis.

Gadis itu lagi, jadi aku sekelas dengannya ucap Andi dalam hatinya. Andi memilih duduk di belakang gadis itu. Beberapa saat kemudian seorang guru masuk ingin mengajar. Sebelum kita memulai pelajaran , ada baiknya kita perkenalan terlebih dahulu ucap ibu guru.

Karena pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak.... tiba-tiba ibu guru diam dan seketika ruangan terasa hening. Dan salah seorang siswa batuk dan semua orang tertawa. Disebutnya satu nama untuk perkenalan sampai pada akhirnya, sebuah nama disebut Tenri seorang gadis berdiri dengan senyuman tipisnya.

Oh... ternyata namanya Tenri ucap Andi dalam hati sambil senyum-senyum. Entah apa yang dipikirkan Andi saat itu. Nama itu langsung tertulis dalam hatinya dan tersimpan dalam memorinya.

Semenjak mengetahui nama gadis itu, Andi mulai mencari tahu informasi tentangnya, mulai dari media sosialnya, bahkan pernah membuntuti Tenri ketika pulang sehingga pernah membuat pemuda desa ini tersesat di kota. Tetapi di sanalah Andi dalam mengetahui seluk beluk Kota Sutera. Suatu pengalaman yang tak terlupakan oleh Andi.

Ketika Andi menemukan sosmed Tenri di Facebook dan mengirimi permintaan pertemanan dan seketika Tenri menerima permintaan pertemanan Andi. Ia mulai mencoba mengirimi pesan untuk Tenri.

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh

Ini aku Andi teman sekelas kamu

Oh, iya

BTW kamu sudah punya roster nggak ?

Punya

Tolong kirimin ya !

Iya nanti aku kirimkan

Suasana malam itu yang begitu hangat dirasakan Andi dan membuatnya ingin menulis sesuatu, diambil sebuah pulpen dan selembar kertas serta dibawanya keluar teras kesayangan tak memiliki penerangan kecuali purnama yang bersinar. Ditulisnya puisi dalam kertas itu.

MALAM

15, May 2017

Aku tak pernah menyangka
Masih ada bintang yang ingin ...
tersenyum pada kegelapan
Belum padam sinar dalam purnama
Angin yang selalu menyejukkan malam

Malam semakin larut tanpa bintang, Andi tidak bisa tidur karena hawa panas malam itu. Mungkin akan terjadi hujan lebat kata ayah Andi sambil batuk. Tiba-tiba hujan turun perlahan dan semakin deras, mengubah suasana panas menjadi dingin membuat Andi terlelap dalam tidurnya.

Sang fajar mulai menyongsong dari langit timur kampung itu, sedang Andi mulai terbangun dalam tidurnya dalam keadaan hujan masih mengguyur kampungnya. Tumben ayamku tidak berkokok, mungkin kedinginan karena hujan dari malam tadi ucap Andi sambil membuka pintu kamar.

Hujan membuat orang terlelap dalam tidurnya, tapi tidak dengan Andi, ia tetap bangun seperti biasa untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Walau hujan semakin reda saat mentari tersenyum pada embun pagi, tetapi masih membuat orang malas keluar rumah. Demi menuntut ilmu Andi keluar rumah mencari ridho ilahi.

Di depan gerbang sekolah Andi bertemu temannya Wawan dan Reza serta tak melihat siswa lain disana melainkan kedua temannya itu. Sepertinya kita kepagian kawan ucap Andi. Pagi, lihat jam nih ucap Reza sambil menunjuk jam tangannya yang menunjukkan pukul 07:30. Astagfirullah al adzim Reza dan Wawan menertawai tingkah kawannya, hahahaha.

Sesampainya di kelas, mereka hanya melihat beberapa temannya termasuk Tenri yang sedang duduk dan menyandarkan kepalanya ke sahabatnya, Anggun. Kamu sakit Tenri? tanya Andi kepada Tenri. Tidak, aku Cuma kedinginan kata Tenri sambil menggesekkan kedua tangannya agar hangat.

Dengan membuka sweaternya, Andi menawarkan kepada Tenri ini pakai biar tidak kedinginan Tenri sembari mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Kok Cuma Tenri yang dikasih sweater, aku kan juga kedinginan kata Anggun yang berada di samping Tenri. Masalahnya aku hanya punya satu sweater ucap Andi kepada Anggun. Mendengar ucapan Andi Wawan dan Reza tertawa terbahak-bahak. Dan mulai hari itu kedekatan lima orang ini, Andi, Tenri, Wawan, Reza dan Anggun semakin akrab.

Hingga pada suatu hari di hamparan padi di depan rumah, Andi mulai menyadari bahwa sebuah rasa telah menghampirinya, rasa yang menjanggal di hatinya. Tenri, gadis itu yang membuat rasa itu ada, yaitu rasa cinta dalam hatinya.

Rasa yang tak bisa ia diungkapkan membuat Andi akhir-akhir ini sering melamun. Ketika Andi duduk di depan kelas menatap langit yang tampak biru, Wawan dan Reza keluar dari dalam kelas dan membuat Andi kaget dengan kehadiran mereka berdua.

Tumben kamu melamun ? ucap Reza sambil duduk. Iya, ada apa sih denganmu Andi kata Wawan membenarkan perkataan Reza. Aku nggak apa-apa kok! jawab Andi menyangkal. Andi, kita ini sahabatan, beranilah untuk terbuka ucap Reza membujuk. Haruskah aku ceritakan pikiran yang memenuhi otakku? suara Andi mulai meninggi. Iya, kamu harus ceritakan semuanya suara Reza juga meninggi. Begini, menurut kalian Tenri orangnya bagaimana? suara Andi tiba-tiba merendah. Tenri orang baik, kok tiba-tiba nanyain Tenri? jangan-jangan....? ucap Reza penasaran.

Terus terang saja bro, kamu suka Tenri kan? Mendengar perkataan Wawan, Andi tersispu malu. Udah jelas Wan, sahabat kita ini tertabrak cinta sahabatnya sendiri yaitu Tenri.

Salahkah aku jika mencintai Tenri, cinta ini datang secara tiba-tiba tanpa aku sadari

Tidak, justru aku dan Wawan akan mendukungmu ucapan Reza menyemangati.

Mendengar dukungan dari kedua sahabatnya, Andi kembali semangat untuk mengejar cinta Tenri. Dengan istikhorah Andi meminta kepada Allah apakah jalan yang ia tempuh adalah jalan yang benar sebagai pemuda islam yang memperjuangkan cinta seorang gadis.

Dengan bantuan sahabatnya, Reza dan Wawan mulai mencari tahu kehidupan pribadi Tenri melalui sahabatnya Anggun. Mereka berdua menemuinya di depan masjid setelah shalat dhuha seperti biasa.

Setelah beberapa waktu berselang Tenri dan Anggun pun keluar dari masjid, otomatis Reza dan Wawan mendekatinya serta menyapanya

Assalamu Alaikum Anggun, Tenri

Waalaikum Salam jawab Tenri dan Anggun.

Tumben kalian nungguin kita? Pasti ada yang penting ya... tanya Anggun pada Reza dan Wawan.

Iya, kita bisa bicara kan Gun..? tanya Wawan.

Cuman aku nih yang di ajak bicara...? ucap Anggun bercanda. Mungkin mereka hanya perlu padamu Gun, aku duluan ke kelas, ya... ucap Tenri terlihat kesal dan berjalan menuju kelas.

Sepertinya Tenri marah sama kita, ucap Anggun cemas. Tidak, mungkin memang dia ingin ke kelas ucap Reza sambil memperhatikan Tenri dari jauh dan memastikan Tenri tidak mendengar pembicaraan mereka. Begini Gun setahu kamu Tenri sudah punya pacar tidak...? tanya Wawan ragu-ragu.

Belum, memangnya kenapa...? Anggun bertanya balik. Sebenarnya Andi suka sama Tenri kata Reza memberi tahu.

Apa...? apa ini benar...? ucap Anggun terkejut.

Benar! Jangan kasih tahu Tenri ! ucap Wawan berbisik. Oke-oke Cuma kita bertiga yang tahu kata Anggun mengangkat jempol.

Setelah mendengar perkataan Anggun, Reza dan Wawan menemui Andi di depan kelas tempatnya melamun.

Assalamu Alaikum, bro

Waalaikum Salam

Kita punya informasi baru tentang Tenri"

Emangnya apa? tanya Andi penasaran.

Tenri belum punya pacar

Terus, aku harus apa?

Tembak dong! kata Wawan memberitahu.

Aku sih tidak mau pacaran

Tidak usah pacaran. Setidaknya kamu ungkapkan perasaanmu kepada Tenri.

Dengan perasaan deg-degan, Andi menuruti perkataan kedua sahabatnya. Andi mulai menatap dari kejauhan gadis yang ia cinta yang sedang duduk di taman. Haruska aku ungkapkan perasaan ini kepada Tenri ucap Andi seraya memegang dadanya yang deg-degan sehingga mempercepat tempo detak jantungnya.

Di depan Tenri yang sedang duduk membaca, Andi meminta izin untuk duduk di sampingnya.

Boleh aku duduk disini kata Andi dengan nada rendah. Boleh, silakan saja ucapannya biasa saja. Andi pun duduk dan mengambil napas dalam-dalam dan mulai berbicara.

Tenri, aku ingin jujur padamu, sebelumnya aku telah merangkai kata-kata sedemikian rupa, tapi setelah berada di dekatmu kata-kata itu hilang entah kemana? Aku tak mengerti kapan, dimana, dan apa yang membuatnya ada. Hal ini adalah anugerah dari ilahi untuk setiap insan, yaitu cinta.

Sebagai wanita, barangkali kau sudah memahami maksudku ya...., atas dasar iman aku mencintaimu. Namun aku juga tak mengharapkan mu membalas tepukan rasaku ini, karena pada hakikatnya ku tahu, mungkin sosokku cukup bertolak belakang dengan doa yang kau panjatkan.

Sekali lagi..... atas dasar iman aku mencintaimu. Karena kau wanita yang cantik paras dan hati yang kutemui setelah ibuku. Ku mohon jangan membenciku setelah ini. Aku tak ingin ada status diantara kita, karena tujuanku hanyalah melepaskan sengsara di hati dan pikiranku akibat rasa yang ingin diungkapkan.

Tapi sejujurnya aku butuh jawabanmu, cinta atau tidakkah engkau padaku, itu adalah antara hidup dan matiku dalam memperjuangkanmu dan aku jamin kau tidak akan bahaya jika pun kau menggelengkan hati detik ini.

Tenri mendengar kata-kata Andi secara seksama kemudian membalas perkataannya.

Ku tahu walaupun kehadiranmu baru beberapa saat tetapi dapat mengubah hidupku sembilan puluh derajat. Mungkin kau terlalu berlebihan tentangku, dan aku tak menyangka kau mencintaiku, dan hari ini kau mengungkapkannya padaku.

Kau adalah laki-laki pertama yang mengungkapkan perasaannya padaku, tetapi tak lantas aku menerimamu, ku tak ingin nafsu yang menjawab perasaanmu. Aku akan menjawab pertanyaanmu tapi tidak sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir. Kurasa sebagai laki-laki kau mengerti perasaanku. Setelah Tenri berbicara kemudian memberikan kesempatan kepada Andi untuk berbicara kembali.

Ku tak apa bila kau tak menjawabnya sekarang. Tetapi lewat kata-katamu, aku sudah mengerti isi hatimu. Namun aku tak menjamin perasaanmu tetap sama padaku, karena Allah Maha Pembolak-balik Hati. Mendengar perkataan Andi, Tenri pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai menjauh.

Ketika Tenri benar-benar tak kembali lagi, Wawan dan Reza menghampiri Andi. Bagaimana bro reaksi Tenri? ucap Andi sembari menepuk pundak Andi. Bagaimana apanya? Aku tak mengerti apa yang terjadi barusan! Seperti ada sesuatu yang mendorongku melakukan ini.

Udah bro, sesuatu itu adalah jiwamu sebagai seorang pemuda bugis yang pemberani, lanjutkan perjuanganmu mengejar cinta Tenri, dan ingat jangan ada nafsu di dalam perasaanmu ucap Reza menasehati.

 

Penulis: Ermin Ma, mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP UNM, aktif menulis di KOMPASIANA, dan sering terlibat dalam gerakan-gerakan literasi kampus. Sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan (HIMATEP FIP UNM).

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.