Wed, 28 Feb 2024
Cerpen / Dec 27, 2020

Perjalanan Dinas Si (Yang) Kolot dan Bebal

Pengembaraan di mulai sejak awak parlemen giatnya mempesona. Ruwet rasanya ketika hendak melangkahkan kaki di gerbangnya, bagaimana tidak perkara desa yang betul remeh-temeh itu dianggap kalang kabut. Kalau begitu absurd kan, tanyaku ?

Mending, kita kongko-kongkoan di teras kumal sampai kepalamu betul bebal dan saya akui diriku kolot juga.

Singkatnya; Ketika hendak bepergian mengendarai kendaraan mewah dengan nomor plat 1 rasa-rasanya saya tidak bermimpi tentang wajah dongkol mengarah ke mobil saya. Baiklah saya (kolot) dan si bebal pasrah saja.

Ketika kami melalui jalan Trans Sulawesi tepatnya jalan Poros Palopo-Siwa tidak banyak jalan berlubang menghantam ban mobil dinas punya saya, rasanya oleng juga macam dihantam gelombang tsunami kecil dari arah timur. Tadinya si bebal tertidur pulas dan pada akhirnya terbangun seketika lantaran guncangan dasyat ini.

Bebal : ini sudah di mana Pak ?
Saya : kab. Luwu adinda
Bebal : jalannya serasa kita sedang berada dalam pelosok kaki gunung latimojong, ujar bebal sambil cengengesan.

Sebelumnya saya dan Bebal sudah pernah datang di Kab. Luwu dengan maksud meninjau perusahaan tambang yang ada di pelosok Kab. Luwu ini, waktu itu kami hendak membantu pemilik perusahaan untuk pembebasan lahan.

Makanya pada kesempatan ini pula kamu sedikit menganalogikan kondisi jalan di pegunungan dengan jalan Trans Sulawesi, yaa, tidak menutup kemungkinan Perjalanan ke depannya bisa jadi lebih parah lagi jalannya. Bagaimana tidak, sudah sekitar satu jam perjalanan kita belum manjakan ban mobil dinas ini.

"Aduhh, ini masalah, masalah ini" tegas Bebal.

Sayapun dengan tegas menjawab pernyataan bebal "iyo" (kata iyo adalah sebuah pernyataan sikap yang senada dengan kata Iya, hanya saja Kata Iyo dalam pandangan orang Sulawesi mengandung kurang sopan dan bisa jadi kata tersebut juga bentuk keakraban seseorang)

Seketika bebal pun tertawa sambil menghembuskan asap rokoknya tepat ke wajah saya, sontak saya tertawa melihat kelakuan bebal yang makin bebal saja.

Setelah gurauan tadi usai tiba-tiba bebal diam sejadi-jadinya, tahu-tahu ia sedang main Hp, hehe

Kebiasaan banyak orang jika termangu lama di depan layar Hp akan memberikan rasa lelah dan efek kantuk tentunya. Pada akhirnya bebal pun tumbang (ngorok)

"Woi kolot barusan saya bermimpi bro" tegas Bebal kepada saya ! "Ngomong-ngomong ini mimpi buruk atau yang baik-baik saja yah ?" ucap Bebal.
"Memangnya kamu mimpi apa, ada-ada saja kamu ini" ujar saya.

Jadi bebal memimpikan ayahnya yang sudah meninggal sejak ia masih kuliah. Rasa haru yang amat dalam susah dikendalikan waktu itu, sayapun merasakan hal demikian, berhubung bebal sahabat karib saya sejak duduk di bangku kuliah.

Bunga tidurnya begini:

"Ia di hampiri mendiang ayahnya dan berkata, waktunya kamu nikah nak. Berulang kali kalimat tersebut mendengung dalam telinganya"

Saya pun menjawab dengan santai, yaa nikahlah!

Iyapun hanya diam membatu dan kembali menutup matanya, mungkin bebal berharap agar di mimpi selanjutnya mampu menjawab sebuah pertanyaan yang semacam terngiang ngiang di kepalanya. Belum lama saya bercerita dengan bebal Seketika handphone saya berdering, pertanda pesan baru saja masuk.

Kabar dua kawan dari senayan melalui pesan singkat Apk Whatsapp. Beliau2 ini berketik "kondisi senayan saat ini tidak membuat saya resah. Tidak seperti kalian yg melakukan perjalanan dinas haaahaha"

Rasa-rasanya saya cukup lama bertahan pada periode ini, selama ini anjuran para praktisi ulung saya patuhi.

Lain halnya dengan kawanku yg ikut serta seminar kenegaraan. Bersamaan waktu perjalanan kami, dia sedang ikut seminar kenegaraan. Dalam pemaparan seminar itu terkait issue proyek lahan gambut sekian juta Hektar. "ketika sawit dan sawah telah usai, dalam artian tidak seperti pada masa orba yg hanya mencetak melainkan tak melanjutkannya, malah bekas tebangan saja yg tersisa tanpa ada efek yg nyaman dibuatnya, hingga lahan seluas kala itu jadi penyakit bagi flora dan fauna.

Jadi ketika dua bahan pokok ini clear, kakanda mewacanakan untuk fokus bercocok tanam pada wilyah ; kakao, pala, dan satunya saya lupa wkwkw.

Iya, baru saja saya terkekeh-kekeh, ada yang masalah? (Anganku aktif)

Hemm, gass poll lagi menuju tujuan utama untuk melihat keadaan sekitar!

"Suatu saat nanti di tempat yang tidak terencana saya berupaya untuk bertemu seorang perempuan yang ku puja, namun saya belum kenal lama. Ketika keadaan itu telah usai, maka sesegera mungkin saya ingin berkunjung ke rumah orang tuanya. Belakangan ini kadang kala saya ingin merasa risih duduk berjam-jam dan berhari-hari lamanya dengan si bebal, kenapa tidak?

Beliau ini kan lelaki biasa yang bekerja untuk menafkahi orang tuanya, sedangkan saya selaku kolot juga berupaya keras untuk melakukan hal demikian. Demikianlah kita seorang lelaki yang hanya mengandai-andai tentang nasib yang makin kalang kabut" anganku aktif!

Dung dang ding 3x (telefon berdering)

Panggilan dari ibu jiwa mengharuskan saya hentikan imajinasi yang baru saja ku bangun. Ibu jiwa adalah orator ulung yang saat ini mengambil program S2 nya dengan jurusan yang sama sejak menyelesaikan S1 nya (psikologi).

Senda guraupun tentu menjadi kebiasaan ketika saling telfonan, selain itu ibu jiwa sedikit menanyakan hasil perbincangan kami setelah bertemu Bung Besar pada rapat yang telah di tugaskan kepada kami, singkatnya seperti ini;

"Setelah pamit di ruang pola pemerintahan, Bung Besar lebih awal beranjak dari kami. Demikianlah romansa mahligai!

Si bebal dan saya (kolot) yang berjam-jam menempu perjalanan dinas nyatanya di temui perkara sulit. Benar dugaan si Kumuh, kalau menetap di senayan lebih menterang ketimbang berkinasih kepada kaum proletariat"

Dengan tegas dan tak berbelit-belit, ibu jiwa pun menjawab "oh begitu" Jadi ia tidak terlalu mendalami hal tersebut, jelasnya berbicara melalui telefon kurang jelas, "asyiknya lagi ketika saling temu dan tak lupa dengan wejangan kopi yang strong, Hmmm" anganku aktif lagi !

Perempuan yang tidak biasa-biasa ini cukup kuat dalam mengkaji problema keperempuanan, sehingga tidak jarang kamerad mahasiswa mengajaknya sebagai narasumber dalam kajian ataupun seminar.

Sekitar 5 menit sebelum menutup telefon iya pun mengeluarkan quote-qoutenya, tentang pandangannya terkait feminisme.
yaa kalau tidak salah ini bagian dari feminisme;

"Aku hanya ingin merokok tanpa ada diskriminasi gender. Merokok adalah hak semua orang, tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai moralitas seseorang" (St. Mutthmainnah/ibu jiwa)

Demikianlah perempuan yang baru saja berucap santun denganku tepatnya di mobil dinas ini.

Aku lebih meragu kepada perempuan yang selalu bergelimang kecantikan karena hanya dari gambar saja, perempuan natural dan kokoh dalam memperlihatkan eksistensinya lebih besar untuk ku upayakan dan mungkin bebal yang sedari tadi memimpikan ayahnya, ini malah menjadi penguatan bagi saya untuk melepas masa lajang. Hemmmm

Sekali lagi; Kini aku tidak gila karena kecantikanmu (wanita) melalui beragam tipu muslihat camera. Kini aku lebih setia dengan segudang angan dan kawanan kata yang belum ku temui.

Walau ke duanya tengah bertandang, adakalanya aku sedang berusaha menyingkap tabir dari kesederhanaanmu.

 

Penulis: Kumal Katip.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.