feature-top

Kupikir pertemuan itu adalah momentum untuk menuntaskan rindu dalam diri, mengenang kembali kenangan-kenangan lampau yang sempat terkubur di tengah padatnya kesibukan dunia. Tetapi apalah kenyataannya, bukber puasa Arafah tahun ini yang sebelumnya kudamba-dambakan – yang sebelumnya amat kunanti-nantikan… berujung pada kekecewaan.

Aku tahu semua bakal berubah seiring waktu berjalan, mengingat sudah beberapa lama sejak kita lulus dari kampus itu. Tapi jujur saja, sulit rasanya mengamini perubahan drastis ini, aku belum siap. Lagipula nasib kita tidak sama, ada manusia berhidung tinggi yang dengan bangga menceritakan kesuksesan pekerjaannya di tengah acara.

Atau mungkin dia yang memamerkan kemasyhurannya dihadapan insan proletar nan tersisihkan sepertiku. Pencapaian-pencapaian itu menarik perhatian khalayak untuk mengajak orang-orang itu berbicara, tentunya dengan berbagai kepentingan.

Aku – dan pastinya beberapa temanku yang merasakan hal sama – merasa kurang nyaman dengan suasana ini. Harapku reuni lewat buka puasa bersama ini diadakan untuk menjalin tali silaturahmi dan mengenang momen nostalgia lampau, namun semua itu pupus seketika oleh ajang pamer yang terlampau toksiknya.

Sebenarnya tidak masalah orang-orang seperti itu memamerkan pencapaian dan kesuksesan mereka, akan tetapi keadaan tidak sehat demikianlah yang justru malah membuat kita mengabaikan esensi kepedulian dan kebersamaan. Tergantikan fokusnya hanya kepada mereka yang bernasib elok, sedangkan orang-orang yang nasibnya kurang beruntung… jangankan disapa. Masihkah mereka dianggap sebagai manusia? Keberadaan mereka sejatinya seperti tidak ada sama sekali di reuni kali ini. Termasuk diriku.

Tunggu, aku tidak menutup ceritaku sampai di sini. Jika iya dapat disimpulkan lebaran tahun ini cukup tak berarti. Padahal momen menyenangkan tersebut datang beberapa waktu setelah diriku salat Magrib kemudian pamit dari acara bukber itu terlebih dahulu. Ketika aku lebih memilih melanjutkan buka puasa di angkringan, tiba-tiba dua teman lamaku datang. Hilal dan Farrel, ternyata mereka juga memilih meninggalkan acara bukber tadi. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan mereka meski satu kota. 

“Lha, kalian kenapa di sini?” tanyaku terheran-heran. 

“Nasi sama susu jahe pak,” pesan Hilal, ia kemudian menatapku. “biasa… ajang pamer. Ngapain juga ke bukber tadi, aku masih punya kegiatan yang lebih bermanfaat timbang dengerin ocehan mereka.”

“Bener banget.” Farrel duduk di sebelahku sambil menyantap gorengan. “Kamu gimana, Ghufron? Kok cabut juga?”

Aku menjawab. “Ya aku mau pergi atau tetap di sana sama aja kek nggak ada. Mending pergi sekalian ya kan.” 

“Hahahah, dari dulu kita sefrekuensi!” ujar mereka berdua sambil terkekeh penuh ironis.

Siapa sangka angkringan menjadi tempat pertemuan kita. Di tongkrongan tersebut, kami tidak membahas soal pekerjaan apalagi pencapaian. Murni, aku, Hilal, dan Farrel membicarakan kenangan lama semasa kuliah. Dari tergelak oleh khayalan bodoh yang biasa kami lontarkan selepas jumatan, sampai momen terlambat masuk kelas karena kelolosan tidur di kost Farrel.

Saling hujat jomblo-jombloan dengan gurau, padahal kenyataannya sampai sekarang kita bertiga membujang. Serius, momen inilah yang paling kunanti-nanti. Kita berbagi kenangan dan keceriaan… aku bersyukur dapat bersua bersama kalian di sini, masih di kota yang katanya istimewa.

Di tengah suasana gelak tawa, Hilal merangkul aku dan Farrel. “Hei, besok ayo solat Ied bareng. Habis itu malamnya kita bakar sate di kontrakanku! Ya kali kita kumpul cuma di sini aja, mumpung lagi libur bisa lah.”

Aku dan Farrel saling menatap kemudian serempak mengangkat tangan dengan penuh semangat. “Gassss!!!!”

Akhirnya aku merasakan suasana malam yang sama dengan hal yang dinostalgiakan. Begadang semalaman di kontrakan Hilal sambil bermain Gartic Phone – ya, sebuah game seru di mana kita saling menggambar dan menebak gambaran masing-masing. Pastinya Hilal dan Farrel menggambar orang-orang sekitar dengan kocak sehingga kelucuan juga keseruannya membuat kami lupa sebentar lagi sudah memasuki waktu subuh, cepat sekali. Lalu, hal biasa seperti salat Subuh berjamaah pun merupakan momen terkenang bagiku, sebuah kesempatan nan rancaknya patut untuk disyukuri.

Baru kemudian ketika khutbah sehabis salat Ied berlangsung pada pagi hari. Seperti biasa dari dulu sampai sekarang, aku dan Farrel serempak menggeser-geser Hilal yang sedang mengantuk berkali-kali agar dia tidak kelolosan tertidur pulas di sana. Lihatlah muka masam kita bertiga yang tidak sadar umur bermain perosotan di taman bermain dekat masjid.

Atau tengok bagaimana keributan Farrel dan Hilal di rental PS ketika mereka memainkan game bola, pokoknya hari itu kami melakukan aktivitas-aktivitas yang dulu pernah kami lakukan sambil menunggu waktu malam tiba.

Sampailah malam datang. Hidangan lezat sekian potong sate yang sudah dibakar berada di depan mata. Semerbak aroma daging bercampur bumbu-bumbu khas itu semakin membuat perut ini keroncongan. Bolehlah pertemuan ini sangat singkat atau mungkin bagi orang lain biasa saja. Yang jelas, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan momen kebersamaan yang telah dianugerahkan Allah. Bagiku, inilah persuaan sesungguhnya tahun ini.

Selamat Idul Adha dan selamat makan sanak-sanak semua. Terima kasih banyak.

 

Penulis: Muhammad Shalahuddin Al Ayyubi, mahasiswa Universitas Islam Indonesia. Dapat ditemui melalui instagram @ambros_ma