Sat, 13 Apr 2024
Cerpen / Aug 23, 2023

Sembah Akhir Tahun

Segala menu untuk tahun baru sudah disiapkan. Kudapan ringan hingga lauk beragam ikan. Air basuh tangan sampai bermacam minuman. Warga Dusun Lorderesan berdatangan dengan ritme sedang. Tentu setelah selesai pekerjaan ladang dan membersihkan tempat tinggal.

Halaman Wak Doyo sesak dengan tingkah anak-anak. Saling kejar tak terpantau orang tua. Sandal digunakan senjata, lato-lato sebagai alat unjuk gigi. Para orang tua bercakap, ramai di langit hitam berhias bintang. Lepas sudah lelah yang dirasakan sewaktu memikul beban di bahu. Tawa selingan mengiringi percakapan. Lupa dengan simbah masalah di rumah.

“Kasihan sekali umat-Mu, Tuhan,” seru Jarman, seorang gila dari dusun sebelah. Rambutnya kumal tak terjamah wangi sampo.

Dia duduk di bawah tiang listrik seberang rumah Wak Doyo. Datang tiada beralas sehingga kapal di kakinya sedikit terkelupas. Orang-orang tak mengindahkan kedatangannya. Hanya beberapa mata yang memperhatikan, lantas membuang pandangan, kembali tenggelam dalam obrolan.

Jarman bangkit, kulit legamnya tersentuh sinar lampu yang menyorot tajam. Dia mengambil batu, memukulkannya ke tiang listrik. Berulang-ulang. Suara bising dan pekak segera ditangkap oleh telinga orang-orang. Mata-mata kesal menatap ke arah Jarman. Anak-anak menghentikan permainan. Namun begitu Jarman tak serta-merta menghentikan perangai.

“Berisik sekali kau.” Wak Doyo menuju ke arah Jarman. Berkacak pinggang. Tak tahan dia dengan kelakuan Jarman.

Wong koclok. Pergi atau kulempar dengan sapu!” Wak Cikal mengangkat sapu tinggi-tinggi, mengancam.

“Kasihan sekali umat-Mu, Tuhan. Lupa mereka kepada-Mu. Tak melihat keadaan sekelilingnya. Pongah mata fisik dan buta mata hati. Sungguh maafkan aku, Tuhan. Aku telah membiarkan mereka bersukacita sementara ada tetangga yang tengah berduka.” Lantang suara Jarman berkata. Menimbulkan bias pertanyaan yang membekas.

Orang-orang saling beradu pandang. Mana paham mereka dengan omongan orang gila. Orang waras pun kalau tengah berkeluh tak pernah diperhatikannya. Mereka hanya mafhum kalau orang gila itu suka ngawur dengan tuturannya yang tak teratur.

“Maksud kau apa, heh?” tanya Wak Doyo.

“Kita tinggalkan saja wong koclok ini di sini. Buat onar saja. Kemarin kata orang di dusun sebelah, dia memukul bedug sebelum siang bolong, waktu azan pun belum tiba. Mengganggu pekerjaan di ladang,” seru Wak Cikal.

“Oh, aku ingat. Kau yang teriak-teriak di speaker masjid jam satu dini hari lusa lalu. Kau mengusik waktu istirahat. Sudah gila tak tahu adab.” Yu Minah masuk dalam pembicaraan. Ikut kesal melihat Jarman.

“Dari dulu yang namanya wong koclok ya tidak punya adab, Yu.” 

Tawa orang-orang pecah oleh kalimat Wak Cikal. Tak tahu benar orang-orang itu. Jarman memang dengan sengaja memukul bedug di kala matahari mencorong untuk mengingatkan bahwa waktunya rehat dan beribadah. Tak perlu terlalu lelah di ladang. Mana tahu mereka tentang isyarat orang gila. Niat hati ingin membangunkan tidur malah dianggap tak punya budi luhur. 

“Tuhanku yang Maha Pemberi. Engkau bisa mengasihi mereka dengan rezeki yang tak berseri. Tetapi mereka tak kuasa menahan rasa congkaknya. Beras dijadikannya emas. Baju celana seolah permata. Pantaskah mereka semua mendapatkannya hingga lupa bahwa ada insan yang tengah berduka. Oh maafkan, Tuhan.” Suara Jarman nyaring, mendayu.

“Kau tidak makin sembuh malah bertambah gilamu,” tukas Wak Doyo.

“Dasar cengoh. Rasain nih!” Wak Cikal melemparkan sapunya. Tak tahan dia mendengar Jarman yang terus menceracau.

Jarman tak bergeming. Dibiarkannya sapu itu menghantam badannya. Sekeras apapun hantaman yang dia dapat, tetap tak menggoyahkan tumpuannya. Orang-orang mulai mengerubungi Jarman. Anak kecil pun dalam gendongan ibunya. Mereka menganggap orang gila seperti wahana di tempat pariwisata.

“Engkau lebih berkuasa atas tiap-tiap umat-Mu, Tuhan. Engkau jadikan hakikat manusia kembali kepada-Mu. Betapa sayangnya Engkau kepada tiap-tiap insan ketimbang orang-orang yang mengaku berperasaan. Tak memperhatikan tetangga, lebih mementingkan suka cita. Lantas orang-orang ini malah abai kepada saudara sendiri. Tak tahu diuntung, merasa paling beruntung.

“Kini Malaikat-Mu telah datang, Tuhan. Ia hanya menjalankan tugas yang Engkau berikan. Selanjutnya diriku yang akan menunggu panggilanMu. Betapa takutnya diriku sekarang. Diri ini lebih buruk dibanding apa pun. Bahkan seekor semut lebih baik perangainya ketimbang hamba-Mu ini. Ampunilah, Tuhan.” Jarman kemudian duduk bersimpuh di bawah tiang. 

“Siapa yang kau maksud tetangga, heh?” Wak Doyo bertanya sinis.

Jarman termenung. Kalimat-kalimat renungannya tak keluar lagi. Hanya angin malam yang mengusap pelan dan sinar lampu yang menembus celah kerumunan. 

“Oh, aku tahu. Tetangga yang kau maksud Mak Yani yang terbaring sakit? Kau salah besar, Orang Gila. Aku kemarin ke rumahnya dan kata anaknya, Mak Yani sudah membaik. Kalau kau tak percaya, silakan jenguk sendiri. Atau kita buktikan saja. Kalau omonganmu salah, enyah kau dari dusun ini!”

Yu Minah bergegas ke rumah Mak Yani. Tidak jauh. Enam rumah dari rumah Wak Doyo. Suara-suara gaduh segera terdengar. Orang-orang menganggap omongan Jarman hanya bualan. Tetapi beberapa orang khawatir tentang apa yang dikatakan Jarman akan menjadi kenyataan. Mereka yang khawatir akhirnya menyusul Yu Minah ke rumah Mak Yani.

“Hei, hei, kalian mau ke mana? Jangan dengarkan omongan wong koclok ini.” Wak Cikal menahan orang-orang yang mengikuti Yu Minah. “Hei, kau jangan menyebar berita burung di dusun ini. Jangan membuat omonganmu semakin tidak pantas dengan kehadiranmu.” Wak Cikal menunjuk Jarman.

Hening kini menyelimuti Jarman. Membiarkan hinaan menerobos kupingnya. 

“Heh, mengapa kau diam saja sekarang? Hahaha ... Kau sudah kehabisan kata-kata rupanya. Mana kalimatmu yang sok suci itu? Lenyap begitu saja. Ah, iya aku lupa kau wong koclok. Lihatlah kau tak bisa berkata-kata lagi. Tandanya kau berbohong,” ejek Wak Doyo sembari menendang-nendang kaki Jarman.

Orang-orang perlahan meninggalkan kerumunan. Sempat lupa mereka bahwa tengah menanggung lapar. Tinggal menunggu waktu mereka menggilas segala kudapan yang sudah dihidangkan. 

Dari kejauhan, Yu Minah berlari kecil. Datar dan pucat wajahnya. Tak seperti tadi yang dengan entengnya menghina Jarman. Sayup-sayup dia berteriak dengan suaranya yang bergetar, “Mak Yani sudah enggak ada. Mak Yani sudah enggak ada!”

Seketika kerumunan tercekat. Mereka tidak salah dengar. Mata mereka sekejap menohok Jarman untuk kemudian berlari ke rumah Mak Yani. Sementara Jarman terlihat meneteskan air mata. Bukan hanya untuk Mak Yani, melainkan untuk dirinya sendiri. Hanya soal waktu malaikat mengambil nyawa yang dititipkan di raganya.

Wak Doyo memandang Jarman dengan perasaan dongkol. Dia lantas ikut berlari ke rumah Mak Yani. Lupa mereka bahwa di saat yang bersamaan suara petasan tahun baru dari kejauhan sudah terdengar.

 
 
Penulis: Rizky Hadi, menyelesaikan pendidikan di Fakultas Tarbiyah UIN Tulungagung. Buku pertamanya berjudul “Kisah Orang Tak Bertanggal” yang dirilis tahun 2022. Bisa menghubungi lebih lanjut di Instagram @rizkihadi_24.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.