Mon, 24 Jun 2024
Cerpen / Mar 09, 2021

Terjebak Friendzone: Ternyata Dunia Memang Suka Bercanda

Ada saja manusia-manusia istimewa yang lahir dan tumbuh di muka bumi. Entah menjadi istimewa karena berhasil menghadirkan nyaman atau istimewa karena berhasil meninggalkan kecewa. Intinya, pasti akan selalu ada manusia-manusia yang seperti itu.

Aku selalu punya pertanyaan, mengapa ada persoalan patah hati? Ternyata, dunia memang suka bercanda. Bukan hanya perkara patah kaki dan tangan, tapi juga patah perasaan yang tidak berwujud. Namun, kenapa persoalan patah hati selalu muncul, padahal banyak ruang yang mampu memberi kebahagiaan.

Dan aku masih punya pertanyaan, mengapa selalu ada rasa yang tidak pernah terbalas? Padahal banyak manusia yang setiap saat jatuh cinta. Dan pertanyaan terakhir adalah apakah sebuah rasa adalah sebuah permainan? Padahal, ada saja keseriusan yang berujung pernikahan.

Hingga akhirnya, aku sadar bicara soal cinta adalah kerumitan yang tidak terselesaikan. Akan selalu lahir manusia-manusia yang memberi harapan kemudian menghilang, akan selalu muncul istilah Pemberi Harapan Palsu, Friendzone, Hubungan Tanpa Status, dan semua istilah yang selalu punya makna sama. Tinggal bagaimana, perkara hati yang patah meresponnya agar berjalan baik-baik saja.

Namun, apakah hanya perempuan yang merasakan istilah tersebut? Dan aku menjawab, jika tidak hanya perempuan, banyak laki-laki di luar sana yang menjadi korban. Bicara tentang laki-laki dan perempuan yang saling terjebak dengan istilah makna semu. Istilah yang menyeret pada zona tidak aman, dengan dukungan alasan nyaman. Dan, saat ini banyak manusia yang terjebak di istilah asing yang tak bermodalkan kepastian.

Kota Hujan, 2017.

Ini adalah kali pertama Fiela kembali ke kota kelahiran, setelah tiga tahun menetap di Singapore. Kepulangan Fiela ke Bogor bukan tanpa alasan karena biasanya mama papa selalu mengunjungi Singapore satu tahun sekali. Kali ini, Fiela pulang untuk menjemput kepastian. Kepastian yang sudah di nanti selama dua tahun terakhir.

Bukan hal yang mudah untuk menjalani Long Distance Relation antara Bogor dan Singapore. Bukan hanya beda kota, tapi juga beda negara. Ketika kepulangan Fiela disambut oleh pernikahan 15 hari lagi, Fiela teringat akan pertemuan awal hubungan yang dia sebut tidak mudah.

Dua tahun lalu, ketika Fiela menjadi mahasiswi Fashion Design di Lesalle College of the Arts, Singapore, Fiela bertemu Aksa, Aksadevan Mahendra untuk pertama kalinya melalui Zayyan. Fiela dan Zayyan adalah teman baik, semenjak SD, SMP, SMA dan selalu berada di lingkungan yang sama. Sedangkan Zayyan dan Aksa adalah teman semasa kuliah di pendidikan Kedokteran. Saat itu, Zayyan memperkenalkan Fiela dengan Aksa.

Ternyata, remaja memang mudah jatuh hati, Fiela dan Aksa memutuskan untuk berpacaran setelah enam bulan saling mengenal. Hubungan LDR itu dimulai ketika Fiela kembali ke Singapore untuk berkuliah setelah menjalani libur semester. Dan akhirnya, waktu menjadi begitu amat berharga ketika seseorang merindu. Bahkan jika tidak berhati-hati, rindu bisa mengoyak hati tanpa temu.

Zayyan Arsalan, nama panjang yang sering Fiela panggil Zay. Bahkan, rumah Fiela dan Zay hanya berjarak lima rumah. Saking dekatnya, orang-orang sering melihat mereka sebagai adik kakak, padahal Fiela adalah putri sekaligus anak satu-satunya.

Ketika pertama kali bertemu dengan Aksa, Fiela datang bersama Zay. Saat itu, Aksa beranggapan jika Zay adalah kakaknya Fiela. Fiela menjelaskan dengan rinci bahwa, Zay adalah sahabat terbaiknya. Ternyata, pertemuan itu tidak terjadi tanpa sebab.

Aksa meminta Zay memperkenalkan dirinya kepada Fiela, yang saat itu dianggap sebagai adiknya Zay. Karena saking dekatnya Zay dan Aksa, dia pun menerima permintaan Aksa tanpa banyak syarat. Namun, hari pertama perkenalan itu adalah hari patah hati terpanjang bagi Zay.

Bukan hanya persoalan tentang keberhasilan Aksa yang telah merebut hati Fiela, namun juga keberanian Aksa untuk meminang putri semata wayang itu. Harapan Zay tenggelam di tengah meriahnya pesta pernikahan Fielarisa Ankara dan Aksadevan Mahendra.

Persahabatan masa kecil yang berbuah menjadi perasaan ternyata berakhir dengan kesedihan. Hari itu, Zay memberikan senyum yang paling bahagia untuk sahabatnya, sekaligus perempuan yang dicintai. Meskipun, hari itu adalah hari patah hati untuk Zay.

Hari patah hati itu adalah titik kesalahan Zay. Dia tidak pernah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dia yang menyetujui permintaan perkenalan antara Fiela dan Aksa, meskipun dia tahu banyak kemungkinan terburuk terjadi baginya.

Dia yang merasa semua baik-baik saja saat mendengarkan kisah cinta sedih dan bahagia Fiela. Dan dia yang memutuskan untuk mengubur semua harapan tentang Fiela dan memilih untuk mencintai dalam diam.

Sekarang, bukan lagi soal perasaan yang tak terbalas atau hubungan tanpa status. Namun, ini persoalan rasa yang terjebak dalam ikatan pertemanan. Mungkin, dengan menyimpan perasaan tanpa memberikan notifkasi adalah hal yang paling baik untuk menjaga pertemanan.

Meskipun perasaan itu berakhir tidak dengan baik-baik saja, namun cinta bukan tentang kepemilikan. Justru, melihat orang yang dicinta hidup bahagia dan baik-baik saja adalah penyembuh luka bagi hati yang patah.

Teruntuk manusia-manusia yang sedang jatuh hati, pesanku hanya satu: “Tolong, jangan jatuhkan hati pada hati yang sekiranya tidak mampu untuk membalas. Karena berharap yang tidak sesuai kenyataan adalah tamparan yang paling menyakitkan”. 

 

Penulis: Elys Krisdiana, mahasiswa Universitas Islam Indonesia

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.