feature-top

‘When I was young, I used to think that wealth and power would bring me happiness … I was right.’ ~ Gahan Wilson.

Kutipan diatas mungkin sangat jenaka bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lain mungkin benar adanya dan sebagian yang lain merasa tidak benar adanya. Pertanyaan dasar terkait uang dan kebahagiaan memang sudah lama sering kali dikaitkan. Lantas, apakah uang benar berkaitan dengan kebahagiaan?

Data yang dilansir dari BPS tahun 2021 menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pendapatan diatas Rp.7.2 juta adalah yang paling bahagia. Laporan yang terkait Indeks Kebahagiaan itu juga menunjukkan bahwa semakin rendah pendapatan yang dimiliki maka persentase nilai kebahagiaan juga semakin rendah. Artinya, uang dan kebahagiaan berjalan secara beriringan.

Teori sebelumnya mengatakan bahwa kebahagiaan dan pendapatan yang diperoleh memiliki batas atas. Artinya setelah melewati batas atas itu, seseorang tidak akan merasa bahagia lagi. Batas atas itu berada pada angka Rp.1,1 Miliar/tahun. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Killingsworth tahun 2021 menunjukkan bahwa kebahagiaan akan tetap meningkat walaupun pendapatan seseorang telah melewati Rp.1,1 Miliar/tahun. Namun, apakah uang hanya memiliki dampak positif?

Guna menguji itu, dikenalkan sebuah istilah money priming. Sebuah prosedur eksperimen yang dikenalkan pertama kali pada tahun 2006 oleh Kathleen D. Vohs. Dalam penelitian yang berjudul The Psychological Consequences of Money menunjukkan bahwa orang yang mengingat tentang uang akan membuatnya menjadi lebih mandiri dan fokus kepada diri sendiri (self-centered). Bahkan menganggap orang lain memiliki perilaku yang sama dengan dirinya. Akibatnya, orang akan tidak peka terhadap sosialnya. Perilaku yang muncul adalah cenderung tidak menolong orang lain.

Pfeffer dan DeVoe dalam penelitiannya Economic Evaluation: The Effect of Money and Economics on Attitudes About Volunteering menunjukkan bahwa cukup dengan membaca kata yang berkaitan dengan uang, seperti modal, gaji, finansial, kesejahteraan, dapat membuat orang menjadi egois, terlihat dari ketidak-sediaannya untuk menjadi sukarelawan. Penelitian pada tahun 2009 itu mungkin tidak relevan dengan Indonesia, faktor budaya pada responden penelitiannya, yaitu Amerika Serikat.

Namun, penelitian Savani, Mead, Stillman, dan Vohs tahun 2016 menunjukkan bahwa uang membuat orang juga cenderung egois dan individualis bahkan mengurangi moral seseorang untuk menolong. Penelitian yang berjudul No Match for Money: Even In Intimate Relationships and Collectivistic Cultures, Reminders of Money Weaken Sociomoral Responses dilakukan di India yang memiliki kultur kolektif. Artinya, dampak uang, mengurangi perilaku menolong seseorang, juga berlaku di budaya kolektif. Uang dapat memundurkan cita-cita bersama, yaitu kerja sama secara kolektif.

Melihat kondisi diatas, maka masa depan dapat dengan mudah diprediksi. Paul Piff dalam ceramahnya di TED tahun 2013 mengatakan bahwa salah satu kemungkinan yang paling besar terjadi adalah kesenjangan ekonomi, antara yang kaya dan miskin semakin melebar. Tentu saja dengan kesenjangan ekonomi maka pendidikan, kesehatan, angka harapan hidup, social trust, bahkan kekerasanakan sangat berpengaruh. Selain itu, dampak itu akan terjadi pada segala strata yang ada, jadi bukan hanya pada strata bawah yang mengalami tapi juga strata atas juga ikut terpengaruh. Lantas, apa yang dapat dilakukan?

Dalam ceramah yang berjudul Does money make you mean itu memberikan solusi, dorongan kecil yang membuat orang dapat mengubah nilai yang dianutnya, yaitu dengan mengingatkannya akan pentingnya kerja sama, kehidupan bersosial dan belas kasih. Paul Piff mengutip penelitian yang memperlihatkan orang kaya sebuah video pendek tentang childhood poverty, setelah itu mengukur kesediaan mereka untuk membantu orang miskin, dan benar adanya, orang kaya bersedia membantu mereka yang berada di bawah. Penelitian itu membuktikan bahwa cara itu cukup efektif untuk dilakukan.

Selain itu, dampak lain ditemukan ketika orang mengeluarkan uangnya untuk kepentingan orang lain. Penelitian yang dilakukan Carter dalam The Psychological Science of Money pada tahun 2014 menemukan bahwa orang yang mengeluarkan uangnya untuk berbagi kepada sesama, seperti berbagi makanan akan meningkatkan kebahagiaan.

Penelitian yang dilakukan Akin, Proulx, Dunn, dan Lok tahun 2020 untuk menguji penelitian sebelum terkait perbedaan kebahagiaan yang dialami pada orang yang mengeluarkan uangnya untuk orang lain yang membutuhkan dengan yang tidak mengeluarkan uangnya untuk orang lain. Penelitian tahun 2020 itu menggunakan metode eksperimen dengan jumlah responden yang lebih besar dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya.

Penelitian berjudul Does Spending Money on Others Promote Happiness? itu membuktikan bahwa mereka yang mengeluarkan uangnya untuk orang lain, dikenal dengan istilah prosocial spending, memiliki kebahagiaan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang hanya mengeluarkan uangnya untuk diri sendiri. Hal ini sejalan dengan kampanye hari kebahagiaan sedunia.

Setiap tanggal 20 Maret diperingati hari kebahagiaan sedunia. Hari kebahagiaan sedunia diperingati pertama kali pada tahun 2012 oleh PBB. Laman resmi dari International Day of Happiness melansir bahwa kampanye ini dilakukan oleh Non Government Organization yang memiliki tujuan untuk memberantas kemiskinan, mengurangi ketidaksetaraan, dan melindungi dunia untuk generasi mendatang. Tahun ini hari kebahagiaan sedunia mengambil tema Happiness for All Ukraine, guna merespon kondisi perang yang terjadi. Pada hari kebahagiaan sedunia ini PBB menyerukan melakukan aktivitas yang dapat membuat hidup lebih baik.

Seperti meluangkan waktu untuk mencatat dan menghargai apa harus disyukuri, habiskan waktu bersama orang terkasih dan cobalah perbaiki hubungan apa pun yang sedang mengalami masa sulit karena hubungan yang berkualitas sangat penting bagi kebahagiaan. Lebih lanjut, berjejaringlah dengan orang yang memiliki pemikiran yang sama agar tindakan lebih besar kemungkinannya untuk dilakukan, dan menjadi sukarelawan atau jika mampu untuk menyumbang serta berbagi untuk sesama.

Maka dari itu penulis mengajak kita semua untuk memperingati hari kebahagiaan sedunia. Tindakan kecil seperti berbagi ditemukan dapat meningkatkan kebahagiaan. Saat ini, secara makro kita mungkin akan memasuki era post pandemi. Pandemi layaknya seperti angin kencang yang bersamanya membawa segala yang dilewatinya, kita melihat begitu banyak orang di bagian bumi sebelah barat yang tidur di pinggir jalan, di Indonesia masih lebih mending, tapi angka pengangguran juga meningkat. Apakah dengan berbagi sebenarnya hanya membantu orang yang menerima bantuan? Penulis rasa tidak, karena setelahnya ada perasaan hangat menyertainya. Rasa yang hanya sang pemberi tahu seperti apa.

Mungkin memang benar dengan memiliki uang yang banyak akan menyelesaikan banyak pula masalah, tapi apalah arti ketika uang itu hanya untuk diri sendiri, apakah homo sapiens selamat karena proses egoism? Sejarah menyangkal itu. Kebahagiaan sejati mungkin benar adalah hal yang subjektif, tapi apakah kita tidak bahagia dengan melihat orang lain tersimpul manis bersamaan dengan ucapan terima kasih yang keluar dari mulutnya?

Selamat berbahagia!
Lakukan yang buat Anda bahagia!
Berbagilah ketika Anda punya lebih!

 
Penulis: Anshary, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Makassar