Sat, 13 Apr 2024
Esai / Sep 01, 2021

Corona dan Benturan Paradigma

Tahun 2021 adalah tahun penuh harapan. Pertama di dunia pendidikan, pembelajaran tatap muka rencananya akan dimulai kembali setelah sekian lama mengalami pergeseran ke dalam sistem digital dengan berbagai konsekuensinya. Kedua kabar gembira itu setidaknya datang dari Tiongkok dan Amerika Serikat yang telah menyelesaikan pembuatan vaksin covid 19 dan sudah siap mendistribusikan ke berbagai negara secara bertahap.

Tentu kedua kabar ini adalah hembusan segar di tahun 2021, terutama kabar kedua. Oleh karenanya harapan untuk segera keluar pandemi dan kembali menjalani kehidupan seperti pra pandemi mulai terasa pulih. Hal ini cukup beralasan mengingat sampai hari ini 92,6 juta manusia di dunia telah terpapar dan lebih dari 1.6 juta menjadi korban.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terdampak covid-19  secara  resmi telah mengimpor vaksin sinovac dari Tiongkok dengan berbagai kontroversi dan konsekuensinya. Rencananya vaksin itu akan diberikan kepada rakyat secara bertahap, dimulai dari Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 januari 2021 yang lalu.

Namun Hembusan segar itu ternyata tidak bisa langsung dihirup begitu saja mengingat pada pergantian tahun 2020-2021 kasus covid 19 ada potensi melonjak tajam. Airlangga Hartanto selaku Menko Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sebagaimana dilansir dalam detik.com mengatakan, bahwa berdasarkan pengalaman data yang ada, dia menduga akan terjadi kenaikan kasus sekitar 25%-30% hingga pertengahan januari.

Oleh karena itu pemerintah  menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM). Rencananya PPKM tersebut akan dijalankan mulai tanggal 11-25 Januari 2021. Tentunya kegiatan itu akan mengubah rencana yang telah disusun rapi di berbagai sektor, terutama sektor pendidikan dan ekonomi.

Dilematik Pembelajaran Daring.

Pemberlakuan pembelajaran tatap muka yang awalnya direncanakan tanggal 4 januari harus ditunda lagi karena serangan gelombang ketiga ini. Sehingga setiap siswa harus melakukan pembelajaran digital seperti sebelumnya. Sebenarnya kalau dilihat dari ketersediaan teknologi dan perkembangan zaman, model pembelajaran daring bisa dikatakan cukup relevan.

Penulis menduga bahwa siswa zaman sekarang hampir tidak ada yang gaptek. Sependek pengalaman yang penulis alami sebagai guru di MAN 3 Magetan, umumnya siswa di madrasah tersebut cukup mahir menggunakan ponsel, dan mengakses berbagai informasi yang tersedia di dalam internet.

Namun kaitannya dengan pembentukan karakter dan akal budi, model pembelajaran jenis seperti ini rasanya kurang optimal sebab, pemantauan yang dilakukan oleh pendidik akan mengalami hambatan dan tidak jarang para peserta didik lepas pengawasan baik dari guru, maupun orang tua.

Dapat dipastikan hal itu, dengan mengajukan pertanyaan dasar.  Berapa persen  kegiatan ponsel siswa digunakan untuk membuka konten positif?, berapa persen kegiatan ponsel siswa untuk mengakses konten negatif?. Tentu jawaban setiap siswa berbeda, namun jika diakumulasi, penulis yakin lebih banyak siswa yang aktivitas digitalnya cenderung tidak ada hubungannya dengan edukasi maupun pembelajaran yang ada di madrasah.

Internet memang telah merevolusi berbagai peradaban manusia dari mulai pola pikir sampai gaya hidup. Namun sayangnya mesin tetaplah mesin secerdas apapun mereka tetap saja tidak memiliki jiwa sehingga tidak akan pernah mengerti rasa kemanusiaan.

Hal ini tidak boleh terjadi pada manusia, meskipun siswa sekarang cenderung lebih kritis dan lebih cerdas. Sepandai apapun mereka, tidak boleh hilang rasa kemanusiaan, apalagi hilang jiwanya sebagai manusia. bukankah pendidikan memang dibentuk untuk membangun sumber daya manusia seutuhnya?, baik jiwa, akal, raga maupun keterampilan?

Lebih jelasnya bisa kita lihat dalam berbagai sisi dunia digital, sering sekali dijumpai buzzer maupun akun anonim yang komentarnya terkadang jauh dari sisi kemanusiaan dan seenaknya, bahkan tidak jarang memunculkan hoax, keresahan hingga menimbulkan konflik.

Tentu tidak ada satu pihak pun yang menginginkan salah satu dari siswa Indonesia menjadi bagian dari mereka dan terjadi dekadensi moral.  Hal inil yang melatarbelakangi para pendidik dan orang tua resah terhadap sistem pendidikan jarak jauh.

Ekonomi Belum Juga Pulih.

Harapan lain di Tahun 2021 adalah pemulihan ekonomi yang sempat mengalami resesi akibat pandemi covid 19 di tahun 2020. Namun sayangnya masyarakat harus sedikit lebih bersabar, mengingat potensi kasus terus meningkat di akhir 2020 dan awal 2021. Data statistik terakhir dari BPS yang dilakukan pada 10-25 Juli 2020 menunjukkan bahwa 8 dari 10 perusahaan mengalami penurunan pendapatan, sementara 19% dari mereka mengaku perusahaan hanya akan mampu bertahan selama tiga bulan, di sisi lain 7 dari 10 pelaku UMKM mengaku membutuhkan bantuan. sehingga tidak mengherankan kalau di penutupan tahun 2020 Negara Indonesia mengalami resesi ekonomi yang ditandai dengan melemahnya ekonomi sebesar 3,69% di kuartal III.

Menurut forbes sebagaimana dikutip oleh kompas.com indikator dari resesi adalah: Penurunan PDB, Merosotnya pendapatan riil, Jumlah lapangan kerja menurun Penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur. Tentu hal ini akan berdampak pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tentunya akan menurunkan daya masyarakat. Data terakhir yang dikeluarkan oleh kemanaker sebagaimana dilansir oleh detik.com mengatakan bahwa 2,1 juta karyawan kehilangan pekerjaannya akibat pandemi covid 19.

Dari rasio perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan dan dari 2,1 juta pekerja yang harus kehilangan pekerjaannya, boleh jadi salah satu dari mereka adalah wali dari salah satu siswa kita, dan boleh jadi adalah orang yang kita kenal. mereka kehilangan pekerjaan sementara setiap hari harus makan dan ada sekolah yang tetap berbayar di masa pandemi.

Tentu ini adalah pukulan telak bagi mereka. Sehingga tidak mengherankan ada beberapa kalangan yang frustrasi dan sampai mengatakan “sekolah libur (maksudnya daring), tapi SPP tetap jalan” bahkan ada yang mengatakan “ini sekolah jadi masuk tidak? Kalau tidak saya nikahkan saja anak saya!”. Tentu semua itu adalah keprihatinan kita bersama.

Dunia Kesehatan Masih Tertatih

Situasi semakin dipersulit dengan data yang menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan rasio kematian yang cukup tinggi sekitar 3,4% sementara rata-rata rasio kematian akibat berada di angka 2.39%. Rasio kematian akibat covid 19. Indonesia berada pada urutan 17 atau tiga terbawah di kawasan Asia atau terbawah di kawasan ASEAN. Tingginya jumlah kematian tenaga kesehatan di Indonesia juga menjadi mimpi buruk lain harus dialami.

Sebagaimana dilansir oleh detik.com, dari data terakhir yang dihimpun, Sabtu (2/1/2021), total sudah ada 237 dokter dan 15 dokter gigi, dan 171 perawat di Indonesia yang gugur karena COVID-19. ini adalah yang tertinggi di Asia dan 5 besar untuk tingkat dunia, dan harus diingat pandemi masih berlangsung sehingga masih ada potensi peningkatan jumlah angka.

Selain rasio kematian yang tinggi negara ini, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus suspect tertinggi di ASEAN. Tingginya angka tersebut salah satunya dipengaruhi oleh faktor masyarakat Indonesia yang tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sebagaimana disampaikan oleh Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19.

Sedangkan tingginya rasio kematian disebabkan setidaknya oleh tiga hal: Terlambat penangan pasien karena sistem rujukan yang kacau, Lambatnya pemeriksaan hasil uji swab pasien yang diduga terpapar Corona, dan Minim ventilator dibanding jumlah pasien yang membludak. Hal itu telah diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum 2 Pengurus Besar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Slamet Budiarto. Dan tentunya dari setiap kita selalu berharap “cukup sampai disini!”

Benturan Paradigma

Melihat dari berbagai sisi tentu Indonesia seperti sedang dijamu dengan buah simalakama. apapun yang dilakukan akan berefek pada setiap aspek. Sebuah efek yang tidak main-main. Sementara masyarakat juga terus menghadapi kebingungan dimana mereka harus memilih antara ekonomi dan kesehatan, pun demikian dengan siswa yang harus memilih antara pendidikan dan kesehatan.

Di sini penulis rasa setiap dari masyarakat sedang hidup dalam benturan paradigma keilmuan dan harus terbiasa menjalani hidup dalam benturan tersebut sembari menghadapi wabah. Setidaknya ada tiga paradigma yang akan terus mengalami benturan. Mereka adalah paradigma kesehatan yang akan terus memaksa untuk terus berada di rumah dan terus hidup dalam protokol kesehatan bagi masih sayang nyawa.

lalu paradigma ekonomi akan tetap berteriak agar masyarakat tetap bekerja seperti biasa demi menghindari krisis, sementara paradigma pendidikan masih dengan sikap abu-abunya antara tetap di rumah atau berangkat sekolah. Dan pada akhirnya semua dari kita hanya bisa menyerahkan semua pada takdir sambil berbuat semampunya. wallahu a’lam bishawab.

 

Penulis: M. Afin Masrija, S.H.I, Guru MAN 3 Magetan. Dapat dihubungi melalui Instagram Afin Masrija.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.