Dari Hafalan ke Pemahaman Kritis
Di era digital saat ini, kita terus disuguhkan beragam informasi dari media sosial, berita daring, hingga opini yang kadang sulit dibedakan kebenarannya. Akses informasi memang semakin mudah, tetapi kemampuan untuk memahami dan menilai informasi secara kritis masih menjadi tantangan bagi banyak orang.
Banyak dari kita yang masih kesulitan membedakan fakta dari opini, sehingga mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru. Kondisi ini membuat kita semakin menyadari bahwa kemampuan memahami ilmu secara kritis merupakan keterampilan penting dalam kehidupan, khususnya ketika menghadapi derasnya arus informasi modern.
Literasi ilmiah merupakan kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi ilmiah secara bijak; hal ini menjadi bekal penting bagi masyarakat modern.
Rendahnya literasi ilmiah di Indonesia menjadi masalah nyata, terbukti dari hasil evaluasi kemampuan membaca pelajar Indonesia pada studi penilaian internasional menunjukkan bahwa skor mereka masih berada di bawah rata-rata capaian internasional (Muhsyanur dkk., 2024). Ketika kemampuan membaca belum kuat, otomatis kemampuan untuk menganalisis dan menilai informasi ilmiah pun ikut terhambat (Hayail dkk., 2025).
Hal ini menunjukkan bahwa memahami ilmu bukan sekadar mengingat fakta, tetapi juga menafsirkan dan menerapkannya pada berbagai situasi kehidupan.
Cara belajar yang masih berfokus pada hafalan merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya literasi ilmiah. Banyak generasi muda terbiasa mengingat materi untuk ujian tanpa benar-benar memahami makna di baliknya, sehingga proses belajar hanya berjalan satu arah dan kurang memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, mengeksplorasi, maupun berpikir kritis.
Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai akademik serta metode pengajaran yang minim variasi membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar secara mendalam (Hayail dkk., 2025). Kurikulum yang kaku juga berkontribusi terhadap kurangnya kesempatan bagi pelajar untuk mengalami proses pembelajaran yang bermakna.
Untuk menjawab tantangan tersebut, perubahan cara belajar menjadi sangat penting. Pembelajaran sains seharusnya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berbagi pengetahuan dengan baik.
Akses terhadap sumber pengetahuan terpercaya juga perlu diperluas melalui platform digital, buku populer, dan media edukatif yang mudah dijangkau oleh semua orang, sehingga penguatan literasi ilmiah dapat terjadi dimanapun tidak hanya di lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai upaya reformasi pendidikan, seperti sekolah alam, pembelajaran berbasis proyek, homeschooling, hingga Kurikulum Merdeka mulai menumbuhkan kemandirian belajar serta kreativitas peserta didik, sekaligus mengubah kebiasaan belajar yang awalnya mengandalkan hafalan menjadi pembelajaran berbasis pemahaman yang lebih mendalam (Hayail dkk., 2025).
Sebagaimana disampaikan oleh Muhsyanur dkk. (2024), literasi ilmiah merupakan bekal penting bagi masa depan karena membantu individu memahami isu-isu penting, membuat keputusan yang tepat, serta berinovasi untuk menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan yang menumbuhkan pemikiran kritis dan rasa ingin tahu akan mempersiapkan seseorang untuk menghadapi tantangan global, menilai informasi secara objektif, dan turut serta membangun masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, literasi ilmiah bukan hanya tuntutan pendidikan modern, tetapi juga fondasi penting dalam terbentuknya masyarakat yang berpengetahuan dan berkelanjutan.
Penulis: Vira Anjani Miftaullifah, mahasiswi asal Samarinda.