Mon, 24 Jun 2024
Esai / Mar 03, 2024

Kesendirian dan Krisis Identitas

Pernahkah anda ketika ada sesuatu yang viral dan sedang tren, video dengan musik jedag-jedug misalnya, anda tanpa pikir panjang langsung mencoba ikut-ikutan membuatnya?

Atau apakah anda memiliki perasaan cemas dan was was jika ketinggalan tren (fomo) yang ada di media sosial itu? Alhasil, segala tren langsung saja anda ikuti tanpa menimbang-nimbang apa faedahnya. 

Segala isu yang menyertai kehadiran media sosial termasuk fomo menjadi sesuatu yang tak akan pernah basi untuk dibicarakan. Kehadiran media sosial sebagai bentuk kemajuan dari peradaban khususnya dalam hal komunikasi barang tentu sudah merupakan sebuah kepastian. Manusia bersama-sama menembus batas ruang dan waktu. 

Membaca kondisi ini, saya teringat satu kisah perang melegenda dari mitologi Yunani yakni perang Troya. Peperangan ini merupakan peperangan antara Yunani dan Troya. Konon, kota Troya ini memiliki tembok yang sulit ditembus. Menyiasati hal tersebut, Yunani menggunakan strategi tipu muslihat. 

Mereka pura-pura menyerah dan meninggalkan patung kuda besar sebagai tanda pengakuan kekalahan yang diletakkan di depan gerbang kota Troya. Pihak Troya tentu mengira bahwa mereka sudah menang. Patung kuda tersebut dibawa masuk ke dalam kota Troya. 

Tak disangka, di malam hari keluarlah prajurit Yunani yang sedari tadi bersembunyi di dalam patung kuda tersebut lalu membuka pintu gerbang. Masuklah pasukan Yunani yang diam-diam sudah kembali. Alhasil, Kota Troya hancur lebur hanya dalam satu malam. 

Barangkali, kehadiran media sosial layaknya kuda troya tersebut. Seolah-olah merupakan hadiah besar bagi umat manusia. Di dalamnya, tersimpan prajurit-prajurit penghancur autentisitas dan eksistensi diri manusia itu sendiri. Ironisnya, mayoritas manusia khususnya masyarakat tidak mewaspadai akan hal ini. 

Prajurit penghancur itu adalah pandangan dunia yang dibawa media sosial dalam bentuk tren. Tren ini dengan mulusnya merasuk dalam pikiran dan jiwa-jiwa manusia yang tidak waspada. Mereka yang tidak waspada akan benar-benar kehilangan autentisitas dan eksistensi dirinya. Pikiran, tindakan, dan hidupnya hanya berdasarkan tren.

Masyarakat kita terutama generasi yang akrab dengan dunia digital barangkali termasuk dalam golongan mereka yang tidak waspada. Alih-alih berpikir dan menganalisis secara mendalam terlebih dahulu terhadap sebuah tren, mereka justru dengan tergesa-gesa memasuki tren tersebut karena keuntungan yang ditawarkan di dalamnya atau agar tidak dikatakan ketinggalan zaman atau kudet.

Hal ini menjadikan masyarakat kita semakin pragmatis, gerombolan, kehilangan autentisitas dan eksistensi, serta menjadi sekedar pengikut atau budak. 

Eksistensi Palsu dan Perbudakan Tren

Mengutip pernyataan Berdyaev dalam buku Berkenalan dengan Eksistensialisme karya Fuad Hassan (1973), salah satu perkara yang menyebabkan manusia kehilangan eksistensi atau kebebasan eksistensinya terkekang adalah peradaban. Peradaban dalam pemikiran Berdyaev berbeda dengan kebudayaan.

Peradaban menurutnya adalah karya manusia untuk memenuhi tuntutan alamiah yang dihadapinya. Kebudayaan juga sama merupakan karya manusia, tetapi lebih kepada yang berhubungan dengan kebutuhan spiritualnya.

Lebih lanjut, blunder dari manusia menurut Berdyaev adalah peradaban yang seharusnya menjadi wahana untuk menanggapi tuntutan alamiah justru dibalikkan oleh manusia menjadi tujuan dan cita-cita. Alhasil, peradaban sebagai hasil karya atau ciptaan manusia menjadi belenggu bagi dirinya sendiri.

Alih-alih menjadi semakin merdeka, otentik, dan eksis, manusia justru menjadi budak peradaban dan jatuh ke dalam ketidakpastian eksistensial.

Media sosial semula diciptakan manusia atas tuntutan alamiahnya untuk eksis dan dikenal orang lain yang salah satunya melalui jalinan komunikasi. Hadirnya media sosial memungkinkan jalinan komunikasi antar manusia semakin mudah karena batasan ruang dan waktu kian terkikis.

Alhasil, manusia juga lebih mudah eksis, menyatakan siapa dirinya, dan dikenal orang lain. Semua ini adalah bentuk dari apa yang disebut Berdyaev sebagai wahana untuk menanggapi tuntutan alamiah.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Terjadi ketimpangan besar dari mereka yang eksis di media sosial. Hierarki menjadi semakin nyata. Contoh kecil adalah akun instagram centang biru yang biasanya dimiliki oleh para selebritis, konten kreator, influencer, dan orang-orang kenamaan lainnya.

Para golongan atas yang eksis itu dijadikan kiblat oleh mereka yang biasa-biasa saja  di media sosial. Segala keglamoran, kenikmatan, dan kemewahan dijadikan tujuan dan cita-cita oleh mereka yang menjadi budak atau pengikut dari citra yang ditampilkan oleh para golongan atas itu. 

Memang benar, tidak ada salahnya menjadikan mereka sebagai motivasi bagi diri untuk berkembang. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa segala hal yang diekspos di media sosial patut selalu dicurigai telah mengalami pengaburan fakta, didominasi oleh citra, dan penuh dengan ketidakpastian kebenaran.

Hal inilah yang menjadikan kita seharusnya tidak menerima dan mengikuti begitu saja apa yang sedang viral dan menjadi tren dalam media sosial. 

Inilah titik blunder yang dilakukan manusia terutama masyarakat kita dalam menyikapi kehadiran media sosial. Citra yang ada pada media sosial diterima begitu saja lebih parahnya dijadikan cita-cita dan tujuan.

Artinya, terjadi penyamarataan standar hidup dan mereka yang eksis di media sosial tidak pernah benar-benar eksis sebagaimana adanya diri mereka sebenarnya. Golongan atas selalu berusaha untuk menampilkan yang baik-baik, kemewahan, kenikmatan, dan golongan bawah menerimanya begitu saja dan menjadikannya impian untuk merasakan hal yang sama.

Pada titik inilah, mereka berada dalam lembah eksistensi palsu baik golongan atas yang jadi kiblat gaya hidup maupun mereka yang biasa-biasa saja.

Memaknai Kesendirian

Setelah membongkar bahaya eksistensi palsu di dalam tren, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana agar diri kita tidak masuk ke dalam lembah eksistensi palsu itu?

Jawabannya mudah tapi sulit untuk dilakukan; menyendirilah! Kita harus menikmati kesendirian sebagai bagian dari diri kita yang merupakan makhluk individual sekaligus sosial. 

Tentu, resikonya adalah kita akan dianggap ketinggalan tren, kudet, dan berbeda. Ketika orang lain sudah memberi cap seperti itu jelas kita akan sendiri dan kesepian. Akan tetapi hal itu bukan sesuatu untuk ditakuti.

Kesendirian tidak harus selalu dimaknai kesunyian dan kesepian. Menyendiri di sini bukan bermaksud untuk menjadi pribadi yang anti sosial total.

Menyendiri di sini maksudnya adalah kita menepi sejenak dari hiruk pikuk tren yang ada dan lebih banyak menyisihkan waktu untuk berpikir, merenung, dan memahami diri sendiri. Hal ini akan mencegah kita tenggelam terlalu dalam pada kehidupan yang pragmatis yang cenderung berpikir praktis, sempit, dan ikut-ikutan saja.  

Meminjam ungkapan filsuf Nietzsche, “Barang siapa tidak mempunyai dua pertiga waktunya untuk dirinya sendiri, ia adalah seorang budak.”

Ungkapan Nietzsche itu sangat cocok untuk menjadi tamparan keras bagi mereka yang fomo. Mereka menjadi budak tren. Keunikan diri sendiri mereka lenyap karena dilibas oleh penyamarataan di dalam tren.

Kita mestinya hidup berlandaskan kebebasan kehendak, kepercayaan diri, kreativitas, dan tidak mudah terganggu oleh hal lain di luar diri, termasuk tren. Jika tidak demikian, selamanya kita hanya akan jadi budak dan pengikut.

Dengan menyisihkan waktu untuk merenung dan memahami diri sendiri, pada suatu titik kita akan menjumpai eksistensi diri; inilah aku! Eksistensi inilah yang harus kita wujudkan dalam laku hidup yang nyata. Alhasil, kita tidak akan mudah terlibas di dalam tren dan jatuh ke dalam lembah eksistensi palsu.

Akan tetapi perlu dicatat bahwa diri kita sendiri sebagai manusia selalu berkembang dan berubah-ubah. Artinya, eksistensi yang kita jumpai dari hasil perenungan terhadap diri sendiri akan selalu berubah-ubah pula.

Oleh karenanya, memaknai kesendirian untuk melawan eksistensi palsu di dalam tren mengharuskan manusia untuk berulang kali berdiri di depan cermin dan bertanya kepada yang ada di hadapannya, siapa aku?


Penulis: Femas Anggit Wahyu Nugroho, mahasiswa S1 PGSD Universitas Muria Kudus. Suka seni, sastra, dan filsafat. Dapat ditemui melalui instagram @femasn.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.