Mon, 24 Jun 2024
Esai / Dec 25, 2020

Refleksi Atas Kebijakan Nadiem Makarim

Akhir-akhir ini publik, khususnya pemerhati dunia pendidikan dikagetkan dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makharim yang diliput oleh media-media nasional. Dalam sebuah keputusan virtualnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengumumkan agar perguruan tinggi tetap melakukan kuliah Online kecuali ada hal-hal penting yang sifatnya prioritas baru bisa masuk kampus. Kebijakan itu banyak diliput di koran-koran dan media-media massa yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia.

Hemat saya kebijakan yang diambil oleh Nadiem Makharim terlalu buruh-buruh dan tidak melalui tahapan pertimbangan yang matang. Baik itu dari segi ekonomi, sosial, politik, dan culturasi keindonesiaan. Walau saya menganalisis keputusan tersebut ‘mungkin’ dalam rangka menyediakan pendidikan yang lebih modern dan berorientasi pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu dahsyat.

Di tengah abad ke 21 ini dunia pendidikan harus kita akui bersama bahwa tantangan dalam menerjemahkan pendidikan masa depan sangat dibutuhkan oleh kalangan akademik. Tantangan itu adalah kesiapan masyarakat kita dalam menerima kehidupan yang serba visual dan pembelajaran tanpa harus tatap muka (Online) atau biasa kita kenal dengan istilah “belajar dari Rumah”.

Perkembangan kemampuan Nadiem Makharim dalam membaca masa depan perkembangan sains dan ilmu pengetahuan memang pantas ditempatkan dirinya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Tapi saya harus menyatakan secara jujur dan tegas bahwa hal demikian belum mampu diterima sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia. Hal itu saya lihat dengan pertimbangan bahwa masyarakat kita belum mampu menerima sepenuhnya kondisi dimana kita harus melepaskan segala etika sosial dan kemudian dialihkan pada kecerdasan visual atau biasa saya kenal dengan istilah kesadaran sosial kemudian dialihkan pada kecerdasan buatan.

Apa tantangan pendidikan kita?

Sebagaimana yang saya katakan di atas bahwa keputusan Nadiem Makharim selaku menteri pendidikan dan kebudayaan terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang dan culturasi keIndonesiaan. Keputusan itu menurut hemat saya terlalu bersifat ekopol dan tidak memihak pada kepentingan pendidikan khususnya pada mahasiswa yang tidak mampu dalam menanggung beban biaya yang cukup banyak dan mahal.

Membeli kouta, HP android dan membayar SPP, UKT dan BPP yang semakin mahal. Dalam pandangan saya, saya melihat bahwa keputusan Nadiem Makharim bukan keputusan yang mewakili dirinya sebagai seorang menteri pendidikan yang harus mengeluarkan keputusan politik dengan berbagai pertimbangan, mulai dari ekonomi, politik, pendidikan, sampai pada pertimbangan sosial akan tetapi Nadiem Makharim mengambil keputusan lebih pada revolusi IT dan Industrialisasi Pendidikan Ekonomik sebagai dirinya COE Gojek.

Tantangan pendidikan yang sedang kita hadapi sekarang dan mungkin kedepan hadir dalam segala sektor. Maka yang perlu kita kembalikan pada Marwah pendidikan adalah Pertama, pendidikan yang secara jelas harus mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pertimbangan politik kenegaraan kini digeserkan pada pola pembelajaran yang lupa akan esensi dasar lahirnya dunia pendidikan Indonesia kemudian dialihkan pada pembelajar sains dan seolah memburuh masa depan.

Pendidikan seakan diarahkan untuk memikirkan masa depan individu masing-masing. Kedua, sekolah atau kampus yang seharusnya menjadi tempat pengembangan Cultural masyarakat serta menjaga nilai-nilai luhur kebangsaan kini harus pindah tempat seolah tidak ada yang urgen dari setiap perjumpaan. Menteri pendidikan dan kebudayaan bersama perguruan tinggi seakan kaku membaca masa depan persaingan pendidikan berdaya sains modern tapi desain kontemporer tanpa meninggalkan nilai-nilai kebudayaan kebangsaan.

Mulai dari sekolah, kampus, universitas harus menjadi laboratorium pengembangan kecerdasan anak bangsa yang memegang teguh nilai luhur kebangsaan. Itu semua harus diperbincangkan dalam setiap perjumpaan yang dilakukan oleh setiap akademis.

Pendidikan Abad 21

Abad 21 adalah abad dimana manusia dituntun untuk terus melakukan evolusi kehidupan dan dihadapkan pada perkembangan informasi komunikasi yang tak terkendali. Walau revolusi industri ini menuntun banyak hal serta mendorong masyarakat untuk terus berdaya sains serta bersaing untuk tetap bertahan ditengah kehampaan kemampuan manusia.

Pendidikan harus mengambil peran dalam memberikan kesadaran kecerdasan yang bersifat humanis dari waktu ke waktu. Sampai pada hari ini kita harus mengakui bersama bahwa jikalau pengembangan pendidikan abad 21 lebih pada persoalan kecerdasan manusia.

Lantas bagaimana pada seseorang yang cerdas tapi tidak memiliki kesadaran, saya teringat dengan kritikan Paulo Freire seorang Filsuf pendidikan yang mengkritik keras pendidikan yang sangat memenjarakan masa depan manusia. Paulo Freire dengan tegas mengutuk pendidikan yang tidak memberikan kemerdekaan serta kehendak untuk menentukan pilihan.

Pendidikan di Indonesia, sadar atau tidak saya harus menyatakan bahwa Nadiem Makharim telah melupakan misi Pendidikan masa depa bangsa. Nadiem Makharim terlalu flugar dan tidak memikirkan pendidikan yang ada diujung timur Indonesia atau di bagian Utara Kalimantan, perbatasan desa dan diterbitnya sang Fajar.

Nadiem Makharim tidak paham apa tantangan pengambilan keputusannya ditengah kondisi new normal untuk masyarakat Indonesia sekarang ini, saya harus katakan kembali bahwa kondisi negara dan pendidikan sama-sama berada pada tantangan yang sangat ambang batas.

Apabila pengambilan keputusan tidak berpihak pada keberlangsungan kehidupan dan masa depan bangsa maka wajar ketika adanya suatu bentuk pelanggaran etik seolah langkah cerdas dalam mengambil keputusan dalam dunia pendidikan baru.

Hal yang kemudian kita hadapi ini seakan mengarahkan kita pada apa yang dikatakan Yuval Noah Harari sebagai manusia Nilguna atau yang biasa dikenal kaum rebahan. Dalam pandangan Harari bahwa lahirnya manusia Nilguna berawal dari sebuah kebiasaan sikap seseorang dalam berkehidupan yang terlalu liberal dan kemudian melakukan banyak hal demi kepentingan pribadi.

Semoga Menteri pendidikan dan kebudayaan tidak sedang mengarah kan kita pada manusia nilguna atau kaum rebaham yang tidak memikirkan kepentingan bangsa atau ikut terlibat dalam membangun bangsa malah membuat bangsa terbeban dengan kehadiran manusia nilguna atau kaum rebahan.

Pendidikan abad 21 harusnya berorientasi pada pengkakulasian  jangka panjang tentang organik kehidupan manusia dengan semesta yang dibuat dalam sebuah Algoritma Keberlangsungan demi menjaga kehidupan di massa depan.

Untuk Bpk. Nadiem Makharim pendidikan adalah arah jarum Jam yang akan kita tentukan kemana bangsa ini kedepan atau akan jadi apa bangsa ini kedepan? Ketika kita salah mengarahkannya maka lebih dari 1 Dekade pendidikan telah melakukan degradasi, kenapa demikian?

Sebab untuk satu generasi kedepan kita telah menghitung kehancuran bangsa (selama 65-70 tahun usia seseorang) dan Bpk. Telah menghancurkan pendidikan dan kebudayaan selama lima generasi. Lima generasi lamanya atau selama 1 dekade kedepan kita harus berjuang kembali dalam memperbaiki bangsa ini.

Bpk. Nadiem Makharim, di tengah bangsa yang besar kita membutuhkan pemikir yang besar untuk membicarakan masa depan bangsa ini, buang jauh-jauh perkembangan bisnis industrial kehidupan manusia yang anda inginkan mari kita buat manusia yang punya kecerdasan yang penuh kesadaran dengan terus memberikan ruang untuk berinovasi dan berhadapan langsung dengan misterium kehidupan yang fenomenal.

 

Penulis: M. Yusuf, Pendiri LSM PPBM-Makassar. Memiliki motto Hidup adalah Perjuangan, maka jangan mati sebelum ajal menjemputmu.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.