Wed, 28 Feb 2024
Esai / Aug 02, 2023

Sektor Kesehatan di Tahun Politik

Menjelang tahun politik 2024, masyarakat Indonesia sedang ramai-ramainya berbicara terkait persoalan Pemilihan Umum (PEMILU) baik itu pemilihan presiden dan wakil presiden hingga pemilihan anggota legislatif. 

Para politisi yang bercita-cita menjadi wakil rakyat mulai menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat dengan niatan silaturahmi sambil menebar janji manisnya. Pada setiap calon tentunya akan beradu program dan gagasan yang semata-mata untuk kepentingan rakyat. 

Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, para politisi tersebut akan mengeluarkan janji-janji manisnya kepada rakyat. Diantara sekian banyak janji manisnya, para politisi sering mengutarakan setidaknya ada tiga sektor yang menjadi konsen mereka yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. 

Perbaikan kualitas pendidikan dengan biaya terjangkau bahkan terkadang ada yang berjanji pendidikan gratis, pengurangan jumlah angka pengangguran dan pembukaan lapangan kerja yang seluas luasnya hingga janji peningkatan pelayanan Kesehatan. 

Isu kesehatan menjelang pemilu yang menjadi kampanye politik cenderung menjadi isu perifer dibandingkan dengan isu pendidikan dan ekonomi. Isu kesehatan seringkali dipersempit hanya pada kualitas pelayanan kesehatan yang sektoral, padahal penanganan masalah kesehatan hanya bisa dilakukan secara multisektoral, tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas kesehatan. 

Pembangunan kesehatan yang merupakan tuntutan dari SDGs (Sustainable Development Goals) menghendaki pembangunan yang berkelanjutan dan terukur, seharusnya dapat diadopsi dalam visi-misi para calon wakil rakyat. Gagasan visioner dari para politisi berupa penawaran program yang lebih konkrit perlu menjadi perhatian. 

Konsep yang berasaskan empowerment dan community engagement (gotong royong) sebagai modal sosial bangsa Indonesia, harus dimanfaatkan oleh para politisi dalam mendorong program-program kesehatan yang filosofinya berorientasi pada program preventif dan promotif. 

Namun sangat disayangkan, persoalan kesehatan pada muatan kampanye para politisi calon wakil rakyat memang masih terkesan Slogan yang bersifat utopis semata, tanpa disertai substansi yang konkrit.

Hari ini Indonesia sedang menghadapi beban tiga kali lipat berbagai masalah penyakit karena adanya penyakit infeksi new emerging dan re-emerging seperti Covid 19, penyakit Menular belum teratasi dengan baik dan Penyakit Tidak Menular (PTM) cenderung naik setiap tahunnya. Akibatnya dapat dilihat dari porsi pengeluaran anggaran kesehatan Indonesia masih berfokus pada upaya kuratif.

Pasca Indonesia dilanda oleh pandemi covid-19, yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa deretan penyakit lainnya seperti virus PMK, cacar monyet dan gangguan ginjal pada anak. 

Selain berhadapan dengan penyakit menular dan tidak menular yang kasusnya kian hari kian meningkat, Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, menurunnya angka stunting, menurunkannya angka kesakitan HIV/AIDS, Malaria, TBC dan infeksi lainnya. 

Kesenjangan pelayanan kesehatan khususnya untuk wilayah timur Indonesia juga harus diminimalisir. Serta kesejahteraan tenaga kesehatan yang akhir-akhir ini menjadi perhatian terkhusus para tenaga kesehatan yang berada di pelosok.

Menangani dan membangun sektor kesehatan tidak hanya bisa diselesaikan melalui multi sektoral semata tetapi harus dimulai dari hulu ke hilir. Pasalnya, membangun sektor kesehatan tidak mungkin bisa secara eksklusif diklaim sebagai kesuksesan periode pemerintahan tertentu. menjamin keberlanjutan kebijakan pembangunan kesehatan jauh lebih penting. 

Pembangunan sektor kesehatan dengan berasas solidaritas dan gotong-royong sebagai filosofi kebijakan untuk mensejahterakan masyarakat haruslah memiliki relevansi dalam implementasinya di kemudian hari tidak hanya sekedar menjadi jargon dalam kampanye para calon wakil rakyat (katanya). 

Kesadaran bahwa harus ada sinergi antara pembangunan kesehatan dengan pembangunan di aspek lainnya, seperti ekonomi dan pendidikan. Isu kesehatan seharusnya muncul di sektor-sektor ini, namun rupanya ini luput dari perhatian keduanya. 

 

Penulis: Andi Akram Al Qadri, pemuda yang berasal Kabupaten Gowa.

 

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.