Wed, 28 Feb 2024
Puisi / Feb 06, 2024

Berisik

Berisik

Malam menuju dini hari

Ragaku belum juga terlelap

Isi Kepalaku begitu berisik 

kesulitan untuk menghantarkan kantuk

 

Ada apa lagi dengan malam ini?

Apa lagi yang kukhawatirkan?

Pikiran mana lagi yang hanya terbesit di benak namun tidak dapat terlontar melalui lisan?

 

Ayolah

Berikan aku jalan menuju alam mimpi

Aku malu terhadap suara jangkrik yang berdendang di luar ruangan

Keluar mencari kunang-kunang pun tidak memungkinkan

 

Tolonglah

Suasana hati ku cukup tenteram

Mengapa insomnia datang melanda?

Penduduk bumi lainnya di sekelilingku telah menciptakan irama dengkurnya

Mengapa mata ini bahkan kian benderang?

 

Dini hari menuju pagi

Kunyalakan penerang dalam ruangan sederhanaku

Namun isi kepalaku semakin berisik

 

Kubangkitkan raga

Bergerak membuka tirai menuju sebuah ruang yang jua ialah tempat favoritku

Terduduklah aku pada kursi berhadap meja 

Merelaksasi nuansa yang tergeletak di depan mata

Akupun tersadar bukan isi kepala yang semakin berisik

Melainkan musik keroncong di kampung tengah

Rupanya Aku butuh berkunyah

Dan Semua menjadi baik-baik saja

 
*
 
Tempat Menaruh Harap
 

Dia begitu Hebat

Dan apa boleh buat

Aku dibuatnya terpikat


Sendu tertaut rindu

Beradu oleh Raut halu

Adakah Malu patut tersipu


Diantara kicau merdu bisikan angan

Deburan lembut sentuhan angin

Bersatu padu berikan ketenangan

Pejam kedua mata rasakan buaian

Alam semesta ciptaan Tuhan


Kuasanya tak terelakkan

Seluruh elemen dapat Ia kendalikan

Sang hamba tak henti menaruh harapan

Segelintir Permintaan bertubi diajukan


Apa yang tidak dapat Ia beri?

Adakah Ia masih akan selalu peduli? 

Segala rintang pada fana yang kita lalui

Ia Maha Paham atas apa yang kita Ingini


Tenang, Kasihnya tiada terputus

Cintanya tentu begitu tulus

Meski Perjalanan belum tentu selalu mulus

Namun semangat untuk menjadi lebih baik harus tetap kita gas terus

 
*
 
Hujan
 

Hai

Bagaimana rasanya menjadi yang paling dinantikan?

Biar kuberitahu, di negara dua musim 

kau selalu naik daun menjelang penghujung tahun

Kian banyak upaya demi merasakan hadirmu


Penantian yang tak terukur oleh para hamba

Terungkap secara tersirat bahkan tersurat

Sekalipun bumi pertiwi nyaris tercekik sekarat

Namun seakan tekadmu begitu kuat

Bahkan Tak jarang kau diangkat sebagai sebuah topik yang dikambing hitamkan atas ketidaksempunaan sistem di muka bumi

Benarkan kau hanya butuh dimengerti?

Adakah Kau akan datang pada waktu yang tepat?


Waktu kemudian bergerak terus maju

Hingga masa itu pun tiba

penantian akan hadirmu terwujud

Kau datang sesekali, berulang kali, bahkan selalu mengisi kali


Lalu bagaimana kali ini? 

Ingin kuberitahu lagi, kini banyak kegembiraan setelah hadirmu

Rasa Sejuk yang kau beri ialah momentum mengesankan


Namun euforianya tak berlangsung lama

Kau masih jua menjadi sebuah alasan

Wujudmu dalam Pancaroba, genangan, pun badai

Lagi dan lagi kau menjadi alasan atas hambatan yang ada

Oleh orang-orang yang hendak beraktivitas di luaran sana


Nampaknya kau selalu menjadi kambing hitam saat tiada bahkan hadirmu sekalipun

Kini tak perlu kuberitahu bahwa namamu adalah Hujan

Namun bagaimana kabar mu saat ini, Hujan? 

Harapku, kau tetap hadir sebagai perantara manfaat bagi para hamba.

 
 
Penulis: Nurul Septianiperempuan dari daerah Jeneponto, namun saat ini sementara stay dulu di Makassar karena sedang berkuliah di Pascasarjana Teknologi Pendidikan UNM dan dalam masa penyelesaian study di sana.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.