Berisik Heningku
Berisik Heningku
Tawa yang dulu ada
telah berganti irama yang tak bernada,
menyisakan rasa di tengah riuh kepala.
Kini rasa itu bertapa,
entah tercipta atau justru terlupa.
Bahasa tak mampu lagi berbicara;
hanya keheningan yang menyimpan luka.
Entah sampai kapan,
tapi kuharap ia tak menjadi abadi.
Teka-teki yang tak kunjung tertata,
simbol-simbol yang seakan buta,
membentuk puisi yang terasa hampa
dan kebahagiaan yang perlahan sirna.
Dan pada detik yang diam itu,
aku mencari jejak cahaya,
menggenggam sisa-sisa cerita
yang pernah membuatku percaya.
*
Luruh di Sepanjang Jalan
Oleh ombak mengukir kenang,
menciptakan lukisan yang tak abadi.
Luruhan yang tiba di tepi,
tak ada yang mampu untuk kembali.
Dengan tetes gerimis yang perlahan jatuh,
gelap dingin menabur sunyi.
Ditemani selembar tisu,
mempertontonkan harapan yang telah sirna.
Sementara ia di sana,
kini menembang bahagia.
Tak terusik oleh awan hitam di sekitarnya,
dan menutup mata di penghujung jalan.
Di antara langkah yang tertinggal,
kutemukan jejak yang tak pernah hilang —
tentang rindu yang terjaga
di dada semesta yang tak lagi bising.
*
Telah Reda
Sisipan kata merayu tinta,
berulang menjatuhkan air mata—
bukan karena benci,
dan bukan pula karena berharap kembali.
Peluk berpeluh cinta
menyulam kata demi kata;
bahagia dahulu tak pernah jeda,
mendaki reruntuhan tawa yang kini tinggal sisa.
Rerintik perlahan menyapu rindu,
membawa layu yang tersisa di antara semu.
Bunga yang dulu ia beri
masih menyaksikan riang dari balik jendela sepi.
Penulis: Evy Uswatun Hasanah, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Seseorang yang menulis saat kepalanya penuh, entah mikirin nggerjain tugas dulu atau self reward dulu hehe.