Wed, 28 Feb 2024
Puisi / Nov 16, 2023

Celiana

Celiana

/i/

Ibumu memasang seratus kembang api dalam kamarnya. Lalu, ia meminta ayahmu membakarnya. Ayahmu sendiri membakarnya dengan korek gas colongan dari tongkrongannya.

Ketika ayahmu melihat ibumu begitu girang. Ia membuka dua kotak petasan disko dan membakarnya sekaligus—dengan  tangan seribu.

Ruang menjadi kedap-kedip berwarna. Ayah dan ibumu pun, akhirnya berjoget pargoy hingga tak lama kemudian petasan meledak.

Terdengar dari arah pintu teman-temannya berteriak, ”Selamat berojol, Celiana!”

Tiba-tiba suara tangis bayi perempuan pun menggelegar mengimbangi musik DJ TikTok.

/ii/

Tujuh belas tahun lagi kamu tumbuh menjadi bunga.

Ayahmu mulai berkhayal.

Lelaki seperti apa nanti yang mampu memetikmu

dan menyelipkan tangkaimu

ke sela-sela kupingnya.

Lalu kamu membisikkan lembut dua kata

mantra kepadanya,

”Aku mencintaimu.”

 *

 

Berteduh di Bawah Mobil Terbang

Seorang yang katanya datang dari masa depan

berkata padaku,

"Waktu aku hidup di abad ke-22, aku pernah

berteduh di bawah mobil terbang yang sedang parkir,"
celetuknya sambil menepuk-nepuk jas ujan plastiknya
yang ia keluarkan dari jok motornya.

Kemudian ia memberikanku selembar foto polaroid.

Di foto tersebut; aku melihat ia dan beberapa orang lainnya

sedang berteduh di bawah mobil terbang yang sedang parkir.

"Bagaimana?" tanyanya sambil memakai jas ujannya.

Kemudian ia naik ke motor PCX 160-nya.

Beruntungnya ketika ia ingin menarik gasnya

aku sempat menyindirnya,

"Alah paling ini editan. Mana ada orang dari abad ke-22.

Memberikan selembar foto polaroid yang sudah lecek begini."

*

Halte Keranda Biru

untuk mayat-mayat dini hari

yang ingin pulang ke rumah yang sejati

 

Dini hari sejumblah mayat jemu

menunggu keranda biru.

Di halte keranda biru.

jalan alam baka penuh riuh

dengan truk-truk yang berisi

doa-doa permohonan ampun

dari keluarga yang ditinggal pergi.

 

Lampu lalu-lintas silih berganti

--doa diterima, doa tidak diterima.

Hijau-merah, merah-hijau.

 

Baru berapa jam kemudian

sejumlah mayat mendapatkan

jatah keranda yang membawanya

pulang ke rumah yang sejati.

 

”Bagi orang yang sudah mati

menunggu lama keranda

adalah hal paling menjengkelkan,”

celetuk mayat lelaki yang berbadan ceking.

 

Di dalam keranda

sekumpulan mayat

menyebarkan nyiur amis

dari peluh badannya.

 

Ada banyak mereka yang tertidur,

ada yang hanya menatap kosong,

ada yang bermain handphone

karena masih penasaran

kabar kerabat dan sahabatnya di dunia.

 
 
Penulis: Muhammad Ridwan Tri Wibowo, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta. Instagram: @mridwantw

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.